
Ressa kembali ke ruangan Tian lima belas menit sebelum meeting. Membawa laporannya yang sudah mengalami revisi kesekian kali seperti skripsi.
"Harus dikasih pelukan dulu biar bisa kerja dengan benar?" Tian menggoda perempuan yang masih memasang wajah cemberut di depannya.
"Habis ini minta naik gaji. Aku capek sudah sampai hapal isi laporan ini." Omel Ressa yang terlihat lucu di mata Tian.
"Mau naik ranjang juga boleh," Tian mengerlingkan mata.
"Bos mesum!"
"Mau coba hm, belalaiku belum pernah mengecewakan." Tian tertawa kecil. Tanpa segan Ressa memukulkan dokumen di tangannya ke kepala Tian.
"Kamu ini gak ada takutnya sama bos ya. Setelah meeting harus dihukum." Tian maju mengecup pipi kanan dan kiri Ressa, bertepatan dengan pintu ruangan yang terbuka.
"Kalian masih mau lanjut adegan cipika-cipikinya atau mau langsung meeting?" Denis menaikkan sebelah alis menggoda.
Ressa bangkit lebih dulu, sebelum keluar dia sempatkan untuk mencubit dan memelintir pinggang Denis sampai lelaki itu memekik kesakitan.
"Auww, jarinya pedas banget bos! Itu tangan manusia apa tangan kepiting?" Denis berdecak mengelus-elus pinggangnya yang jadi korban.
__ADS_1
Tian tertawa gelak, "rasakan penderitaanku selama ini!" Desisnya lalu pergi menghadiri meeting.
Ressa menggeram kesal, lagi-lagi Tian membuatnya harus lembur. Ada saja alasan bosnya itu untuk menahannya agar tidak bisa pulang tepat waktu.
"Sambil ngopi dulu," Agam membuatkan Ressa segelas kopi.
"Thanks Gam, lo gak pulang?" Ressa menyesap kopi sambil menyelesaikan laporan. Untung Agam menemaninya. Perempuan itu memikirkan rencana terselubung.
"Nungguin lo," ujar Agam sambil main game.
"Mau nolongin gue gak?" Ujar Ressa dengan tatapan memelas, "bikinin gue mie. Laper banget ih, otak gue kebanyakan diporsir."
"Makasih banget," Ressa tersenyum sumringah. "Lo mau, sini gue suapin." Agam mengangguk senang. Perempuan itu tersenyum penuh arti, ia bukan sedang lapar. Tapi ingin melihat Tian kepanasan di dalam sana. Siapa suruh main-main dengannya.
Di dalam ruangannya Tian melemparkan segala benda pada sang asisten. Denis terlihat sangat puas mentertawakan bosnya itu.
"Panggil sekarang, suruh kerja di sini!" Titah Tian.
"Yang ada Ressa gak kerja kalo di sini, cuma lo gangguin."
__ADS_1
"Terus gue harus ngebiarin mereka berduaan di sana sambil suap-suapan. Emang ini restoran." Ujar Tian frustasi, bagai senjata makan tuan. Dia kepanasan karena ulahnya sendiri.
"Lo gak perlu khawatir mereka ngapa-ngapain. Baru juga suap-suapan. Belum sosor-sosoran. Gue baru khawatir kalo Ressa berduaan di sini sama lo, bisa-bisa anak orang langsung hamil," celetuk Denis.
"Buang-buang duit gue bayar lo jadi asisten. Sumpah gak guna!" Umpat Tian kesal, bukannya mencarikan solusi malah membuatnya semakin terpojok.
"Masih banyak perempuan, ngapain ngerepotin diri sendiri dengan fokus pada satu wanita. Nyusahin aja."
"Dengerin lo emang menyesatkan, dasar iblis. Makin lama otak gue makin rusak gara-gara lo." Tian tak berhenti mengumpat, kepalanya serasa sudah ingin meledak.
Denis tertawa terbahak-bahak, "yang sudah jadi malaikat sampai lupa daratan." Sindirnya.
Tian akhirnya tak tahan juga, salah siapa mengawasi dari cctv. Ia menelpon Ressa agar keruangannya.
Perempuan itu berusaha menahan tawa di hadapan Agam saat selesai menjawab telpon.
"Gam, gue ke ruangan bos dulu."
"Hati-hati," ujar Agam seraya mengangguk.
__ADS_1
"Hei, gue gak cuma berduaan, ada Pak Denis di sana." Jelas Ressa agar temannya itu tidak menaruh curiga. Padahal dia sudah tau kalau bosnya itu sering berbuat kurang ajar padanya, tapi Ressa bisa apa.