Aksara Cinta

Aksara Cinta
222. Bonchap 5


__ADS_3

“Mommy,” pekik Deandra. Tadi malam dia pulang duluan bersama sang kakek. Sampai jam dua malam sang mommy belum juga melahirkan. Karena dia pagi-pagi harus sekolah jadilah diboyong paksa untuk pulang. Mommy-nya baru bersalin saat menjelang fajar.


“Ngomongnya pelan-pelan Sayang, jangan suka berteriak. Nanti adek kaget,” tegur Aruna sambil tersenyum mengulurkan tangan pada putrinya.


“Hee, Dea lupa. Kalau ini rumah sakit dan ada adek kecil.” Gadis menginjak remaja itu menyengir kemudian menciumi pipi sang adik.


“Adek Dea sekarang sepasang,” sebut Deandra riang mengelus-elus pipi bayi yang masih merah itu.


“Jadi kakak yang pintar ya Sayang,” Denis mengusap kepala putrinya. Ia tidak membeda-bedakan kasih sayang. Deandra sudah seperti putri kandungnya sendiri.


“Tentu saja Daddy, Dea kan memang pintar.” Katanya dengan bangga, Denis terkekeh geli.


“Istirahat dulu Sayang, kamukan baru pulang sekolah. Tadi malam juga begadang," beritahu sang ayah.


“Nanti dulu Daddy, Dea masih mau menemani adek nih.”


“Adek gak akan langsung bisa jalan hanya kamu tinggal tidur Sayang. Tapi kalau Dea gak istirahat bisa sakit.”


“Daddy ih,” ucap Dea cemberut tapi tetap beranjak ke sofa.


“Putri siapa itu suka sekali merajuk,” goda Denis pada istrinya diikuti tawa kecil.

__ADS_1


“Ini juga putri siapa gak bangun-bangun,” balas Aruna sambil menepuk-nepuk bayi yang berada dalam bedongan.


“Itu putri kita juga Sayang,” Denis duduk di sisi brankar pasien.


“Terimakasih sudah memberikan ku putri lagi.” Ucapnya seraya mengecup kening sang istri, semua tidak terlepas dari mata Deandra.


Gadis remaja itu menghela napas pelan, hatinya jadi semakin rindu dengan Azmi. Dia sudah berusaha melupakan pria dewasa itu, tapi bayangan wajahnya masih saja muncul dalam kepala Deandra. Ia tidak boleh egois membuat daddy-nya kecewa kalau terus memikirkan lelaki itu. Juga tidak ingin mommy-nya tau akan hal ini. Deandra membaringkan badan di sofa, dia harus bersikap seperti biasa. Anggap tidak ada terjadi apa-apa dan bersikaplah untuk selalu ceria. Itu yang selalu ia tanamkan di hati, agar bisa menjalani hari-hari seperti anak remaja kebanyakan.


***


“Sayang, Daddy kangen.” Tian memeluk putrinya yang sudah tiga minggu ini menginap di rumah orang tua Denis. Mereka mengunjungi Aruna yang baru melahirkan ke rumah Denis. Setelah perempuan itu diperbolehkan pulang.


“Cuma Daddy nih yang di kangeni, sama Buba, adek dan nenek enggak?” tanya Ressa seraya mendorong kereta sang putra.


“Buba mau dikangeni juga, hm.” Deandra tertawa kecil berpindah memeluk ibu sambungnya itu.


“Enggak!!” jawab Ressa sewot. “Gak salah lagi,“ Sambungnya kemudian tertawa, perempuan beranak satu itu mengulurkan tangan membalas pelukan Deandra. Setelah puas memeluk Ressa, putri Tian itu beralih pada sang nenek.


“Aku berasa kayak anak orang hilang yang lama gak ketemu keluarga,” kekeh Deandra setelah melepas pelukan sang nenek.


"Kamu emang anak orang hilang Sayang," canda Tian.

__ADS_1


"Dea masih ada di sini Daddy, masih belum hilang ditelan bumi." Jawab Dea sewot sambil mendekati adik laki-lakinya. Baby boy itu menyapa dengan tendangan dan tawa lucu sambil bertepuk tangan riang.


“Hay boy, lama kakak Dea tinggal kamu sudah bisa apa selain menangis dan menendang Daddy yang merebut Mommy darimu?” tanyanya dengan ciuman gemas di kedua pipi sang adik.


“Jangan beri Daddy kesempatan manja-manja sama Mommy oke,” lanjut Dea seraya mengajak Raindra tos.


“Ngasih nasehat adek itu yang benar Sayang, gak boleh gitu. Nggak kasihan sama Daddy apa.” Tian menjauhkan putrinya dari Raindra dengan memasang wajah menyedihkan.


“Enggak,” jawab Deandra dengan tawa diikuti yang lain.


“Nakal ya kamu,” Tian menciumi putrinya gemas. “Mau Daddy pasung, hm. Biar gak nakal lagi!” Seru bapak beranak dua itu sambil tertawa.


"Kalau Daddy tega sih Dea oke-oke aja," jawabnya dengan senyuman menantang seraya mengalungkan tangan di leher sang ayah.


"Daddy sih tega aja," Tian menaik turunkan alis.


"Sudah besar gak boleh gini Sayang, nanti ada yang mikir kamu itu sugar baby." Ucap Tian asal yang mendapat pelototan dari Denis.


"Daddy!! Gak suka banget aku manja-manja." Gadis itu memukuli bahu sang ayah.


"Daddy bercanda Sayang," ujar Tian tertawa kemudian membawa putrinya dalam pelukan kembali.

__ADS_1


__ADS_2