Aksara Cinta

Aksara Cinta
40. Kantor


__ADS_3

"Kalau ketemu teman-teman Uncle, panggilnya apa?" Tanya Tian, sambil menggendong gadis kecil itu keluar dari mobil. Tangan kirinya menjinjing tas perlengkapan bayi.


"Daddy."


"Good girl," puji Tian memberikan kecupan di pipi.


"Apa tempat daddy kerja besar seperti ini juga?" Tanya Erra lugu.


"Of course, Honey. Tempat ini juga milik Daddy Erfan, Daddy kerja biar Erra bisa beli susu, mainan." Jelas Tian lembut, anak kecil itu terlihat takjub melihat bangun di depannya yang begitu banyak orang hilir mudik.


"Bukan cuma itu, Daddy kamu bekerja biar semua orang ini bisa tetap bekerja."


"Daddy is hero?"


"Ya, so Erra gak boleh marah sama daddy dan mommy lagi."


Erra kecil mengangguk, Tian tersenyum bangga. Banyak yang memandangnya dengan tatapan heran. Ia tak mempedulikan itu, membawa Erra masuk lift.


"Uncle, aku mau jalan."


"No, Honey. Kalau jatuh tanganmu tambah parah."


Memandikan pagi tadi saja Tian sudah berusaha keras sampai harus menggunting baju yang dipakai Erra. Belum lagi saat memasangkan baju, anak kecil itu merengek kesakitan. Alhasil Tian harus mencarikan pakaian yang memungkinkan untuk dipakai Erra. Kalau mommy nya tau pasti akan mengamuk lagi. Tian memilihkan dress tanpa lengan yang hanya menggunakan tali.

__ADS_1


"Erra sudah besar gak mungkin jatuh, Uncle."


"Erra ikut uncle, jadi harus nurut. Oke? Mau Uncle antar ke rumah mommy sekarang?"


"Iya, Erra nurut." Gumamnya dengan mata berkaca-kaca. Tian tersenyum kecil, menurunkan Erra saat pintu lift terbuka.


"Jalannya hati-hati," Erra mengangguk berbinar. Tangan kanannya berpegangan erat pada Tian.


"Welcome Honey," Tian membuka pintu ruangannya mempersilahkan Erra masuk lebih dulu.


"Uncle mau kerja dulu, Erra tunggu di sini." Tian mendudukkan Erra ke sofa. Lalu membuatkan susu dan menyiapkan biskuis. Ia letakkan di sofa agar Erra mudah menjangkaunya.


Gadis kecil itu mengangguk dengan kepala bersandar di sofa dan kaki selonjor yang menggantung. Gayanya sudah seperti orang dewasa.


"Hei Uncle Denis, nice to meet you."


Denis mengernyitkan alis. Lama tidak bertemu, anak kecil ini bicaranya sudah sangat lancar.


"Siapa yang mengajarimu bicara seperti orang dewasa?"


"Mommy," jawab Erra ceria. Tian terkekeh kecil mendengar pengakuan Erra.


"Sepertinya Uncle harus mencari istri seperti mommy-mu biar punya anak yang cerdas."

__ADS_1


"Mommy Erra cuma buat Daddy Erfan, Uncle Denis." Tegas Erra dengan bibir yang dimajukan.


"Oh ya, kalau Tante Ressa? Apa Uncle boleh sama Tante Ressa?" Goda Denis sambil melirik Tian yang menatapnya tajam.


"No. Tante Ressa sudah mau punya dedek." Jawab Erra lantang. Sontak Denis melotot pada Tian.


"Nanti gue jelasin," Tian tersenyum kecut. Erra bisa membeberkan aibnya pada semua orang kalau dibiarkan. Pancing sedikit, anak itu langsung berceloteh panjang.


"Uncle temani aku jalan-jalan keluar." Erra menarik-narik tangan Denis.


"Bawa keliling Denis, biar aku yang meeting." Ujar Tian, harus ada yang menjaga anak kecil itu. Jangan sampai Erra membeberkan semua yang dia tau pada karyawan kantor. Mengingat Erra yang penuh rasa ingin tahu.


"Oke bos."


"Erra gak boleh ngomong sama orang sembarangan, oke?" Peringat Tian.


"Yes, Uncle." Jawab Erra dengan wajah cemberut.


"Nice, Uncle meeting dulu. Jangan buat pusing Uncle Denis, nanti kepalanya botak." Tian mengecup kening Erra, gadis kecil itu mengangguk lucu.


"Jangan ajarin Erra bahasa binatang, Denis." Peringatnya sebelum meninggalkan ruangan.


"Bangk$$@@@##" Umpat Denis, yang langsung dibekap Tian.

__ADS_1


"Uncle Denis bisa bahasa binatang?" Tanya Erra lugu, Tian langsung menepuk jidat lalu pergi. Oh Tuhan dia salah bicara.


__ADS_2