
Tepat jam lima Tian bergegas pulang. Istrinya itu sudah membuatnya sangat rindu dan kecanduan. Benar kata Erfan, pulang ke rumah itu bisa menghilangkan lelah kalau sudah menikah.
"Honey."
"Hm," sahut Ressa malas. Tanpa mengalihkan pandangannya dari televisi. Bukannya apa, tubuhnya sedang kurang fit hari ini.
"Suami pulang itu disambut, gak seneng banget lihat suami pulang." Tian mendekati Ressa yang bersandar dengan nyaman di sofa. Mengecup di pipi lalu memeluknya dari samping.
"Aku gak perlu nyiapin kemenyankan buat nyambut kamu," sahut Ressa judes.
"Galak banget kalo belum dikasih jatah." Tian terkekeh kecil sambil mengelus perut Ressa. Perempuan itu mengabaikan suaminya, ia tetap asik menonton televisi dan mengubah sandarannya pada bahu sang suami.
"Sa, panggil aku sayang dong." Pinta Tian sambil bermain injit-injit semut di tangan Ressa.
Perempuan itu seperti tidak terpengaruh, tangan Tian memakin naik sampai di bibir Ressa lalu memberikan satu kecupan di sana.
Karena tidak ada respon Tian kembali bermain main dengan jemarinya dari bibir turun ke leher sampai di dua gundukan. Ressa melotot tajam menyingkirkan tangan Tian. Si empunya terkekeh geli seperti tidak punya dosa.
__ADS_1
"Ngomong dong Sa, jangan diam terus. Kamu mendesah manggil nama aku juga gak papa." Goda Tian bergelayut manja di tangan Ressa, seraya mengendus-endus di leher.
"Tian!" Sentak Ressa geram.
"Capek banget Sa. Cuma mau manja-manja masa gak boleh," ucap Tian sendu.
Ressa menajamkan penciuman saat tubuh Tian semakin menempel padanya. Dia seperti pernah kenal aroma parfum ini.
"Kamu ganti parfum?" Tatapan Ressa menyelidik.
"Kamu masih ingat syarat kita menikahkan? Dan hari ini kamu melanggarnya!" Tegas Ressa langsung beranjak dari sofa. Dia kenal itu parfum yang Audrey gunakan, itu artinya Audrey datang menemui suaminya. Apa yang terjadi sampai wanginya menempel di pakaian Tian. Ressa takut memikirkannya.
Tian menegang di tempat, sejeli itu Ressa mencium aroma parfum yang bukan miliknya.
"Sa, aku bisa jelasin. Audrey yang datang tiba-tiba dan langsung meluk aku. Kamu bisa tanya Denis kalo gak percaya." Jelas Tian langsung menyusul Ressa ke kamar.
"Buat apa aku nanya sama Denis, jelas-jelas dia selalu berpihak sama kamu!" Ucap Ressa dengan intonasi yang sudah meninggi. Badannya yang tadi lemas mendadak lenyap, memikirkan apa yang dilakukan Tian bersama perempuan lain.
__ADS_1
"Please kasih aku kesempatan Sa, percaya sama aku. Aku baru masuk kerja dan gak tau kalau Audrey sudah ada di sana."
"Apa yang bisa aku percaya dari kamu Tian, apa aku harus percaya juga kalau bukan kamu yang menghamili Audrey!"
Lagi-lagi Tian skakmat, "oke. Kamu gak perlu percaya apapun sama aku. Tapi tolong bertahan untuk anak kita, agar dia punya ayah." Mohon Tian, dia tau setelah ini semua akan berubah. Tapi setidaknya ia masih bisa melihat Ressa dan anaknya.
"Dan kamu juga mau bilang, kalau kamu mau menikahi Audrey supaya anaknya juga punya ayah."
Tian menggeleng pelan, "enggak Sa. Aku gak akan nikah sama Audrey." Lirihnya pelan.
"Dahlah, kebanyakan drama bicara sama kamu!" Ressa keluar, membanting pintu kamar. Dia berusaha untuk tidak menangis. Dibawa menangis hidupnya akan semakin terlihat menderita.
Ini takdirnya kan? Neraka pernikahan yang dibuatnya sendiri. Ia akan menjalaninya dengan suka cita. Tidak mungkin dia minta cerai, sedang pernikahannya baru berjalan tiga hari. Pasti ibu akan tertawa bahagia mengetahui deritanya. Jadi dia harus berakting baik-baik saja.
Dalam kamar Tian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Siapa yang memberitahu Ressa kalau Audrey hamil anaknya.
Lelaki itu mengambil rokok lalu membawanya ke teras belakang. Dia ingin menenangkan pikiran sejenak. Membela diri di depan Ressa pun tidak ada gunanya. Karena istrinya itu sudah tidak mempercayainya lagi. Tian menyesap rokok sampai asapnya mengapul. Sejenak, segala permasalahannya ikut membaur di udara.
__ADS_1