Aksara Cinta

Aksara Cinta
134. Amarah


__ADS_3

Pulang dari kantor Extnet Tian langsung ke rumah Aruna setelah mendapat kabar putrinya sakit.


"Ressa tidak ada di sini?" Tanya Tian cemas, memeriksa ponselnya yang ternyata banyak panggilan dari sang istri. Tapi tidak bisa dihubungi kembali.


"Aku terpaksa pulang lebih dulu karena Dea bolak-balik ke toilet, Mas. Jadi Ressa belum pulang ke rumah?" Tanya Aruna, tadi adiknya itu bilang akan langsung menyusul pulang.


"Belum pulang," jawab Tian setelah menghubungi art. Pengawalnya juga malah mengikuti Aruna bukan Ressa.


"Bagaimana keadaan Dea?" Putrinya itu tertidur masih dengan wajah pucat.


"Dea sudah lebih baik, biar aku yang jaga Dea, Mas. Kamu cari Ressa dulu, aku khawatir dia kenapa-kenapa. Harusnya dia sudah lama sampai rumah."


Tian mengangguk, mengecup kening Dea sebelum pergi, "titip Dea. Kabari kalau ada apa-apa."


"Iya, hati-hati." Aruna mengantarkan Tian sampai ke pintu depan.


Tepat saat Tian memarkirkan mobil, Ressa datang diantar Jeri.

__ADS_1


"Terimakasih sudah menemaniku ngopi, Nona." Jeri tersenyum mengambil tangan Ressa dan mengecup di punggung tangan. Gerakan refleks itu membuat Ressa tidak sempat menghindar, karena dia fokus pada Tian yang menatapnya tajam.


Tian yang menyaksikan langsung Jeri mencium tangan Ressa mengepalkan tangan kuat. Ingin sekali dia meninju Jeri sekarang juga kalau tidak ada sang istri di sana.


"Lepaskan istriku, Jeri!!" Teriak Tian dengan darah yang berdesir panas mengisi penuh otaknya. Ressa langsung menarik tangannya dan mendekati Tian.


"Apa Nona cantik ini istrimu, Tian?" Tanya Jeri dengan senyuman mengejek, "sudah sepantasnya aku mengucapkan terimakasih padamu juga atas waktu luang yang diberikannya untukku." Lanjutnya, sengaja memancing kemarahan Tian.


"Masuk!!" Ucap Tian dingin pada Ressa, perempuan itu masuk dengan wajah lemas. Dia akan bersiap menerima kemarahan Tian setelah ini.


"Omong kosong Jeri, jangan pernah sentuh istriku lagi atau kau akan jadi gembel!!" Peringat Tian sebelum meninggalkan lelaki yang tersenyum menantang padanya. Seolah berkata, "lakukan saja, aku tidak takut."


Perempuan itu hanya diam meletakkan tas dan mencuci tangan ke kamar mandi.


"Kau senang membantahku, aku tidak suka perempuan pembangkang yang suka membantah, Ressa!" Serang Tian, laki-laki itu sudah seperti kerasukan. Sorot mata merahnya memindai Ressa dengan tajam.


Ressa masih diam, saat ini Tian sedang emosi. Percuma kalau dia membela diri, padahal dia sudah berusaha menghubungi Tian tadi sore.

__ADS_1


"Coba belajar seperti Aruna yang penurut dan tidak banyak tingkah!! Jangan kau pikir karena aku mencintaimu, kau bisa berbuat seenaknya." Sebut Tian murka.


Ressa tersenyum miris, kalimat yang keluar dari mulut Tian itu menyentil hatinya menimbulkan nyeri. "Ya, aku memang bukan Aru, Tian. Sudah sedari awal aku katakan jangan pernah bandingkan aku dengan Aruna. Karena aku bukan Aruna mantan istrimu yang penurut itu. Yang bisa menjaga anakmu dengan baik, aku bukan dia." Ucap Ressa dengan suara rendah, beranjak dari ranjang.


"Jangan keluar dari kamar ini!!" Peringat Tian saat Ressa ingin meninggalkan kamar.


"Aku sudah terlanjur jadi pembangkang, Tian." Ressa tetap bersikeras meninggalkan kamar tapi Tian tidak tinggal diam. Menarik Ressa dengan kasar dan menghempaskannya di tempat tidur.


Wanita itu sampai meringis menahan sakit dari kuatnya cengkraman tangan Tian. Dan terkejut saat Tian membanting tubuhnya. Belum pernah ia diperlakukan dengan kasar seperti ini.


"Apa aku ini terlalu lemah bagimu. Sampai kau berani melawanku, Ressa." Tian menarik jilbab Ressa dengan kasar dan menyobek-menyobek pakaiannya. "Silahkan pergi puaskan lelakimu itu, kalau kau ingin pergi dengan keadaan seperti ini." Sarkas Tian.


Dia sangat benci melihat miliknya disentuh Jeri. Belum cukupkah semua yang dimilikinya direbut lelaki itu.


Ressa menarik selimut meringkuk di atas tempat tidur. Tidak ada air mata yang keluar, dia tidak ingin terlihat lemah. Hanya lututnya saat ini yang terasa lemas saat Tian dengan tega mengatakan seperti itu.


Kenapa Tian menghakiminya, tanpa memberinya kesempatan untuknya bercerita. Semua bisa dibicarakan baik tanpa perlu dengan kekerasan.

__ADS_1


"Apa aku pernah memuaskan lelaki lain selain dirimu, Tian. Harusnya itu kamu katakan untuk dirimu sendiri." Gumam Ressa pelan lalu memejamkan mata meski perutnya sangat lapar. Bersama Jeri tadi dia tidak menyentuh apapun.


__ADS_2