
"Agam jangan gila!!" Teriak Ressa dengan air mata ketakutan. "Lo bisa dapatin perempuan yang lebih dari gue. Jangan lakuin, please!" Mohonnya, pada lelaki yang menatapnya buas.
"Gue sudah susah payah menculik lo, jadi tidak akan mungkin lo gue lepas begitu saja." Agam menyeringai devil, "suami lo itu terlalu possesif sampai gue sangat susah mencari waktu yang tepat seperti hari ini." Jelasnya sambil memain-mainkan rambut Ressa.
"Lakukan apapun yang ingin lo lakukan, tapi lepasin dulu ini, sakiiiit." Rengek Ressa manja, kalau dengan berteriak tidak bisa mebuat dirinya lepas dari Agam. Maka ia harus mengubah taktiknya.
"Lo mau kabur dari gue?" Agam tersenyum miring.
"Beneran sakit, coba lihat ini merah." Ressa menunjukkan tangannya pada Agam.
"Lo gak mungkin cerobohkan, pasti rumah ini sudah lo kasih penjagaan ketat. Mana bisa gue kabur." Lanjutnya meyakinkan Agam. Setidaknya ia lepas dulu, masalah kabur biar dipikirkan nanti.
Agam nampak menimbang-nimbang, lalu melepaskan ikatan di tangan dan kaki Ressa.
"Terimakasih," ucap Ressa tersenyum manis berharap Agam pergi dari kamar itu. "Boleh minta air, haus, lapar juga." Katanya sambil menyengir.
"Mau makan apa?"
__ADS_1
"Apa aja yang penting ada nasinya," pinta Ressa menjadi-jadi.
Seperginya Agam ia mencari-cari sesuatu yang bisa digunakan untuk kabur. Ressa mengunci pintu kamar dari dalam.
"Semoga ada ponsel butut di kamar ini," batin Ressa. Sungguh harapan yang ketinggian. Ressa membuka setiap laci, matanya berbinar cerah melihat ponsel Agam di dalam sana.
"Alhamdulillah," gumamnya senang. Ressa langsung mengirim pesan pada Tian dan menghapusnya.
"Sa, kenapa di kunci?" Teriak Agam dari luar. Ressa dengan cepat mengembalikan ponsel Agam ke laci dan membuka pintu.
"Gue cari baju buat ganti, tapi gak ketemu." Katanya dengan wajah cemberut, "mau mandi, gerah banget."
Ressa mengangguk lega, Agam tidak curiga padanya. Berharap Tian mengerti maksud pesan yang ia kirim dan segera menemukan keberadaannya.
Perempuan itu makan dengan lahap karena benar-benar lapar sampai Agam kembali membawakan pakaian ganti untuknya.
"Pakai ini, lo harus jadi milik gue malam ini." Agam melemparkan pakaian ke tempat tidur.
__ADS_1
Ressa mengangguk pelan dalam hatinya meringis.
"Gila, mana mungkin aku menggunakan lingeri ini di depan Agam."
"Lo keluar dulu, gue mau mandi, boleh?" Ujar Ressa manis, ah dia harus menjilat dulu sampai Tian datang.
"Jangan pernah berpikir untuk kabur, Ressa!!" Peringat Agam, Ressa langsung cemberut berjalan ke arah jendela, menoleh ke bawah.
"Ini lantai tiga. Gue punya nyawa cuma satu, kalau jatuh dari sini langsung mati. Gue gak senekat di adegan sinetron, Agam. Lagian gue ini phobia ketinggian," jelas Ressa. Dia memang ingin kabur dari sini tapi memilih cara melewati jendela, itu tidak ada dalam isi kepalanya.
"Tiga puluh menit lagi gue kembali, cukup?" Tanyanya seraya berjalan ke arah meja mengambil ponsel dalam laci. Saking bahagianya bisa menculik Ressa ia jadi lupa meletakkan ponsel sembarangan.
"Cukup," sahut Ressa diikuti anggukan.
"Semoga Tian tidak membalas pesan yang kukirim," batinnya cemas.
"Habiskan makannya," Agam menepuk kepala Ressa dengan lembut.
__ADS_1
Huuhh, Ressa menghela napas lega setelah Agam meninggalkan kamar. Pintu dikunci dari luar.
"Kamu dimana Tian? Jemput aku sekarang," jerit Ressa frustasi. Ia hanya punya waktu setengah jam, setelah itu tidak tau bagaimana cara agar bisa kabur dari Agam.