
"Aku gak mau menikah dengan Tian, Sa." Aruna memegang kedua tangan Ressa, mereka duduk di gazebo samping rumah Erfan.
"Kenapa, bukannya kamu bilang akan mudah jatuh cinta dengannya. Katamu Tian yang sekarang berbeda, pasti dia lebih mempesonakan?" Tanya Ressa menggoda.
Ressa tertegun, saudara tirinya ini lebih segala-galanya darinya. Beruntung mendapatkan cinta Tian yang masih belum mengenal perempuan manapun. Sedang dia, hanya mendapatkan sisa-sisa orang lain. Perempuan hamil itu menarik napas pelan.
"Pura-pura bodoh saja terus di depan kakakmu ini!" Aruna berdecak mencubit tangan Ressa karena kesal.
Ressa terkekeh geli, "ngomong apa sih. Aku beneran gak ngerti Aru. Lagian kamu yang aneh bilangnya suka tapi menolak diajak nikah. Jangan sampai menyesal dua kali. Konon katanya kesempatan tidak akan datang tiga kali."
"Kamu pikir aku gak tau, kamu cerai dengan Tian demi aku, Ressa. Bahkan kalian baru satu minggu menikah."
Wanita hamil itu tersenyum lebar, "justru baru satu minggu itu jadi tidak terlalu berarti buat aku. Jangan terlalu lebay deh."
Aruna benar-benar gemas dengan adiknya ini. Ia menjewer kuat telinga Ressa. "Bodoh dipelihara ya ini!" Pekiknya kesal.
"Aru, lepaskan!" Ucap Tian dingin, dia sedari tadi mengamati perbincangan dua wanita itu.
__ADS_1
Aruna yang mendapat tatapan tajam Tian segera melepaskan tangannya. Sedang Ressa berdiri kikuk di depan sang mantan suami.
"Sakit?" Tanya Tian lembut mengelus telinga Ressa yang memerah.
"Enggak kok," Ressa menepis tangan Tian lalu menjauh dari sana.
"Jangan sentuh Ressa, Aru. Aku tidak akan segan-segan mematahkan tangan orang yang menyakiti kesayanganku." Ucap Tian datar, lalu meninggalkan Aruna.
Aruna sampai menahan napas hingga Tian berlalu pergi. Kenapa laki-laki itu jadi sangat mengerikan tidak selembut dulu dan saat bersama anaknya.
Ressa menghentikan langkah kakinya lalu membalikkan badan, "berhenti memanggilku dengan sebutan itu Tian! Dan jangan bersikap sok perhatian padaku."
"Kenapa jadi galak banget, hm." Tian tersenyum kecil semakin mendekati Ressa, merengkuh tubuh itu erat. "Kangen banget, beberapa minggu gak ketemu kamu. Anak kita sehat, Sayang?"
"Tian, jaga sikap kamu. Kita sudah bukan suami istri lagi. Kalau anak kita lahir kamu bisa memeluk sepuasnya nanti."
"Aku pengennya peluk kamu saat ini, Honey." Tian memejamkan mata, melepaskan rindu yang membuncah di dadanya. "Aku sudah ketemu keluarga kamu tadi, ibu baik padaku. Aku jadi heran, kenapa ibu bisa bersikap begitu."
__ADS_1
Ressa tersenyum memutar badan, menatap netra teduh Tian, "jangan heran, nanti bikin kamu penasaran. Lepas gih, nanti ada yang lihat."
Tian menggeleng lalu tersenyum, "aku pengen bawa kamu ke kamar. Gak bisa pisah, udah lengket nih."
"Katanya mau berubah, masa kita mau mengulang kesalahan yang sama." Ressa meletakkan kepalanya di dada Tian.
"Gak ngapa-ngapain, meluk kamu sambil rebahan aja Sayang melepas kangen." Rayu Tian, dia sangat merindukan perempuannya ini.
"Hm, emang meluk termasuk gak ngapa-ngapain. Udah, mending kita gak usah ketemu dulu. Kamu gak bisa ngendaliin diri gini."
"Sayang, jangan siksa aku please."
Ressa mengernyit lalu tersenyum, "maaf Tian kita bukan siapa-siapa. Itu calon istri kamu." Tunjuknya ke arah Aruna yang pasti melihat apa yang mereka lakukan.
"Oke, istirahat yang cukup. Jangan lupa makan, minum susu dan vitamin. Kalau kangen video call." Tian mengecup kening, mata, hidung, pipi, dagu dan berakhir di bibir Ressa. Baru lelaki itu melepaskan pelukannya dan tersenyum tanpa dosa.
"I love you, Honey." Teriak Tian sambil tersenyum melambaikan tangan pada Ressa yang mulai menjauh tanpa mempedulikan Aruna yang tak lepas memperhatikannya.
__ADS_1