
Gadis kecil itu berlari keluar mencari Tian, saat Ressa tidak berhenti muntah-muntah. Tangisnya pecah ketika berhasil membuka pintu.
"Uncle!"
"Hei, hei. Kenapa?" Tanya Tian membawa Erra dalam gendongannya.
"Tante muntah-muntah!" Tangis Erra semakin menjadi.
"It's oke. Jangan menangis." Tian mengusap pipi Erra, lalu masuk mencari Ressa. Netranya menangkap Ressa yang sedang muntah di wastafel.
Tangan kanan Tian terulur memijat tengkuk Ressa tanpa bersuara. Perempuan itu limbung karena tubuhnya lemas. Dengan gerakan cepat Tian menahan tubuh Ressa.
Ia menurunkan Erra di atas wastafel, "Erra telpon mommy," katanya memberikan ponsel pada gadis kecil itu lalu mengangkat Ressa ke kamar dan menurunkannya pelan di tempat tidur.
Lelaki itu mengambil minyak kayu putih yang ada di atas nakas lalu membaluri kaki Ressa kemudian berpindah ke tangan dan leher. Ressa yang lemah tidak dapat protes, sentuhan Tian memang membuatnya lebih tenang.
"Erra kamu tinggalin di dapur," ucap Ressa pelan. Tian bergegas lari ke dapur, dia sampai melupakan gadis kecil itu.
"Bisa telepon mommy?"
"Of course, Uncle."
"Good girl," Tian menyimpan ponselnya lalu menggendong Erra ke kamar. Membiarkan gadis kecil itu menemani Ressa.
__ADS_1
Ia duduk di sofa sambil memperhatikan interaksi keduanya. Ressa sudah tidak muntah-muntah lagi, kenapa otaknya kembali berpikir tentang kehamilan.
Bagaimana kalau Ressa benar-benar hamil? Dia akan memiliki dua anak sekaligus dari dua wanita berbeda. Tapi dia tidak mungkin menikahi keduanya. Tian memijat pelipisnya yang berdenyut. Bertepatan suara bel berbunyi, ia membuka pintu. Erfan dan Hira yang datang.
"Ressa kenapa?" Tanya Hira panik.
"Muntah-muntah, mungkin masuk angin. Coba kamu periksa dulu." Ujar Tian mengabaikan pikirannya yang terus mengatakan kalau Ressa hamil. Ia duduk di sisi tempat tidur, membawa Erra dalam pangkuannya.
Hira mendekati sahabatnya, banyak pertanyaan yang ada di dalam benaknya. Ia mengeluarkan stetoskop di dalam tas yang dibawanya dan melakukan pemeriksaan.
Erra tak berkedip menatap apa yang dilakukan sang mommy. Gadis kecil itu tidak tau kalau ibunya seorang dokter kandungan.
"Ressa hamil," gumam Hira. Ia menatap nyalang tiga orang dewasa di kamar itu bergantian.
Sementara Ressa, hanya bisa mematung. Apa yang diucapkan Erfan jadi kenyataan. Mungkinkah dia membiarkan bayi dalam kandungannya ini yang menanggung semua akibat dari kesalahannya.
"Kamu tau?" Hira bangkit dari sisi tempat tidur menatap nanar sang suami. Suasana di sana sudah menegangkan, Erfan hanya bisa mengangguk lemah.
"Kenapa kamu diam, Bee."
"Sweety!" Erfan memeluk istrinya erat, apa yang dia takutkan akhirnya terjadi. Dua orang itu benar-benar hamil. Dan yang mengamuk malah istrinya.
"Aku bisa apa kalau meraka melakukannya tanpa keterpaksaan, Sayang." Lirih Erfan pelan.
__ADS_1
"Erra, pulang!" Hira menarik paksa tangan Erra yang berada dalam pelukan Tian.
"No, Mommy. Erra mau nemenin tante di sini." Katanya sambil meringis, menarik paksa tangannya yang sakit karena di tarik sang mommy.
"Listen to me, Erra. Go to home!" Bentak Hira, gadis kecil itu menangis ketakuan dengan kemarahan ibunya.
"Hei, Erra gak salah. Kenapa kamu lampiasin sama putri kita." Erfan menenangkan istrinya yang terlampau emosi.
Ressa bangun membawa Erra yang menangis ketakutan dalam pelukan. Tian tidak berucap sepatah katapun, karena sadar dirinya yang menyebabkan masalah.
"Erra pulang sama mommy ya, Sayang." Bujuk Ressa, gadis kecil itu menggeleng takut. Sambil mengusap tangan kirinya yang masih terasa sakit.
"Kamu membuat Erra ketakutan, Sweety. Ingat gimana susahnya kita dapetin Erra." Erfan membawa Hira duduk di sofa ruang tamu.
"Bawa Erra pulang, aku tunggu di mobil." Erfan mengangguk, istrinya sedang tidak bisa dibantah.
"Erra pulang sama Daddy, Sayang." Erfan berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan sang putri.
"Aku mau di sini," kekeuh Erra.
"Erra sayang sama Daddy kan?" Erfan sangat tau apa kelemahan putrinya ini, seperti dia mengetahui kelemahan sang istri. Kepala mungil itu mengangguk.
"Kalau sayang, ikut Daddy pulang." Bujuk Erfan, gadis kecil itu lagi-lagi mengangguk. Erfan tersenyum mengecup kening putrinya. Tanpa tau kalau Erra sedang berusaha menyembunyikan rasa sakit di tangan.
__ADS_1