
Ressa masuk ke ruangan sang bos, Tian sedang sibuk dengan berkas-berkasnya. "Kenapa menghindar, hm?" Tanyanya tanpa mengalihkan pandangan.
"Kapan?" Sahut Ressa, pura-pura tidak mengerti kemana arah pembicaraan Tian.
"Apa kamu mau pura-pura tidak ingat juga dengan apa yang sudah terjadi diantara kita. Mau aku ingatkan, hm." Goda Tian sambil tersenyum sangat tipis.
"Aku mau ngelarang kamu buat dekat sama laki-laki lain tapi aku tidak punya hak apapun," lanjutnya seraya memperhatikan ekspresi Ressa yang gelisah.
"Bicaranya sudah?" Ressa mengangkat alis seolah ucapan sang bos tidak berpengaruh padanya.
"Belum, aku mau mengulang bicara sama kamu di tempat tidur." Ucap Tian yang sukses membuat wajah Ressa bersemu merah. Perempuan itu memalingkan wajah salah tingkah.
"Diantara kita tidak ada apapun, tolong bersikap profesional!" Tegas Ressa.
Lelaki itu terkekeh geli tidak berhenti menggoda sekretarisnya. "Kalau dalam rahimmu ada calon anak kita bagaimana?"
Ressa membulatkan mata, tidak. Itu tidak akan pernah terjadi. Dia tidak ingin mengandung anak Tian.
"Aku tidak akan hamil, jangan terlalu percaya diri dengan belalaimu itu." Ressa tersenyum miring.
Tian mengulum senyum, "belalai ini yang bikin kamu mendesah keenakan." Bisiknya dengan kepala yang condong ke arah Ressa. Napas mereka saling beradu dengan posisi yang begitu dekat. Ressa tidak bergerak di tempat, wajahnya lagi-lagi bersemu merah. Kenapa Tian harus berulang-ulang mengingatkan hal itu.
"Masih ingat rasanya Honey, apa ingin mengulang lagi." Tian menggigit pelan telinga Ressa sambil menyeringai licik.
__ADS_1
Ressa merasakan bulu kuduknya meremang. Sungguh keterlaluan bosnya yang satu ini.
"Tian!" Geram Ressa.
"Yes Honey. Aku suka kamu mendesah memanggil namaku di atas tempat tidur," sahut Tian usil.
Ressa memutar bola mata jengah, "dasar bos mesum!"
"Tapi sukakan?" Katanya sambil menoel dagu Ressa.
Ressa berdiri lalu mencondongkan tubuhnya mendekati Tian, "aku lebih suka lagi kalau belalaimu itu dipotong!" Sarkasnya kemudian meninggalkan Tian yang tertawa gelak.
"Belalai ini akan membuatmu ketagihan, Honey!"
"Ampun!" Tian mengangkat kedua tangannya masih tertawa. Dia tidak akan melepaskan Ressa begitu saja. Lihat nanti, ia akan menjerat perempuan itu dengan segala pesonanya.
Ressa keluar dari ruangan sang bos dengan pipi memerah seperti udang rebus. Bekerja dengan Tian bisa membuatnya gila.
"Lo kenapa?" Tegur Amel.
"Hah, gue?" Ressa menunjuk dirinya bingung.
"Pipi lo kenapa?" Tanya Amel lebih jelas.
__ADS_1
"Oh ini. Salah pake blush on," jawab Ressa asal. Sialan Tian sudah membuatnya malu. Bagaimana kalau sampai mereka tau dia punya hubungan dengan Tian, pasti akan heboh seantero jagat raya.
"Lo gak diapa-apain kan di dalam?" Tanya Agam khawatir.
"Lo khawatir banget gue diapa-apain di dalam. Bos itu bukan buaya." Ressa geleng-geleng kepala, bos memang bukan buaya, lebih tepatnya singa lapar.
"Lo belum tau aja siapa dia?" Ujar Agam.
"Oh ya." Ressa malas menanggapi kekhawatiran Agam. Kalau di sini ada yang lebih tau tentang Tian, si bos mesum yang gila itu adalah dia orangnya.
"Gue serius khawatir sama lo Ressa!" Tegas Agam menahan tangan Ressa yang ingin melarikan diri darinya.
"Kita dilihat banyak orang Agam, jaga sikap kamu!" Desis Ressa menghempaskan tangan Agam.
Dalam ruangannya Tian menyorot tajam layar cctv. Berani sekali lelaki itu menyentuh miliknya.
"Sudahlah, berhenti mengamati mereka. Lo menyakiti diri sendiri." Denis menepuk bahu sahabatnya. "Cuma ada dua cara, lumpuhkan atau lupakan. Tidak ada galau-galauan dalam kamus hidup seorang Tian."
"Dia milikku Denis, hanya milikku sampai kapanpun." Tegas Tian tidak main-main, sampai dia menghentikan semua kebiasaannya hanya demi Ressa. Apa itu semua tidak berarti.
...💥💥💥...
Hai baca juga cerita aku yang lain ya, semoga suka. Semua sudah tamat. Jangan lupa like, komen dan votenya. Terimakasih sudah mampir 😊
__ADS_1