Aksara Cinta

Aksara Cinta
61. Tidur di luar


__ADS_3

"Tian kamu mau ngapain?" Ressa melongo melihat suaminya pulang diikuti beberapa mobil pick-up yang membawa perabotan rumah baru. Dari sofa, lemari, spring bed, dan lain-lain semua diangkut.


"Rumah ini kecil Tian, kalau mau pisah ranjang gak pake acara bagi dua rumah ini juga kali." Katanya diikuti dengusan kecil.


Tian menggeleng pelan dengan pemikiran istrinya itu, siapa yang mau pisah ranjang. Kalau perlu cukup punya ranjang kecil saja agar bisa tidur sambil menempel.


Mungkin karena itu keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi bisa sangat harmonis. Karena ruang sempit membuat mereka selalu bersama. Walau banyak juga keluarga yang karena keterbatasan ekonomi jadi berantakan. Semua yang ada di dunia ini tidak ada rumus mutlak seperti yang kaya selalu bahagia atau yang miskin akan sengsara.


"Sementara kita akan tinggal di sini Honey, aku akan menjadikannya layak disebut rumah." Tian merangkul istrinya masuk ke dalam, meminta para pekerja membawa masuk barang-barang yang dibelinya dan mengganti semua perabotan lama.


"Ini sudah layak disebut rumah. Kamu pikir selama ini kita main rumah-rumahan." Ressa mencubit kesal pinggang suaminya. "Aku baru bayar kontrakan tiga bulan, Tian. Kamu bisa beli rumah yang lain jangan rumah ini kalau mau menetap. Sana tinggal sendiri."


"Ini rumahku Sa, terserah mau aku apakan. Aku tidak butuh izin darimu," Tian tersenyum smirk melihat kekesalan istrinya yang semakin terlihat lucu.


"Anda memang kaya Tuan, tapi tidak semua rumah milik Anda." Tekan Ressa dengan wajah jengkel, suami mesumnya ini sangat semena-mena. Mau ditaroh di mana semua perabotan, rumahnya jadi tidak bisa bernapas.

__ADS_1


"Ini rumahku Honey, sertifikatnya ada di lemari." Ujar Tian lagi dengan santai sambil mengatur para pekerja menyusun perabotan agar terlihat lebih rapi dan luas.


"Hah, rumah pun aku ngontrak sama kamu?"


Tian mengangguk kecil, memberikan kunci mobil milik Ressa. "Kunci mobil kamu Sayang, apa mau ganti mobil sekalian, hm? Cicilannya sudah aku lunasin."


"Gak ada gunanya ternyata aku kabur dari kamu." Ucap Ressa cemberut, dahlah dia tidak akan pernah bisa menang kalau mendebat Tian.


"Makanya jangan berani-berani kabur lagi, Honey. Selama tiga tahun ini kamu dilindungi Erfan makanya aku tidak bisa menemukanmu. Tapi sekarang kamu di bawah pengawasanku, hm. Gak akan lepas lagi." Tian tersenyum kecil mengecup pipi Ressa.


"Horang kaya, BEBAS!" Sindir Ressa.


"Karena di sini cuma ada kamar dua, kayaknya kita cari art yang gak nginap aja, Honey. Gak enak kalau ada orang lain di rumah. Aku gak bisa bebas ngapa-ngapain kamu."


Ressa melirik kesal suaminya, "malam ini tidur di luar!" Ujarnya sambil mencubit gemas pipi Tian.

__ADS_1


"Aku salah apa, Sayang. Jangan dihukum tidur di luar. Banyak nyamuk nakal." Tian memelas, "debu Honey, kita tunggu di luar." Lekas Tian membawa istrinya ke luar rumah saat para pekerja mengeluarkan perabotan lama di rumah itu.


"Barang-barangku yang lama mau dikemanain, Tian."


"Kembalikan ke apartemen kamu aja ya, Sayang. Kuncinya sudah aku kasih Denis, biar dia yang urus."


"Suka-suka kamu ajalah," rengut Ressa. Dia tidak perlu bertanyakan kenapa kunci apartemennya ada pada Tian kan. Sudah pasti Tian yang membelinya.


"Cantiknya ibu dedek kalau lagi cemberut gini, hm." Goda Tian sambil membawa Ressa berkeliling di sekitar rumah mereka. "Cemberutnya ini yang ngangenin."


"Gombal terus sampai lusuh!"


Tian terkekeh geli, "digodain gak mau. Nanti kalau aku godain perempuan lain ngamuk." Usilnya, sengaja memancing singa betina.


Ressa menghentikan langkah, tersenyum sangat manis padsa Tian. Si empunya mengangkat sebelah alis, menunggu maklumat sang istri dengan mengulum senyum.

__ADS_1


"Hm, fix malam ini ayah dedek tidur di luar ya." Ujar Ressa dengan suara yang dilembut-lembutkan lalu masuk ke rumah lewat pintu belakang.


Tian membulatkan mata, ia berharap mendapat celotehan Ressa bukan dihukum tidur di luar. Kan jadi nelangsa, tidak ada yang bisa dipeluk manja.


__ADS_2