Aksara Cinta

Aksara Cinta
205. Kebahagiaan


__ADS_3

"Sayang," panggil Ressa dengan suara mendayu-dayu.


"Yes Honey," Tian melirik istrinya yang ingin di manja. Ia meletakkan laptop di pangkuannya ke atas nakas. "Mau apa, hm." Goda Tian dengan menaik turunkan alis.


"Mau di elus-elus," jawab Ressa manja. Semenjak ketahuan kalau hamil, dia jadi ingin terus dimanja suaminya ini.


"Hm, apa nih yang mau di elus." Tian melabuhkan tangannya di perut Ressa mengusap-usap di sana. Usia kandungannya hampir tiga bulan. Tapi perubahan tubuh Ressa tidak signifikan.


Ressa mengkerutkan hidung sambil menggeleng lucu, membuat Tian tertawa. "Siapa sih yang manja ini, dedek atau Mommy. Biasanya senggol bacok."


"Ih Mas berlebihan deh, mana ada aku senggol bacok. Kalau gitu gak akan bisa kecebongmu itu masuk sini!" Sarkas Ressa yang membuat Tian semakin tertawa geli.


"Sadis banget bilangnya kecebong, Honey. Itu tuh bibit unggulku." Ucap Tian seraya memberikan apa yang istrinya mau. Sampai suara-suara manja terdengar di telinganya. "Kalau gak ada bibit unggul itu kamu gak akan bisa menggelembung."


"Iih, emang aku ini balon. Jahat banget!!"


Tian tersenyum, "kamu kesayangan aku, Honey."


"Mas, Dea cerita kalau di elus-elus gitu dia jadi gak mau pisah dari Om. Apa dia sudah bisa merasakan seperti apa yang kurasakan ini." Ucap Ressa di tengah deru napasnya yang naik turun dan suara erotisnya.


"Azmi sudah melakukan sejauh itu Sayang?" Tanya Tian tidak terpancing emosi, tapi terpancing gairah karena wanita di hadapannya ini.


"Dia juga bilang agar Dea menjaga semua itu untuknya," ucap Ressa lagi sambil melepaskan rasa meledaknya.


"Menurutmu aku harus bagaimana, Honey?"


"Kamu selesaikan ini dulu, karena aku gak kuat Mas," rengek Ressa karena ditarik ulur Tian.


Tian menggeleng usil, "sebaiknya kita membicarakan masalah Dea dengan cara seperti ini Sayang. Agar aku tidak terpancing emosi." Bisiknya yang memulai permainan lebih dalam.


"Terserah, tapi bebaskan aku dulu." Mohon Ressa, Tian mengangguk karena dia juga sudah tidak tahan menyia-nyiakan waktu. Calon ayah itu menjenguk buah hatinya dengan hati-hati.


"Apa kamu bisa merestui mereka kalau seandainya Azmi kembali setelah Dea dewasa Sayang?" Tanya Ressa yang sudah terkulai lemas dalam pelukan Tian.


"Aku gak bisa, Honey. Masa depan Dea masih panjang, masih banyak lelaki di dunia ini selain si brengsek itu."


Ressa mengangguk, dia cukup tau perasaan Tian bukan ingin membujuknya untuk menerima Azmi.


"Dedek gak kesakitan kan Sayang. Apa aku terlalu kasar tadi."


"Aku suka kamu yang kasar kalau menjenguknya Mas," canda Ressa yang diartikan lain oleh Tian.

__ADS_1


"Benarkah, baiklah aku akan menjenguknya lagi."


"Gak sekarang Sayang, cukup satu kali. Tidak ada jatah lebih."


Tian memberengut masam, "dua Sayang. Atau tiga biar genap seperti minum obat."


"Tiga ganjil Mas, kamu sudah lupa cara berhitung." Sarkas Ressa, masih bisa bicara ketus.


"Masih ingat kalau berhitungnya sama kamu," Tian mengecup basah pipi Ressa. "Kenapa putriku dewasa sebelum waktunya, Honey."


"Karena kita terlalu sering menyuguhkan kemesraan di depannya mungkin Mas, mulai sekarang kita jangan berpelukan atau berciuman di depannya. Walau hanya cium pipi, beritahu Denis juga."


"Walau aku gak rela dibatasi begini, tapi terpaksa aku harus menyetujuinya." Sahut Tian tidak rela karena tidak bisa bermesraan sepuas hati.


***


"Pagi Honey, gimana tidurnya semalam? Nyenyak?" Tanya Tian saat mereka sudah berkumpul di meja makan.


"Nyenyak banget Dad, sampai lupa caranya membuka mata." Sahut Dea setengah bercanda.


"Jangan aneh-aneh Sayang, Daddy-mu bisa gila kalau kamu gak bangun-bangun." Sela Ressa di tengah obrolan.


"Oh ya Bu, mungkin minggu depan kita akan pindah rumah. Denis kemaren sudah cari rumah yang cocok buat kita. Biar bisa muat kalau anak-anak Ibu ngumpul semua," ujar Denis ikut bicara.


"Jelas Daddy-mu lah," sahut Denis sombong.


"Oh, kirain duit Daddy Tian."


"Ya iya itu maksudnya Daddy Tian," sahut Denis sambil tertawa kecil.


"Iih Daddy!!" Dea menggigit lengan Denis yang duduk di samping kirinya.


"Daddy Denis mana punya uang sebanyak itu Sayang," Gurau Denis sambil mengelus lengannya yang sakit.


"Itu uang Daddy Denis kok Sayang, uang Daddy cuma buat beli kolam renangnya aja. Biar Dea bisa berenang sepuasnya seperti ikan." Tian mengunyel pipi putrinya yang cemberut.


"Jadi kamu mau nyuruh Dea jadi ikan tidur di air, Sayang." Ressa ikut menyahut, Tian membulatkan mata dengan pemikiran istrinya itu.


"Sekalian nanti aku bikinkan terumbu karang buat Dea tidur Sayang," sarkas Tian yang mengundang tawa. Aruna hanya ikut terkekeh kecil.


"Daddy, aku masih manusia. Bukan putri duyung!" Seru Deandra semakin cemberut.

__ADS_1


"Iya Sayang, kamu memang bukan putri duyung. Deandra Adley ini putri Daddy." Tian tersenyum mengecup puncak kepala Dea. Mereka sepakat untuk lebih memperhatikan Dea saat bersama gadis itu.


"Makasih Daddy," Deandra memeluk Tian dengan terharu sampai meneteskan air mata.


"Kenapa menangis Sayang, kita mau sarapan loh ini, bukan mau acara perpisahan." Kekeh Tian mengusap kepala putrinya.


"Dea bahagia punya Daddy Tian, Daddy Denis, Mommy, Buba dan Nenek." Sebut Dea satu persatu.


"Alhamdulillah kalau Dea bahagia, itu artinya Daddy gak gagal membahagiakan Dea."


Suasana yang tadi ceria jadi penuh keharuan karena kemesraan ayah dan anak itu. Aruna sampai ikut meneteskan air mata karena bahagia melihat putrinya mendapatkan cinta yang utuh.


Ressa dengan cepat menyeka air mata Aruna, "Dea sudah bahagia." Bisiknya di telinga sang kakak.


"Kita akan menjaganya sama-sama tidak ada yang perlu kamu khawatirkan lagi. Sekarang kamu juga harus bahagia." Katanya sambil tersenyum menepuk pelan pipi Aruna.


"Dea nangis, Mommy jadi ikutan nangis kan." Tian menghapus air mata putrinya lalu menepuk lembut di pipi.


"Nanti kalau air matanya kering Daddy gak bisa isi ulang pake air galon Sayang." Canda Tian yang memdapat pelototan dari istrinya.


"Bubamu kalo melotot ngeri Sayang kayak mata ikan."


"Sayaaang, aku bukan kutil!!" Seru Ressa kesal.


"Daddy apaan sih, masa Buba dibilang mata ikan." Deandra jadinya ikut tertawa, "kalau dedek ngambek Dea gak ikutan."


"Nenek juga gak ikut-ikutan," Rina yang sejak tadi jadi pendengar yang baik ikut bicara.


"Kok kalian kompakan gak ada yang bantuin Daddy sih. Dedek itu kalo ngambek rewel Sayang," ucap Tian sambil tertawa.


"Kan Daddy yang bikin penyakit sendiri," Dea tertawa geli. Apalagi saat melihat sang daddy di pelototin buba-nya. Untung berseberangan meja, coba kalau dekat. Daddy-nya pasti sudah kena aniaya si bumil.


"Daddy gak suka bikin penyakit, sukanya bikin adek buat kamu." Bisik Tian yang tidak bisa di dengar Ressa. Putri kecilnya itu membulatkan mata.


"Ih, ngomong apaan sih di depan Dea." Kesal Ressa mendatangi suaminya dan mencubit di pinggang.


"Aduuuhh, sakiiit Honey. Daddy gak ngomong apa-apa, iyakan Sayang." Tian mengkode Dea sambil memelas.


"Daddy bilang gak suka bikin penyakit Buba, sukanya bikin dedek sama Buba." Ucap Dea tanpa Dosa, Denis tertawa paling nyaring.


"Dasar Daddy nakal!!"

__ADS_1


"Sayaaang, kok dibilangin sih! Daddy jadi kena marah Buba-mu kan."


"Derita Daddy," sahut Dea kemudian menyuap sarapan yang mulai dingin karena mereka kebanyakan bicara. Mengabaikan sang ayah yang sibuk membujuk istrinya.


__ADS_2