Aksara Cinta

Aksara Cinta
206. Karung Beras


__ADS_3

“Daddy Tiaaan, tolongin Deaaaa!!” teriak Deandra yang dipanggul Denis seperti karung beras dari kamar ke ruang tengah.


“Maaass, suka banget sih ngusilin Dea. Jemputnya gak pake cara itu juga.” Tegur Aruna, kalau kedua daddy Dea itu bersama pasti ada saja yang mengusili putrinya.


“Biar Dea gak capek jalan, Sayang.” Jawab Denis sekenanya, menurunkan Dea di sofa sambil tertawa gelak.


“Sekalian aja jemput pake pesawat Mas!” ucap Aruna sewot. Ressa dan Tian terkekeh geli mendengarnya.


“Daddy, aku dijadiin karung beras sama Daddy Denis.” Adu Deandra manja dengan wajah cemberut pada Tian.


“Emang kamu mirip karung beras Sayang,” Tian bukannya membela malah ikutan menggoda putrinya itu sambil ketawa cekikikan.


“Nenek, kok semua orang jahat.” Adu Dea mendekati Rina, sang nenek.


"Sini sama Nenek aja ya kalau semuanya jahat," Rina tertawa kecil menarik Dea untuk duduk di sampingnya.


“Kok semua, Buba gak ikutan loh Sayang.” Protes Ressa, tingkah putrinya itu sangat menggemaskan.


“Buba ikut ketawa,” ujar Dea sebal karena jadi bahan tertawaan. Membuat yang mendengarnya semakin tertawa.


“Ya sudah Buba gak ketawa lagi nih,” ucapnya sambil tersenyum.


“Tapi Buba masih senyum-senyum!!”


“Lah, Buba harus gimana dong kalau semuanya gak boleh. Masa Buba harus nangis Sayang.”


“Buba harus temani aku tidur malam ini, Mommy juga!!” gadis remaja itu bersedekap dada  sambil mendengus pelan.


“Sayaaaang!!” teriak Tian dan Denis bersamaan.


“Daddy Denis yang nakal, kenapa Daddy juga dihukum sih!!” seru Tian tidak terima.


“Daddy Tian juga nakal, Daddy lupa!!” ucap Deandra dengan angkuhnya.


“Dea tidur sama Nenek aja ya Sayang, mau kan Bu?” bujuk Denis seraya membawa-bawa ibu mertuanya.


“Kayaknya ibu mau tidur sendiri aja deh, kasurnya sempit kalau berdua Dea.”


Dea tertawa gelak karena sang nenek mau mendukungnya.


“Tian ganti kasurnya ya Bu sama yang ekstrak jumbo,” sahut Tian cepat.


“Kamarnya tambah sempit kalau diganti kasur besar.” Rina mencubit gemas cucunya yang sangat senang dia bela.


Deandra memainkan alisnya, tertawa sampai memegangi perut.

__ADS_1


“Sayang, dedek biasanya kalau malam nyariin Daddy. Jadi tidurnya gak bisa pisah sama Daddy," bujuk Tian.


“Nanti kalau adek nyariin Daddy, Dea video call deh.” Jawab gadis itu asal, Tian memutar bola mata jengah.


“Gak enak kalau virtual Sayang.”


“Enak aja kalau Daddy mau mencobanya," jawab Dea tidak mau kalah.


“Daddy ikat kamu kalau nakal!” seru Tian kesal. Karena ada saja jawaban yang keluar dari mulut putrinya itu.


“Yakin Daddy mau ikat Dea, hm." Sebut gadis itu manja. Mendatangi Tian dan naik ke pangkuan seraya mengalungkan tangan di leher sang daddy.


“Enggak sih, mana tega Daddy ikat kesayangan Daddy ini.” Tian tersenyum memeluk putrinya, “jangan cepat besar. Daddy belum siap kalau kamu tinggal menikah.”


"Daddy, kenapa mikir gitu. Dea masih sekolah."


"Siapa tau Dea sudah mikir mau nikah," goda Tian.


"Daddy nakal!!"


Tian terkekeh geli, membenamkan kepala sang putri ke bahunya sambil mengusap-usap di belakang kepala.


***


"Daddy sudah makan malam?" Sambut Dea pada sang ayah yang baru pulang.


"Sudah Sayang," ucapnya seraya duduk di sofa. Hanya ada Denis yang menemani Dea belajar di ruang tengah. "Buba sudah tidur Sayang?"


"Sudah, tadi adek rewel. Buba muntah terus," beritahu Dea mengaggkat kaki Tian ke pangkuan lalu memijatnya.


"Buba mau makan?" Tanya Tian lagi.


"Sedikit, Dea sudah bikinin Buba susu."


"Makasih sudah jagain Buba Sayang," Tian mengusap puncak kepala Dea dengan penuh kehangatan.


"Kalau bukan Dea siapa yang jagain Buba hm?" Tanyanya sombong, Tian jadi senyum-senyum sendiri.


"Dea sudah selesai belajarnya? Apa mau Daddy temani dulu."


"Daddy mandi dan temani Buba aja, Dea bisa ngerjain PR sendiri. Lagian ada Daddy Denis yang nganggur," ucapnya sambil tersenyum licik pada Denis.


"Emang Daddy Denis diusir Mommy dari kamar?" Tanya Tian penasaran.


"Tanya Daddy Denis aja langsung Dad," seru Dea saat melihat wajah ayah sambungnya sudah tidak bersahabat.

__ADS_1


"Dea nakal ya sama Daddy," Denis menangkap Dea lalu menggelitikinya. "Awas minta tolong sama Daddy-mu!!"


"Daddyyy ampuuuun, Dea gak nakal lagi. Janjiiii," pekik Dea menggeliat kegelian. Tian tertawa gelak melihat putrinya itu, lelahnya jadi hilang mendengar suara Dea.


"Daddy Tian, tolongin Dea please." Mohonnya dengan tampang memelas.


"Gak ada ampun buat kamu Sayang," sambil menggelitiki Denis menciumi pipi Deandra.


"Dea selesain masalah sama Daddy Denis sendiri ya. Daddy mau mandi dulu," ucap Tian sengaja ingin melarikan diri.


"Dea sayaaang banget sama Daddy Denis," ujar Dea memelas.


"Daddy juga sayang Dea," Denis membawa Dea dalam pelukan setelah selesai menggelitikinya. Lalu ia menggendong Fea ke kamarnya. Walau tau putrinya ini bukan gadis kecil lagi, tapi Denis sangat suka menggendongnya.


"Dea kenapa Mas?" Tanya Aruna panik melihat napas putrinya itu tidak teratur. "Kamu sesak napas Sayang, tapi kamu gak punya riwayat asma?"


"Digelitiki Daddy Mom," jawab Dea pelan.


"Daddy siapa?" Tanya Aruna mendelik, siapa lagi yang sangat suka menggelitiki putrinya ini.


"Daddy Denis."


Denis meringis melihat istrinya yang kalem itu mulai mengeluarkan tanduk kuda.


"Maaass, kamu bisa membuat Dea mati kehabisan napas."


"Gak lagi Sayang, aku gak lagi gelitikin Dea nanti." Ringis Denis menurunkan putrinya di tempat tidur. Jangan sampai dia beneran di suruh tidur di luar. Kena peringatan bendera merah saja dia sudah sengsara.


Dea tersenyum penuh kemenangan pada sang Daddy. "Mommy Dea haus," pinta Dea sengaja dilemas-lemaskan. Tau di kamar tidak ada air, dia masih belum puas mengejek ayah sambungnya itu


"Dea tunggu sebentar Mommy ambilin ya Sayang," Dea mengangguk lesu. Setelah sang mommy keluar, tawa Dea pecah melihat wajah nelangsa daddy-nya.


"Jadi kamu ngerjain Daddy, hah!!" Denis memeluk gemas Dea tidak menggelitikinya lagi. Gadis itu mengangguk masih sambil tertawa sampai Aruna kembali ke kamar. Denis lekas melepaskan pelukannya.


"Minum dulu Sayang," Aruna memberikan segelas air putih pada putrinya.


"Makasih Mom," sambut Dea dengan cengiran lebar. "Daddy Denis kalau nakal suruh tidur di luar aja Mom," ujarnya mengompori.


Suami Aruna itu memutar bola mata jengah, punya anak satu tapi suka mengerjai orang dewasa. "Awas macam-macam, Daddy hukum kamu gak boleh keluar kamar selama satu bulan!" Ancam Denis.


"Dea gak takut," putri Tian itu meleletkan lidah pada ayah sambungnya itu.


"Sayaaang, putrimu nakal."


"Daddynya juga nakal," Aruna menjempit hidung Denis gemas. Si empunya malah menarik jari Aruna dan menggigitnya. Kalau tidak ada Dea di kamar, Denis pasti sudah membuat istrinya ini kena serangan panas dingin.

__ADS_1


__ADS_2