Aksara Cinta

Aksara Cinta
152. Jari Kepiting


__ADS_3

"Morning Honey," Tian tersenyum nyeri melihat perban di kedua pipi Ressa. Tangannya mengusap kepala sang istri dengan cinta.


"Maaf terlambat menyelamatkanmu, Sayang." Sesal Tian, mendudukkan Ressa lalu memeluknya dari belakang, setelah merapikan rambut Ressa agar tidak mengenai pipi.


"Kamu gak terlambat membakar rumah Agam, Sayang." Ressa menggerakkan bibirnya dengan pelan agar pipinya tidak berolahraga berat.


Ia sayup-sayup mendengar pembicaraan Agam dan anak buahnya tadi malam saat kesadarannya belum terkumpul seratus persen.


"Yaa, itu belum apa-apa dibanding apa yang dilakuinnya sama kamu. Aku jadi gak bisa mengecup pipi ini lagi." Ucap Tian sambil bercanda, padahal hatinya ikut sakit melihat Ressa terluka.


Ressa mengangguk bibirnya tersenyum tipis.


"Apa aku juga harus puasa ini, hm." Tian mengusap bibir Ressa dengan jemarinya. "Aku gak berani ninggalin kamu sendirian lagi," katanya seraya memeluk Ressa possesif. Jangankan satu hari, satu jam saja kehilangan Ressa membuatnya hampir gila.


"Agam sempat ngapain kamu, Honey?"


Ressa menggerakkan kepalanya pelan ke kiri dan ke kanan. "Dia cuma ikat tangan dan kaki aku."


Huuhh, Tian akhirnya bisa bernapas lega. Memikirkan Ressa disentuh Agam membuat otanya mendidih panas.


"Mommy, pipi Tante kenapa?" Teriak Erra, berlari mendekati brankar. Pagi-pagi Tian sudah diganggu bocah kecil itu.

__ADS_1


"Uncle Erra mau naik," rengeknya melihat Tian yang tidak menggubris kedatangannya.


"No, Uncle mau peluk tante." Ucap Tian meniru gaya Erra. Sengaja ingin membuat anak kecil itu merajuk. Ia mengeratkan pelukan pada Ressa di depan Erra.


"Erra mau naik!" Ketusnya naik ke atas kursi dengan susah payah karena kakinya masih pendek.


"Awas jatuh Sayang," Erfan membantu putri kecilnya itu duduk di kursi. Bocah itu malah berdiri ingin naik ke brankar. Menarik-narik tangan Tian agar menjauh dari Ressa.


"Uncle minggir, Erra mau peluk tante." Rengeknya, karena kesal bocah kecil itu menangis nyaring.


Tian mengulum senyum, memang menunggu Erra menangis.


"Dasar nakal!" Lirih Ressa pelan, tapi cubitannya yang keras. Cuma pipinya yang sakit, jari kepitingnya masih berfungsi dengan baik.


"Cubitnya di sini aja deh!" Tian menaikkan Erra ke atas brankar. Tangisan yang disengaja itu langsung berhenti. Lalu mencubit gemas di pipi Erra yang basah sebagai balasan cubitan Ressa.


"Uncle nakal!" Teriak Erra setelah berhasil duduk di pangkuan Ressa.


"Pipi tante sakit. Jangan Erra di pegang!" Peringat Tian.


"Erra juga tau Uncle. Erra ini sudah besar jadi tau kalau luka itu sakit!" Sahutnya ketus karena masih kesal pada Tian.

__ADS_1


Suami Ressa itu terkekeh geli, marahnya Erra sangat lucu. Ressa ingin ikut tertawa tapi tidak bisa. Sedang kedua orang tua Erra geleng-geleng kepala dengan kelakuan gadis kecil itu. Bagaimana nanti kalau sudah besar.


"Pipi Tante sakit?" Erra berdiri mengawati wajah Ressa yang di perban lalu mengalungkan tangan di leher.


"Sedikit," jawab Ressa sambil mengusap-usap belakang kepala Erra.


"Ayo kita pulang Tante. Nanti tante diculik orang jahat lagi. Biar mommy yang obatin tante. Mommy Erra kan juga dokter, pasti bisa sembuhin tante." Ujar Erra berceloteh panjang.


"Orang jahatnya sudah gak ada, Sayang. Sini Erra sama Uncle aja." Tian mengulurkan tangan, gadis kecil itu menggeleng masih ingin dipeluk Ressa.


"Erra gak mau sama Uncle. Uncle Tian nakal!" Ucapnya cemberut, dendam masih membara rupanya.


"Ulu-ulu, ada yang ngambek sama Uncle nih, ya udah Uncle peluk Tante Ressa aja kalau gitu." Goda Tian duduk di belakang Ressa kembali sambil tersenyum geli melihat Erra yang mencak-mencak.


"Go, Uncle go!!!" Teriak Erra.


"Sayang, gak boleh teriak-teriak. Nanti orang sakit tambah sakit dengar suara kamu." Erfan ikut-ikutan menggoda putrinya.


"Mommy, kenapa daddy sama uncle jahat." Katanya melepaskan diri dari pelukan Ressa lalu menangis kencang. Mengulurkan tangan pada sang mommy.


Hira menyambut uluran tangan putrinya, membawa dalam gendongan, "nanti daddy suruh tidur sendiri di kamar Erra ya Sayang." Katanya menenangkan Erra.

__ADS_1


"Sweety, Tian yang mulai kenapa aku yang dibawa-bawa." Erfan memelas, mana enak tidur sendirian.


"Siapa suruh ikut-ikutan!" Sahut Hira jutek membela putrinya.


__ADS_2