
"Sekarang kamu ngertikan kenapa aku gak pernah mau ambil pusing dengan perkataan pedas orang lain. Termasuk ibuku sendiri. Karena yang mengatakan itu bukan kamu, yang kuinginkan sekarang itu cuma kamu, Sayang."
"Maafkan aku yang belum bisa menjadi suami yang sempurna buat kamu Honey. Aku terlalu sering menyakitimu, membuat luka di hatimu ini."
"Apa aku bisa mendapatkan suami yang sempurna di dunia ini?" Ressa menggeleng pelan, "tidakkan. Karena aku juga tidak sempurna buat kamu."
Tian mengecup kening Ressa dengan penuh cinta. Ia akan memberikan seluruh hidupnya ini untuk menjaga Ressa. "Terimakasih untuk seluruh cintamu ini Sayang."
"Meeting Sayang, jangan membuat orang lain menunggu. Aku istirahat di kamar ya, capek banget habis kamu gempur dari tadi malam." Ucap Ressa yang mengundang tawa Tian.
"Bolehkah satu kali lagi, hm." Goda Tian yang sedang mengantarkan istrinya ke kamar.
"Dasar maniak!! Sudah sana meeting, kamu mau nanti malam aku tepar karena seharian ini dibuat kelelahan." Kesal Ressa, ini saja tubuhnya serasa remuk masa mau diserang lagi.
Tian menggeleng, "bye Sayang." Ucapnya lalu keluar kamar, sebelum istrinya berubah menjadi liar karena terus-terusan digoda.
*
__ADS_1
"Aku tidak ingin melihat wajahnya lagi!!" Tian menatap Zeni dengan murka, "terserah mau kamu apakan dia. Asal jangan sampai dia berani muncul di hadapanku, Denis!!"
Sebelum ke ruang meeting suami Ressa itu sempat-sempatnya mampir ke ruangan Denis yang sedang menyidang Zeni.
Zeni menunduk takut, ia baru tau kalau Ressa itu satu-satunya istri sang bos. Bukan wanita bayaran yang disembunyikan presdirnya ini.
Denis mengisyaratkan agar Tian tidak ikut campur urusan Zeni. Dia khawatir menciptakan dendam baru yang membuat Ressa dalam bahaya nanti.
Tian mendengus meninggalkan ruangan Denis, masuk ke ruang meeting dengan mood yang amburadul.
"Cuma masalah Zeni kenapa sampai sekacau ini!" Denis menarik Tian keruangannya setelah meeting berakhir. Tidak memungkinkan kalau bicara di ruangan Tian.
"Gue gak suka ada yang menghina Ressa!!" Sebut Tian dengan emosi yang sedang menyala. Denis menghela napas panjang, mengurus Tian sekarang sangat menyusahkan.
"Ressa juga gak suka lihat lo yang mudah tersulut emosi begini." Denis menggunakan cara yang seperti Erfan ajarkan. Kalau Tian sedang marah maka gunakan nama Ressa untuk menenangkannya.
"Gue yang akan mengurus Zeni. Ingat Tian, lo yang mencari musuh maka Ressa yang bisa kena imbasnya. Gue gak mau Ressa jadi korban lagi karena lo gak bisa mengontrol emosi." Nasehat Denis, Tian langsung menghela napas panjang kemudian menghembuskannya dengan pelan berulang kali.
__ADS_1
Apa yang Denis ucapkan benar, orang bisa balas dendam padanya melalui Ressa. Ayah Dea itu kembali ke ruangannya tanpa menanggapi ucapan Denis. Ia menyandarkan punggung di kursi sambil memejamkan mata.
Ressa yang bosan di kamar karena tidak bisa tidur, akhirnya keluar. Ia melihat sang suami dengan gurat lelah di wajah. Perempuan itu menghampiri dengan berjalan pelan. Berdiri di belakang Tian seraya melingkarkan tangan di leher suaminya.
"Lagi banyak masalah?" Tanyanya seraya menempelkan pipi, Tian mengeleng mengelus tangan yang berada di lehernya itu.
"Gak mau cerita?" Tanya Ressa lagi.
"Cukup kamu ada di sini, aku sudah lebih baik Honey. Kalau capek berdiri sini aku pangku." Ucap Tian masih dengan mata terpejam menghirup aroma tubuh Ressa yang sangat dia suka. Bagai aroma terapi yang bisa membuatnya tenang tapi juga berbahaya karena bisa membangkitkan yang ada di bawah sana.
"Aku masih kuat berdiri, aku gak mau mendekati sesuatu yang berdiri di sana." Gurau Ressa, yang membuat Tian mengeluarkan ide jahilnya kembali. Lelaki itu membuka mata sambil menyeringai licik. Memandang Ressa dengan tatapan berbeda.
"Diamlah, aku sedang tidak baik hati untuk menuruti kemauan si nakal yang sudah membuatku kelelahan itu." Sebut Ressa, Tian tertawa geli karena sang istri sudah mengetahui isi otaknya.
"Yakin kamu gak mau Honey, dia suka sekali manja sama kamu." Goda Tian seraya mengerling genit.
"No Honey, aku capek." Ucap Ressa sengaja dilesu-lesukan. Tian mengangguk, menarik sang istri agar duduk di pangkuannya. Ia tidak melakukan apa-apa, hanya memberikan pelukan hangat. Dengan begitu saja dia sudah bisa tenang berbeda dengan miliknya yang terus-terusan gelisah.
__ADS_1