
Tian meninggalkan ruangan bukan karena menyerah. Tapi karena perutnya sangat lapar, dia butuh banyak energi untuk menghadapi dua perempuan itu. "Siapkan amunisi untuk memberikan serangan balasan," gumamnya sambil tersenyum untuk menghibur hati.
Saat kembali dari kantin ruang rawat yang tadi Ressa gunakan sudah kosong.
"Shiitt!!" Tian langsung berlari meninggalkan ruangan. Sebelum Ressa benar-benar tidak bisa ditemukan lagi, ia harus segera mengejar Erfan.
"Keterlaluan, mereka malah mendukung Ressa yang ingin pergi dariku." Tian berdecak dengan kepala yang berat. Ia sangat lelah, tadi malam tidak bisa tidur nyenyak karena ranjangnya sangat sempit.
Mobil Tian melaju dengan cepat menuju rumah Erfan. Ia bisa-bisa gila kalau Erfan menghalanginya bertemu Ressa lagi. Sesampainya di depan kediaman Erfan, pintu gerbang tertutup rapat. Tidak ada petugas yang berani membuka pintu sesuai perintah Erfan.
"Buka pintu gerbang, Erfan!" Teriak Tian dari sambungan telepon. Sahabatnya itu puas mentertawakan penderitaannya.
"Please Erfan, gue harus bujuk Ressa." Mohon Tian frustasi, dia benar-benar lelah sekarang. Ingin rasanya Tian meminjam benda ajaib yang bisa digunakan untuk membuka pintu gerbang dari kantong doraemon.
"Bujuk buat apa, belum puas membuat Ressa terluka. Hm." Erfan memerintahkan penjaga membuka pintu gerbang. Dia tetap kasihan dengan Tian, kalau itu terjadi padanya sudah pasti tidak mau dipisahkan paksa dengan orang tersayangnya.
"Gue sudah menceraikan Aruna pagi tadi, gue lakukan untuk Ressa." Ucap Tian lemah mematikan sambungan telepon.
Sebaiknya dia pulang saja, istirahat dulu di rumah, badannya tidak enak. Tidak ada tanda-tanda Erfan berbelas kasihan padanya.
__ADS_1
Tian kembali masuk ke mobil, baru dia ingin menjalankan mobil pulang pintu gerbang terbuka. Pria itu menghela napas lega langsung memasuki pintu gerbang.
Ia segera turun dari mobil setelah terparkir sempurna dan berlari masuk ke dalam rumah Erfan. Perempuan yang sedang dicarinya sedang asik mengobrol berdua dengan Erra di ruang tengah. Hira dan Erfan mengamati dari kejauhan sambil geleng-geleng kepala.
"Lihat kelakuan temanmu itu Mas, gak mau ngelepasin tapi suka nyakitin!" Gerutu Hira, Erfan menggaruk tengkuknya. Tian yang bikin masalah, kenapa dia yang selalu kena sasaran.
"Sayang," Tian memeluk kaki Ressa membenamkan wajahnya di pangkuan sang istri. "Jangan pergi!" Pintanya pelan.
"Aku ada di sini, gak pergi kemana-mana, Tian. Bangun, jangan duduk di bawah."
Tian menggeleng, "jangan marah lagi."
"Hei, badanmu panas! Cepat bangun, duduk di sini." Katanya sambil menepuk sofa di sampingnya.
"Uncle sakit?" Tanya Erra langsung mendekat dan naik ke pangkuan Tian.
Tian tersenyum lalu menggeleng, "cuma capek Honey." Tian memeluk Erra yang duduk di pangkuannya, "kangen." Katanya manja.
"Tian, badan kamu panas. Jangan peluk Erra, dia sangat sensitif." Ressa mengambil Erra dari pangkuan Tian, tapi lelaki itu menahannya.
__ADS_1
"Erra turun ya, Sayang." Tian menurunkan Erra kecil dari pangkuannya. Lalu beralih pada sang istri, "kamu jangan angkat yang berat-berat. Erra itu berat, Sayang."
Tian menyandarkan kepalanya di bahu Ressa, "kepalaku pusing banget, Sayang." Ucapnya dramatis dengan wajah memelas. "Kita pulang ya, aku mau istirahat sama kamu di rumah."
Tidak ada lagi Ardiya Tiandra sang casanova, kini adanya Ardiya Tiandra bucinnya Ressa.
"Kamu pulang sendiri, aku masih mau di sini sama Erra."
"Sayang kita pulang, gak enak bertengkar di dengar Erra di sini." Ujar Tian lembut, harapannya menggunung agar gunung esnya ini mencair.
"Aku gak mau pulang sama kamu!" Cetus Ressa.
"Kita selesaikan masalah kita di rumah, Sayang. Gak enak di dengar orang di sini."
"Kamu aja yang pulang, Tian!" Tekan Ressa sekali lagi.
"Kamu mau apa, aku turuti asal kita pulang, Sayang." Tian tidak berhenti membujuk Ressa, asal bisa membawa istrinya ini pulang ke rumah.
"Aku mau anakku kembali," jawab Ressa enteng. Tian menegang di depan Ressa. Tangannya membelai pipi Ressa, "maafkan aku yang gagal jadi ayah yang baik, Sa. Semua aku lepasin buat kamu. Harus dengan cara apa aku mengatakan, kalau aku benar-benar cinta sama kamu."
__ADS_1
"Ceraikan aku Tian, itu caranya kamu membuktikan kamu cinta aku." Ucap Ressa Tegas, Tian menggeleng pelan dengan permintaan sang istri. Bukan cerai yang dia mau.