
"Aku akan menemanimu sampai sembuh, aku juga akan membantumu mendapatkan Tian kembali, Sayang."
"Tidak perlu Jeri, sia-sia aku hidup bersama orang yang tidak mencintaiku. Pulanglah, aku tidak perlu teman. Kamu juga sibukkan, jangan membuang waktumu untuk mengurusku yang tidak berguna ini."
Laki-laki tidak akan semurah hati itu memberikan perempuannya pada laki-laki lain kalau memiliki rasa sayang dan cinta. Audrey menghela napas pelan, pada Jeri pun dia tidak bisa mendapatkan cinta dan kasih sayang itu.
"Aku tidak akan pulang, Audrey." Mana mungkin Jeri meninggalkan perempuan yang sedang rapuh seperti ini.
"Jeri, jangan merasa bersalah dengan menjagaku di sini. Itu membuatku berhutang budi padamu, akan sulit untukku membayarnya nanti."
"Berhenti bicara, Audrey. Aku yang membuatmu seperti ini. Sudah tentu aku yang akan menjagamu. Kamu pikir aku tidak menyayangimu. Tenanglah, Sayang." Jeri menguatkan pelukannya, memberikan kecupan di puncak kepala Audrey.
"Aku cuma ingin disayangi dengan tulus Jeri. Tapi lelaki selalu memandang dari tubuhku. Suatu hari nanti tubuhku ini akan keriput dan mereka semua akan meninggalkanku. Aku sendirian. Padahal aku sangat takut sendirian."
"Aku akan menemanimu sampai menemukan laki-laki yang mencintaimu dengan tulus. Setelah ini aku tidak akan memintamu menemaniku di tempat tidur lagi. Anggap aku ini seperti kakakmu, tempat kamu pulang dan mengadu, Sayang."
__ADS_1
Perlahan perempuan dalam pelukan Jeri itu berhenti menangis dan tertidur karena kelelahan. Jeri menelusuri wajah perempuan yang memang sangat cantik.
Awalnya dia terobsesi pada Audrey karena ingin membuat Tian hancur. Dan sekarang dia terobsesi pada perempuan yang berstatus istri Tian itu. Audrey? Entah apa di hatinya. Saat mendengar curahan hati wanita ini, hatinya ikut merasakan sakit.
Jeri mengecup kening Audrey dan merapikan selimut, "selamat tidur Audrey, mimpi indah Sayang." Ia menemani Audrey di rumah sakit sampai pagi.
"Pagi Sayang," sapa Jeri. Audrey menjawab dengan senyuman. "Kenapa masih di sini? Kamu gak pulang?"
"Aku sudah bilang akan menemanimu sampai sembuhkan, ayo mandi Sayang."
"Aku sudah terbiasa tidur di kursi, aku bantu mandi. Kalau sembuh ikut aku ke apartemen," bujuk Jeri.
Audrey menggeleng pelan, "aku pulang ke apartemenku sendiri aja."
Ia sadar, semakin lama bersama Jeri. Hatinya akan sama sakitnya seperti melepaskan Tian nanti. Jadi lebih baik menghindar dari sekarang.
__ADS_1
"Kenapa berubah pikiran, hm?"
"Aku ingin belajar hidup sendiri, Jeri. Aku tidak mau bergantung pada orang lain lagi." Audrey mengambil tasnya di atas nakas memberikannya pada Jeri. "Ini ATM-mu aku kembalikan," ucapnya seraya tersenyum. Uang dari Tian pun tidak pernah digunakannya, ia tidak menjual diri. Audrey benar-benar menyayangi Tian.
"Kamu ingin menghindar dan pergi dariku, Audrey. Merasa mampu hidup sendiri!"
"Aku tidak bisa bergantung terus-menerus padamu Jeri. Akhirnya nanti melepasmu itu akan sama sakitnya seperti melepaskan Tian. Lebih baik aku akhiri semuanya sekarang." Ucap Audrey sungguh-sungguh dengan menyunggingkan senyuman.
Jeri mematahkan ATM yang ada di tangannya. "Aku memang bajingan Audrey, tapi aku tidak akan membiarkanmu menderita sendirian. Ikut pulang denganku atau aku buat kamu tidak bisa berjalan sekarang."
Audrey meremas selimut dengan gemetar. Jeri menghela napas panjang, dia sudah membuat Audrey ketakutan.
"Aku akan berikan apapun yang kamu mau, jangan takut aku pergi. Walaupun aku menikah nanti aku akan tetap menjagamu." Jeri membawa Audrey dalam pelukan. "Atau kamu mau menikah denganku?"
"Aku tidak ingin menyusahkanmu, Jeri." Ucap Audrey pelan.
__ADS_1
"Aku tidak menerima penolakan! Menurut atau aku buat kamu menyesal seumur hidup." Tegas Jeri.