Aksara Cinta

Aksara Cinta
133. Mencuri Hati


__ADS_3

"Anda juga ada di sini Tuan Jeri. Sungguh Tuhan sangat murah hati mempertemukan kita dari satu takdir ke takdir yang lain." Ucap Ressa ambigu yang entahlah artinya apa.


"Ya benar sekali Nona, boleh aku membantumu mencari apa yang kamu cari?" Tawar Jeri, yang diangguki Ressa.


"Tentu saja, saya sangat senang kalau anda bermurah hati mau membantu saya, Tuan."


"Bisakah kamu tidak menyebutku dengan Tuan, aku merasa seperti majikanmu saja. Mari kita bicara dengan bahasa yang lebih santai." Usul Jeri sambil tersenyum.


"Boleh begitu? Saya merasa sangat tidak sopan, Tuan." Ressa tersenyum tidak mengubah panggilannya.


"Tentu saja boleh, Nona. Mau menemaniku makan atau apapun, kita bisa mengobrol sambil duduk. Aku khawatir kakimu pegal karena terlalu banyak berdiri."


"Maaf untuk itu, saya tidak sedang sendirian. Jadi dengan berat hati saya tidak bisa menemani anda, Tuan." Ressa tersenyum seraya meneliti tempat itu mencari Aruna dan Dea. Tapi netranya tidak menemukan salah satu dari mereka.


"Kenapa aku berpisah dari mereka, bukankah Tian sudah mengingatkan agar tidak berpisah." Gumam Ressa mulai cemas tapi masih dapat di sembunyikan wajahnya, tertutupi oleh senyuman.


"Saya permisi sebentar Tuan, mau menelpon seseorang." Pamit Ressa, Jeri mengangguk menyetujui.

__ADS_1


"Saya tunggu, Nona." Ucapnya dengan senyuman licik.


"Siapa yang kau cari, semua sudah tidak ada di sini."


Belum sempat Ressa menelpon, Aruna sudah menghubunginya lebih dulu.


"Ressa aku terpaksa pulang duluan, Dea tiba-tiba diare. Aku harus segera membawanya ke dokter, tidak sempat mencarimu lagi." Ucap Aruna dengan sangat menyesal dari seberang telepon.


"Ya, aku akan segera pulang Aru." Ressa mematikan teleponnya lalu menghubungi sang suami namun tidak ada jawaban. Sampai berkali-kali Ressa mengulangi panggilan, hasilnya tetap nihil.


"Aneh," gumamnya. "Kemana Tian dan ada apa dengan Dea? Apa ini ada hubungannya dengan Jeri yang terus mengawasinya sekarang."


"Bagaimana, apa Nona bisa menemaniku minum segelas kopi?"


"Ah ya, tentu saja." Jawab Ressa sambil tersenyum manis.


"Mari Nona," Jeri mengulurkan tangannya. Ressa menolak dengan gelengan kepala.

__ADS_1


"Ladies first," Jeri mempersilahkan agar Ressa berjalan lebih dulu.


"Tunggu kehancuranmu Tian, karena wanitamu akan jatuh dalam pelukanku." Jeri tersenyum devil. Ia membawa Ressa ke sebuah cafe.


"Pesan apapun yang kamu mau, Nona." Jeri duduk berseberangan dengan perempuan berjilbab navy itu. Ia ingin terus memandang wajah cantik Ressa.


"Saya ke sini untuk menemani anda ngopi, Tuan. Terimakasih atas penawarannya. Saya sedang tidak menginginkan apapun." Ressa tersenyum, dia tidak akan meminum apapun yang bisa membuatnya terjebak.


"Apa kamu takut aku meracunimu, Nona. Atau memberikanmu obat tidur?" Jeri tertawa jenaka.


"Saya justru lebih takut anda mencuri hati saya, Tuan. Dan kita malah dipertemukan dengan takdir yang tak terduga," balas Ressa.


"Itu yang sedang kulakukan, berusaha mencuri hatimu Nona manis."


Ressa ingin sekali muntah mendengar kalimat pujian itu. Ia memilih menanggapinya dengan senyuman.


"Apa kamu tidak senang bertemu denganku, Nona?"

__ADS_1


"Tentu saja sangat senang, apa ada alasan untuk saya tidak menyukai anda." Ressa seolah memindai dari atas hingga bawah dan tertarik pada lelaki itu. Mereka mengobrol cukup lama sampai akhirnya jeri mengantarkannya pulang.


__ADS_2