
"Kenapa kau tidak memberitahuku kalau perempuan itu sudah menikah, Matt." Jeri membentak asistennya.
"Saya pikir itu tidak terlalu penting, Tuan. Siapapun suami Nona itu anda pasti akan bisa menyingkirkannya," ucap Matt pada bosnya.
"Akan begitu kalau suami perempuan itu bukan Ardiya Tiandra Adley, Matt. Kau tau siapa lelaki itu? Lelaki yang memiliki saham tertinggi di Adley Grup ini. Bahkan semua aset yang aku miliki itu atas namanya!!" Berang Jeri, bukan hal yang mudah merebut apa yang saudara sepupunya itu miliki.
"Aku sungguh tidak tau, Tuan. Kalau suami Nona itu Tuan Adley."
Jeri mendengus, dia sudah kalah langkah. Audrey yang dia jerat itu sungguh tidak ada gunanya.
"Tapi aku tidak akan tinggal diam Ardiya Tiandra Adley, aku akan mendapatkan wanitamu itu. Kali ini pengecualian, aku rela bekasanmu asal itu dia. Maka itu akan membuatmu hancur berkeping-keping."
"Awasi pergerakan perempuan itu, Matt. Informasikan padaku dimanapun dia berada. Aku akan mencari celah untuk menaklukkannya. Dan kirim setiap hari bunga padanya, buat Nyona Adley itu jatuh cinta padaku." Perintah Jeri, dia akan memulai langkahnya.
"Siap Tuan," ucap Matt lalu meninggalkan ruangan sang majikan.
*
"Bagaimana keadaanmu hari ini, Sayang?" Jeri menjenguk Audrey di rumah sakit. Mengecup di kening perempuan itu.
__ADS_1
"Badanku masih lemah Sayang, perutku juga rasanya masih sakit." Adu Audrey manja.
"Sebentar lagi sakitnya hilang, Sayang. Kita pasang alat penunda kehamilan setelah ini, biar tidak terulang lagi. Aku tidak mau melihatmu hampir kehilangan nyawa seperti ini." Jeri membelai kepala Audrey dengan penuh kelembutan.
Dalam hatinya, ia akan menggunaan Audrey sebagai partner ranjangnya. Dan memanfaatkan perempuan ini dalam misinya menghancurkan Tian. Jadi dia harus bersikap baik dan memanjakan perempuan yang haus belaian dan kasih sayang ini.
"Iya, aku ingin pulang. Ikut kamu ke apartemen." Pinta Audrey dengan tatapan manjanya.
"Kamu harus sembuh baru bisa pulang, Audrey. Jangan menggodaku seperti itu, aku tetap tidak akan mengijinkanmu pulang kalau belum sembuh."
"Aku kesepian sendirian di sini, Jeri." Rengek Audrey.
"Baiklah, kalau kamu mau menemaniku."
"Tentu saja aku mau menemanimu, apa Tian ada menjengukmu?"
Audrey menggeleng pelan, "tidak."
"Apa kamu menyerah, Sayang?"
__ADS_1
"Entahlah Jeri. Aku tidak pernah hidup sendirian, ayah dan bunda selalu memanjakanku. Sekarang aku benar-benar hidup sendirian. Tian juga sudah tidak peduli padaku." Adu Audrey sambil menangis. Membuat Jeri iba, lelaki itu naik ke atas tempat tidur membawa Audrey dalam pelukan.
Hati kecilnya menyayangi perempuan ini. Audrey anak yang penurut dan penyayang. Bisa membuat siapapun yang berada di dekatnya merasa nyaman.
"Kamu juga tidak menyayangiku kan Jeri. Kamu hanya memanfaatkanku agar bisa mengalahkan Tian." Audrey tersenyum miris menyeka air matanya.
"Apa aku ini hanya pantas untuk memuaskan ranjang kalian. Bukan untuk mendapatkan cinta kalian." Ucap Audrey lemah, "hm, tidak apa. Semua memang salahku."
Jeri tersentil, dia jadi merasa bersalah. Karenanya lah Audrey jadi diusir dan dibenci orang tuanya.
"Kalau menangis jadi hilang cantiknya," Jeri tersenyum menyeka air mata Audrey.
"Apa gunanya kecantikan ini, Jeri." Audrey menggeleng pelan, "tidak ada. Aku akan berhenti jadi model."
"Jangan bunuh mimpimu, Sayang."
"Semua sudah tidak ada gunanya, Jeri. Andai aku tidak bersikeras ingin menjadi model aku pasti tidak akan bertemu kalian dan diusir dari rumah."
"Akulah rumah tempatmu pulang, Audrey."
__ADS_1
"Suatu saat nanti kamu akan membuangku seperti, Tian. Pulanglah, aku akan belajar hidup sendirian." Audrey menyunggingkan seulas senyum yang membuat nyeri di hati Jeri.