Aksara Cinta

Aksara Cinta
167. Kelinci Nakal


__ADS_3

"Mau pergi kemana, hm? Kamu gak boleh pergi kemanapun, kita akan menikah." Jeri tersenyum smirk masih belum menjalankan mobilnya.


Wajah cantik itu memberengut masam, "antar aku ke bandara Jeri!"


"No," lelaki itu menggeleng keras.


"Jangan keras kepala, mau dikutuk jadi patung liberty atau patung pancoran?" Tukas Audrey memberikan pilihan.


"Kalau dikutuknya lengket terus sama kamu gak nolak deh." Jeri menyalakan mobil, membawa Audrey menuju apartemen. Tidak akan dia lepaskan lagi Audrey setelah ini.


"Jeriiiii, aku serius!!" Seru Audrey kesal.


"Aku juga serius Sayang." Katanya seraya menoel gemas hidung Audrey. "Kalau cemberut gini jadi kayak mangga muda. Kecut tapi banyak yang suka," gurau Jeri yang tidak mengubah ekspresi Audrey.


"Aku mau turun di sini," rengek Audrey manja.


"Bidadari gak ada yang turun di pinggir jalan. Kalau mau turun, nanti aku antar ke danau Toba."


"Iih Jerii, aku bukan jelmaan ikan!!"


"Iya Sayang, kamu jelmaan bidadari kan?" Goda Jeri sepanjang jalan sampai mobilnya terparkir di basemen apartemen.

__ADS_1


"Ayo keluar, Sayang." Jeri sudah membukakan pintu mobil untuk Audrey, takut perempuan itu melarikan diri darinya lagi.


"Aku mau ke bandara, tiketku berangkat dua jam lagi." Rengut Audrey menggelengkan kepala pelan.


"Nanti aku ganti uang tiketnya, sekarang kamu sudah jadi tawananku. Nanti kita pergi honeymoon sama-sama." Gemas, Jeri memanggulnya Audrey seperti karung beras.


"Jeri turunin, perutku nanti sakit kata dokter belum boleh olahraga berat." Audrey memukul-mukul punggung Jeri. Sontak lelaki itu langsung menurunkan.


"Maaf Sayang, ayo gendong depan aja." Sesal Jeri, kalau kenapa-kenapa dengan Audrey dia juga yang repot.


"Aku bisa jalan sendiri," ucap Audrey ketus. Menabrak bahu Jeri, berjalan lebih dulu. Pria itu tertawa kecil mengikuti Audrey sampai masuk apartemen dan mengurung Audrey di kamar.


"Kita menikah nanti malam biar kamu gak bisa kabur dari aku lagi," putus Jeri.


"Kita sudah sering kawin, Sayang." Jeri mengerling jahil, "mau lagi, hm."


Audrey mendengus membaringkan badan, menarik selimut sampai ke kepala.


"Sayang, aku lagi melamar kamu nih," rengek Jeri menarik-narik selimut Audrey.


"Bodo amat!!" Sahut Audrey ketus.

__ADS_1


"Gak mau nyesal dua kali kan? Dulu kamu nolak Tian, apa sekarang juga mau menolak aku?" Lelaki itu membangunkan paksa Audrey, menariknya dalam pelukan.


"Ibumu gimana, dan Ayahku?" Sebut Audrey sendu.


"Ibu jadi urusanku, dan ayahmu nanti aku kabarin, kalau beliau mau datang. Jangan sedih, sekarang aku yang akan membahagiakan kamu." Jeri mengusap-usap bahu Audrey sambil menciumi samping kepala perempuan itu.


"Aku takut," lirih Audrey.


"Tidak ada yang perlu ditakuti, mulai sekarang aku akan selalu menemanimu. Jangan nakal lagi, apalagi mau kabur-kaburan." Jeri melepas plester di pipi Audrey mengganti dengan yang baru setelah dibersihkannya.


"Tadi malam kamu setuju menikah dengan pilihan ibumu. Kenapa mencari aku lagi?" Audrey memajukan bibirnya bertepatan Jeri memasang pleaster di pipi Audrey. Lelaki itu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Menyesapnya dengan lembut diiringi perasaan bahagia yang membuncah.


"Aku gak bisa, aku belum mau jadi gila gara-gara kepikiran kamu." Jawab Jeri usai mendapat booster vitamin yang tidak dijual bebas.


Perempuan itu berdecak, "modus," gumamnya menyentil bibir Jeri.


Si empunya tersenyum cerah, "mana hp?" Jeri mengulurkan tangan. Ia harus waspada, jangan sampai kancil nakalnya ini kabur. Audrey merengut memberikan ponselnya.


Jeri membatalkan tiket penerbangan Audrey, lalu mengembalikan ponselnya setelah selesai.


"Suka-suka hati kamu deh, gagal kabur jadinya!" Gumam Audrey pelan.

__ADS_1


"Terserah, ini daerah kekuasaanku," jawab Jeri sambil tertawa, memeluk Audrey gemas.


__ADS_2