
"Mommy...!!" Pekik Dea melihat Aruna yang meringkuk di atas tempat tidur. Ibunya itu tidak berhenti menangis.
"Mommy kenapa jadi seperti ini," lirih Dea langsung memeluk sang ibu.
"Dea kamu pulang Sayang?" Aruna meraba pipi sang putri.
"Iya, Dea sudah pulang Mom." Katanya menghapus sisa air mata di pipi Aruna. Orang yang paling dicintainya ini terlihat sekali sangat kacau dengan tubuh yang lebih kurus dan lingkar mata yang menghitam. Padahal Dea cuma satu minggu meninggalkannya.
“Sayang, kenapa kamu tinggalin Mommy,” Aruna memeluk Dea dengan tangisan sendu.
“Maafin Dea sudah membuat Mommy khawatir. Kenapa Mommy gak mau makan?" Deandra melirik nasi yang tak tersentuh di atas nakas.
"Mommy gak lapar," jawab Aruna pelan.
"Mommy memang gak lapar, tapi tubuh mommy yang perlu nutrisi. Lihat, Mommy sekarang sangat kurus." Deandra menarik sang mommy untuk bangun.
__ADS_1
Ressa terharu melihat putrinya itu, Dea memang terlihat sangat dewasa. Namun tetap saja dia anak remaja yang belum mengerti kehidupan orang dewasa sepenuhnya. Belum bisa membedakan mana yang benar-benar cinta dan mana yang hanya sebuah jebakan.
"Mommy makan ya, Dea yang suapin." Deandra mencoba untuk tersenyum menyembunyikan apa yang dirasakannya.
Tadi pagi dia merasa sangat bahagia karena lelaki dewasa itu memperlakukannya penuh cinta. Tapi ternyata orang itu sudah membuat sesuatu yang ia tidak suka. Secara tidak langsung menyakiti mommynya.
"Dea jangan pergi lagi, kamu gak kenapa-kenapa kan Sayang?"
"Aku akan selalu menemani Mommy, Mommy lihatkan Dea sehat. Sangat sehat," ucapnya sambil tersenyum manis.
Selesai menyuapi Aruna makan, Deandra menyisiri rambut sang ibu. "Kan Mommy tambah cantik kalau begini." Katanya tersenyum sangat manis.
"Dea mau kemana?" Tanya Ressa menyelidik, tingkah putrinya sangat aneh.
"Mau ke kamar sebentar, sekalian ke rumah teman. Dea sudah satu minggu gak sekolah pasti banyak ketinggalan pelajaran. Aku besok mau sekolah Buba, nanti aku dimarahin Bu guru gimana?"
__ADS_1
"Mommy gak papa Sayang, kamu hati-hati ya. Pamit dulu sama Daddy." Aruna yang menyahut lebih dulu, tapi tidak dengan Ressa yang merasa Dea memiliki gelagat aneh.
Gadis remaja itu tersenyum pergi ke kamarnya, mengambil ponsel yang di simpannya di laci lalu menghubungi Azmi. Dia ingin ketemu dengan alasan mau memberikan hadiah spesial, ia yakin lelaki dewasa itu akan langsung menyetujuinya.
Ressa hanya mengamati dari jauh putrinya yang keluar dari pintu belakang. Tidak lewat pintu depan pasti karena tau Tian dan Denis akan melarangnya keluar.
Di ruang tengah Denis memberitahu kalau Dea tidak kenapa-kenapa. Mereka sedang berdiskusi cara membuat Azmi keluar dari persembunyiannya. Sebab orang tuanya pun tidak tau pria itu pergi kemana.
"Sayaaang!!" Panggil Ressa, berjalan terburu-buru ke ruang tengah.
"Dea pergi lewat pintu belakang. Tadi ijinnya mau ke rumah teman sama Aru, tapi aku perhatikan dia seperti menghubungi seseorang. Aku yakin itu Azmi," jelas Ressa dengan satu tarikan napas.
"Hei pelan-pelan bicaranya," Tian terkekeh kecil melihat kepanikan istrinya itu. Mereka sudah tau kalau Dea keluar dari pintu belakang, karena rumah ini dijaga ketat.
"Tenang, Sayang. Sini duduk dulu," Tian membuka laptop yang merekam Dea sedang menunggu seseorang tidak jauh dari belakang rumahnya.
__ADS_1
"Kamu gak khawatir Dea kenapa-kenapa? Kenapa dibiarin aja?" Rengek Ressa.
"Emang siapa bilang dibiarin, kamera ini dari mana. Kamu pikir Dea merekam dirinya sendiri Sayang dan memberitahu daddy-nya." Tian tertawa kecil menggoda istrinya, mereka memang membiarkan Dea bertemu dengan Azmi semua sudah diperhitungkan.