
Karena kepanasan di atas tempat tidur, Ressa menarik paksa kemeja yang membalut tubuhnya. Sampai kancing-kancingnya terlepas dan berserakan di lantai.
Tian membulatkan mata melihat perempuan itu menggeliat-geliat di tempat tidur hanya menggunakan penutup atas dan bawah.
Cepat ia ke kamar mandi mengisi bathtub dengan air hangat. Tian harus tega demi menyadarkan perempuan itu. Ia mengangkat tubuh Ressa dan merendamnya di dalam bathtub.
"Aku gak mau mandi," pekik Ressa nyaring. "Aku gak mau mandi, aku mau minum lagi." Rengeknya sambil menggeliat-geliat di dalam air.
"Hei, Ressa sadar. Kamu mabuk, terlalu banyak minum." Tian menepuk-nepuk lembut pipi Ressa. Walau kepala atas dan bawahnya sakit, ia tetap berusaha untuk stabil. Setelah mengurus Ressa dia akan mengurus dirinya nanti.
"Sa!" Panggil Tian lagi.
Perempuan itu mengerjapkan mata beberapa kali, mengumpulkan kesadarannya.
"Aaaaa!" Teriak Ressa saat sadar di depannya Tian sedang tersenyum padanya duduk di pinggiran bathtub. Matanya melirik ke arah tubuhnya lalu berteriak lagi.
__ADS_1
"Aku sudah melihatnya dari tadi, tidak perlu malu." Ucap Tian jahil sambil tersenyum menggoda.
"Sekarang mandi, nanti aku antar pulang." Katanya seraya menepuk pipi Ressa dengan lembut lalu beranjak dari kamar mandi. Ia langsung mencari kamar mandi lain untuk menidurkan adik kecilnya yang gelisah.
Ressa keluar kamar menggunakan kimono dan anduk di kepala. Tian sudah duduk manis di sofa ruang tengah menyesap kopi sambil menonton televisi. Netranya melirik ke arah perempuan yang menatapnya malu-malu.
Tangan Tian melambai memanggil Ressa, "aku gak ngapa-ngapain kamu." Ujarnya setelah Ressa duduk di sampingnya.
"Mau minum?"
Ressa mengangguk mengambil gelas kopi yang tadi Tian minum. Dia meminum dari gelas yang sama.
Tanpa kata Ressa segera mendekat dan beringsut dalam pelukan Tian. Lelaki itu melepas anduk di kepala Ressa agar bisa mencium aroma sampo yang memabuk itu. Padahal sampo yang Ressa gunakan sampo yang sama dengan yang selalu digunakannya.
"Sekarang cerita kenapa sampai ada di club." Ujar Tian seraya merapikan rambut panjang Ressa dengan jari jemarinya. Adik kecilnya yang tadi sudah tidur sekarang bangun lagi. Hah, Ressa sungguh meresahkan.
__ADS_1
Siapa yang bisa menolak pesona Tian yang seperti ini. Sangat tau bagaimana cara memperlakukan perempuan dan membuatnya tidak berkutik. Ressa benci dirinya yang lemah saat berhadapan dengan sang casanova ini.
"Apa selalu seperti ini cara kamu memperlakukan perempuan. Membuat mereka merasa nyaman?" Ressa menatap netra Tian yang tersenyum padanya.
"Kamu nyaman seperti ini?" Ressa mengangguk cepat. "Aku bisa memberikan kenyamanan ini setiap saat untukmu. Tawaranku tiga tahun yang lalu masih berlaku, menikahlah denganku."
"Aku takut menikah dengan seorang casanova sepertimu. Hatiku tidak akan kuat melihat orang yang aku sayang bersama wanita lain."
"Aku bisa menjadikanmu satu-satunya. Cukup kamu yang melayaniku. Aku bisa melepaskan yang lain," ucap Tian serius.
"Saat kamu bosan denganku, kamu akan mencari perempuan lain Tian. Hatiku tidak akan kuat."
"Kamu tidak akan membuatku bosan." Tian menyisiri setiap inci wajah Ressa membelainya dengan lembut lalu mengecup di pipi dan menahannya. "Aku menginginkanmu sejak dulu, jangan tolak aku lagi. Aku sudah memintamu dengan baik-baik untuk menikah, bukan menidurimu seperti perempuan-perempuan yang haus kenikmatan itu."
Tubuh Ressa menegang, darahnya berdesir panas. Ada bagian lain yang menginginkan Tian menyentuhnya. Jangan tanyakan bagaimana kondisi jantungnya yang sekarang melompat-lompat ingin keluar dari tempatnya.
__ADS_1
"Tapi aku bisa memberikannya kalau kamu mau, setelah itu aku jadi milikmu seorang. Aku janji!"
Tian bisa gila kalau tidak bisa melepaskan juniornya sekarang juga. Dia mati-matian mengendalikan diri saat Ressa berada dalam pelukannya.