
"Kenapa, hm?" Tian mengulurkan tangan menarik Aruna agar mendekat padanya.
"Ceraikan aku sekarang, aku mau menghukum Denis." Cicitnya, Ressa membulatkan mata. Semudah itu Aruna minta cerai. Hah. Kepalanya benar-benar dibuat pusing.
Aruna langsung mendekat, tapi memeluk Ressa. "Maafkan aku, aku menyayangimu. Aku rela menukar apapun di dunia ini agar kamu tetap bahagia dan tidak membenciku." Katanya diikuti air mata yang berjatuhan. Sudah lama dia ingin memeluk Ressa dan menangis dalam pelukan adiknya itu. Dia sudah lelah dengan semua kenyataan yang sedang dihadapinya ini.
Ressa kembali menatap Tian cengo, membalas pelukan Aruna. Aruna memain-mainkan tangan Tian yang masih memegangnya, lalu menarik agar memeluk mereka. Tian menurut membawa keduanya dalam dekapan.
"Kalian jangan bercerai, biar aku yang bercerai. Aku sudah tidak mau padanya, aku mau memeriksa apakah Denis masih perjaka." Ucap Aruna yang sangat tidak pantas di dengar telinga sambil memukul milik Tian.
"Aru, sakit. Tangannya kenapa sekarang nakal, hm?"
"Hei apa kau bilang, ingin memeriksa milikku. Ayo sekarang mendekat biar aku tunjukkan!" Sarkas Denis, mendekati teletubis yang sedang berpelukan itu.
"Dengarkan, dia pantas dihukum. Awas saja kau Denis, cepat ceraikan aku sekarang, Mas!"
"Hei Aru, ini pernikahan bukan main nikah-nikahan." Ressa menangkup pipi Aruna yang masih menangis, jempolnya bergerak menghapus air mata itu. "Aku tidak membencimu, aku menyayangimu."
"Aku rindu, selama satu bulan ini aku seperti kehilangan kamu. Jangan seperti ini, aku tidak ingin bersama Tian lagi."
__ADS_1
"Maafkan aku yang masih kekanakan. Kalian tidak perlu bercerai, ada Dea yang sangat ingin kalian bersama."
Tian tersenyum mengusap kepala keduanya lalu mengecup bergantian. Andai sesederhana ini memiliki dua istri. Ia pasti akan mempertahankannya. Tapi tak semudah itu ferguso, kepalanya bisa pecah menghadapi Ressa yang mood-mood'an seperti akhir-akhir ini.
"Ceraikan aku, biar tidak berdosa karena bermesraan dengan laki-laki lain." Pinta Aruna dengan memelas pada Tian. Tian mengangguk mengetujuinya.
"Aruna Rezkia binti Amrin..."
"Tian, NO." Potong Ressa cepat sebelum Tian menyelesaikan ucapannya, "aku yang harus kamu ceraikan, bukan Aru!!"
Aruna, Tian dan Denis saling pandang. Padahal Aruna sudah bersusah payah akting mesra pada Denis di depan Ressa. Masa rencana yang disusun otak kecilnya secara dadakan ini gagal.
"Sayang, aku tidak akan menceraikanmu." Tian menatap Ressa dengan lembut.
Aruna melepaskan diri dari dua orang yang sedang bertengkar itu. Entah apa yang otaknya pikirkan, ia mendekati Denis.
"Honey, bantu urus perceraianku segera. Itu kalau kamu tidak mau pernikahan kita ditunda lebih lama lagi." Aruna melompat kegendongan Denis seperti bayi koala, melingkarkan tangannya di leher lelaki itu sedang kakinya melingkar di pinggang.
Denis yang terkejut dengan tindakan Aruna segera menahan tubuh perempuan itu agar tidak jatuh.
__ADS_1
"Yes Honey, kita akan segera menikah seperti maumu." Denis mengecup singkat bibir Aruna, "apapun maumu akan kukabulkan." Lanjutnya menyesap bibir itu kembali, kali ini lebih lama dan penuh dengan perasaan.
Ressa memijat kepalanya pusing dengan drama yang ada di depan matanya. Sedang Tian langsung mengucapkan kalimat talak sesaat setelah Denis melepaskan bibir Aruna.
"Aruna Rezkia binti Amrin, aku ceraikan kamu."
Aruna tersenyum smirk karena rencananya berhasil. Sedang Ressa membelalakkan mata dengan kalimat yang keluar dari mulut Tian.
"Sekarang apa aku sudah boleh membawa mantan istrimu keluar dari sini, Tian?" Tanya Denis setelah menurunkan perempuan gila yang menyeretnya dalam kebohongan ini.
"Tentu saja, dia kekasihmu sekarang." Ucap Tian santai sambil menggenggam tangan istrinya yang terlihat sangat marah. Ia harus siap menghadapi singa betinanya ini.
"Kamu gila, Tian!" Teriak Ressa murka.
"Apa aku harus membiarkan Aru berdosa karena dianggap berselingkuh dariku, Sayang. Egois sekali aku kalau menahannya bersama orang yang bisa membuatnya bahagia. Kamu lihat, semalaman Aru tidur di pangkuan Denis. Dan barusan mereka sangat menikmati apa yang dilakukannya tadi."
Benar juga, Ressa tidak habis pikir dengan tindakan yang Aruna lakukan.
"Sudah ya, aku dan Aru sudah selesai. Tinggal mengurus perceraian dipengadilan agama."
__ADS_1
"Aku tetap tidak ingin bersamamu, aku tidak suka bekas kakakku sendiri!" Ucap Ressa asal, Tian menghela napas panjang. Kalau Ressa bicara seperti itu dia tidak bisa mengelak apa-apa lagi.
"Hm, ya sudah kamu bersih-bersih dulu baru sarapan." Tian tersenyum, tidak memaksa Ressa lagi. Kalau diteruskan akan menambah perkara rumit. Dia akan mencari waktu yang tepat untuk membujuk Ressa lagi.