Aksara Cinta

Aksara Cinta
27. Ressa VS Audrey


__ADS_3

Senyuman Tian mengembang, tidak kehabisan cara menjauhkan Ressa dari lelaki genit itu. Ia mengadakan meeting untuk memberlakukan sistem rotasi kerja ke perusahaan cabang. Ada sekitar dua puluh orang yang akan di rotasi, Agam salah satunya.


Ressa menatap sang bos yang tidak berhenti tersenyum. Ia geleng-geleng kepala. Pasti akal-akalan Tian saja untuk menjauhkannya dari Agam.


Tian kembali ke ruangan dengan wajah ceria, satu kerikil kecil telah ia singkirkan. Dia memanggil Ressa, rasanya sangat rindu dengan rasa bibir manis itu. Mengingat malam panjang itu membuat suhu tubuhnya kembali memanas.


Sang sekretaris mengangkat satu alis melihat Tian yang memandangnya penuh degan kabut gairah. "Ada apa?" Tanya Ressa khawatir.


"Please help me, Honey. Nyiksa banget." Tian mengisyaratkan Ressa untuk mendekatinya.


"Aku gak mau!" Tolak Ressa mentah-mentah. Dia bukan boneka Tian yang bisa dimanfaatkan sesuka hati.


Tian memejamkan mata untuk mengendalikan pikirannya lalu beranjak ke kamar mandi. Demi Ressa dia puasa, huh. Setelah mengguyur tubuh, ia kembali. Ressa masih menunggunya.


"Nyiksa banget Sa, kita nikah yuk. Jangan tolak lagi. Aku gak tahan." Lelaki itu memeluk Ressa dari belakang, lalu mengecup di pipi.


"Jangan nakal, nanti belalainya bangun lagi. Aku gak tanggung jawab," Ressa mendelik mendorong tubuh Tian, sampai pelukannya terlepas.


"Jadi dia yang godain kamu, sampai ninggalin aku. Dia gak pantas jadi sekretaris kamu, Tian!" Tian menoleh ke arah pintu, Audrey berdiri di depan pintu menatap sensi pada Ressa.

__ADS_1


Sedang Ressa memainkan jemarinya di bawah meja. Apa yang harus dia lakukan sekarang.


"Aku mau kamu pecat dia sekarang juga!" Tegas Audrey pada Tian.


"Kamu tidak punya hak apapun Audrey!" Balas Tian dengan sorot mata tajam.


"Saya permisi," Ressa beranjak dari duduknya. Tidak ingin mengganggu dua orang yang bersitegang itu.


"No, Honey." Tian menahan tangan Ressa lalu menarik pelan sampai menubruk dada bidangnya. Tangannya melingkar di pinggang sang sekretaris.


"Tian, jangan begini. Nanti semua orang tau," bisik Ressa.


"Pulang Audrey!" Titah lelaki itu dingin sambil menciumi puncak kepala Ressa. Kesempatan dalam kesempitan batinnya.


"Enggak, aku gak mau pulang sebelum kamu usir sekretarismu itu dari perusahaan ini."


Ressa tak bisa bergerak dalam dekapan Tian. Lelaki itu memeluknya sangat erat, sampai untuk menghirup oksigen saja susah.


"Kamu pikir kamu siapa mau mengatur aku, hah! Kalau masih ngeyel, aku hentikan uang bulananmu!" Ancam Tian. Ressa membulatkan mata, uang bulanan. Sudah seperti istri saja.

__ADS_1


"Tian!" Rengek Audrey, menarik paksa Ressa agar lepas dari pelukan Tian. "Aku bisa lebih muasin kamu daripada ja*lang ini."


Ressa meringis saat kuku Audrey menancap di tangannya.


"Buktikan!" Sahut Tian, mengalihkan perhatian Audrey agar tangannya terlepas dari Ressa. Setelahnya ia mengusap lembut tangan Ressa yang membekas karena cengkraman kuku Audrey.


"Sakit?" Tanya Tian seperti gumaman, sangat pelan. Ressa mengangguk pelan.


"Kamu mau aku buktikan apa?" Tantang Audrey.


"Buktikan kalau kamu bisa muasin aku di depan dia. Tapi kalau kamu tidak berhasil melakukan. Kamu harus pergi dari hadapanku untuk selamanya."


Ressa mendongakkan kepala melotot pada Tian. Si empunya hanya mengulum senyum sebagai tanggapan.


"Aku gak mau ada dia di sini!" Tunjuk Audrey pada Ressa. Tian mengendikkan bahu membawa Ressa duduk di pangkuannya.


"Kamu curang Tian, aku gak mau ada dia di sini!" Berang Audrey dengan mata berkaca-kaca.


"Apa kamu merasa tersaingi, Audrey. Bukankah kamu bilang bisa memuaskan aku dari pada sekretaris kesayanganku ini." Tian tersenyum miring.

__ADS_1


"Jangan meremehkan aku, Tian." Audrey tidak terima dibanding-bandingkan dengan seorang sekretaris.


__ADS_2