
"Selamat pagi!" Sapa Ressa pada rekan-rekan kerjanya dengan senyuman cerah. Tidak ada gunanya menangisi takdir hidup yang menyedihkan ini.
"Wih yang semangatnya membara seperti habis dapat lotre," seru Budi.
"Lotre kehidupan," Ressa menyengir.
"Sudah sarapan?" Tanya Agam.
Ressa menggeleng, "lagi diet. Siapa tau ada yang naksir," kekehnya.
"Sarapan bareng," Agam sudah menarik tangan Ressa ke kantin tanpa menunggu jawaban.
"Mereka gak diajak?" Ressa melongo, Agam menariknya seperti kerbau.
"Enggak, mereka punya kaki sendiri buat jalan ke kantin." Jawab Agam tanpa melepaskan pegangannya.
"Gue juga punya kaki, emang lo pikir gue lumpuh!"
"Lo beda!"
"Beda," beo Ressa, dia tau sedari dulu Agam selalu memberikan perhatian lebih padanya. Namun hatinya tidak bergetar sama sekali saat dekat dengan lelaki itu. Kalau dari segi rupa Agam tidak kalah tampan dengan Tian. Hanya isi dompetnya saja yang kalah saing.
Apa dia perlu membuka hati pada lelaki ini, memberi Agam kesempatan. Tapi apa mungkin Agam bisa menerima segala kekurangannya.
__ADS_1
"Lo harus makan yang banyak, kerja itu butuh energi. Mengumbar senyum nggak akan bikin lo kenyang." Ujar Agam cerewet, mereka memesan nasi uduk dan es teh manis. Minuman sejuta umat yang paling populer.
"Gue bukan raksasa yang bisa makan banyak." Sahut Ressa dengan kekehan, Agam memutar bola mata jengah. "Lo itu diajak bicara serius dikit bisa gak sih."
"Bisa-bisa, lo mau ngomong apa, hm?" ujar Ressa seraya menyambut pesanan yang diberikan pelayan kantin. Lalu menyantapnya dengan lahap.
Agam menggenggam tangan kiri Ressa yang ada di atas meja. "Lo mau nikah sama gue?"
Ressa yang sedang mengunyah langsung tersedak mendengar ucapan Agam yang tiba-tiba. Lelaki itu menyodorkan botol air mineral. "Sorry kalau gue bikin lo kaget."
"Lo kenapa sih, sengaja pengen bikin gue jantungan ya."
Agam terkekeh, "maaf." Gumamnya seraya membersihkan mulut Ressa dengan tissue, "tapi gue serius kok, nggak bercanda."
"Menikah itu saling melengkapi kekurangan pasangan." Tangan Agam terulur membelai pipi Ressa. Perempuan itu menyingkirkan tangan Agam di pipinya.
"Kasih gue waktu untuk berpikir," jawab Ressa lalu melanjutkan makan yang sebenarnya dia sudah tidak nafsu.
"Lo butuh waktu berapa lama untuk berpikir?" Agam tidak berhenti memandang objek yang ada di depannya.
"Satu tahun," jawab Ressa asal sambil tertawa kecil.
"Itu mau ngasih jawaban apa kredit panci, heh." Agam ikut tertawa menanggapinya.
__ADS_1
"Kredit rumah, rumah tangga. Nyicil dulu dari ngumpulin tangan, kaki, kepala si doi sampai jadi jodoh."
"Ngaco!" Agam menyentil kening Ressa karena gemas.
"Duh, gue geger otak lo jitak!" Ujar Ressa dramatis. Agam mendengus sebal, "kebanyakan drama!" Desisnya.
"Gue bukan artis jadi gak bakat main drama."
"Dahlah, ngomong sama lo bikin capek." Keluh Agam, perempuan di depannya ini susah diajak bicara dari hati ke hati.
Ressa terkekeh geli, mereka menyelesaikan sarapan, lalu kembali ke kantor. Saat ingin memasuki lift berpapasan dengan Tian dan Denis.
Lelaki itu seolah tidak peduli dengan apa yang ada di hadapannya. Mereka memasuki lift khusus petinggi perusahaan.
Haah. Dalam lift Tian menggeram, mengepalkan tangan. Setelah menolaknya, Ressa malah terlihat bahagia bersama laki-laki lain. Jantungnya serasa terbakar karena cemburu. Ia akan membuat perhitungan nanti, tidak ada yang boleh dekat dengan miliknya.
"Panas-panas. Huhh. Pagi-pagi ACnya sudah panas," sindir Denis sambil menahan tawa.
"Mau gue pecat sekarang, hah!"
"Dengan senang hati," Denis semakin tertawa gelak. Tian tidak akan berani memecatnya.
"Terlalu mudah gue mecat lo, mending gue bunuh sekalian." Desis Tian, Denis tertawa gelak tidak mempedulikan kekesalan bosnya.
__ADS_1