
"Om siapa? Lepasin Dea!!" Teriak gadis remaja itu saat matanya ditutup. Ia dibawa ke sebuah ruangan, setelah sampai baru penutup matanya dibuka. Tempat itu sama sekali tidak menyeramkan, malah seperti kamar mewah.
"Diam Sayang!!" Peringat Azmi, awalnya ingin membawa anak ini ke paviliun belakang, tapi karena kasihan jadilah dia bawa ke kamar.
"Om lepasin Dea," rengek gadis itu.
"Diamlah, Om tidak akan menyakitimu." Azmi tersenyum membelai rambut Deandra, "jadi nama kamu Dea?" Tanyanya.
"Deandra," ucap gadis remaja itu menyebutkan nama lengkapnya.
"Tangannya Om lepas, tapi janji jangan lari. Kalau kamu lari Om bisa langsung menembakmu." Azmi mengeluarkan pistol dari balik punggung, hanya untuk mengancam gadis kecil itu.
Dea mengangguk takut dengan wajah pucat. Netra Azmi melihat liontin Deandra yang berkedip-kedip.
"Kalungnya cantik, Om lihat sebentar boleh. Mau beli juga buat seseorang," ujar Azmi melepaskan liontin Dea lalu membawanya agak menjauh.
"Chip, pasti mereka sudah mengetahui keberadaan gadis ini." Gumam Azmi melepaskan chip itu dari liontin, lalu mengembalikan kalung Dea.
"Om kembalikan kalungnya," Azmi memasangkan kalung itu ke leher Dea lalu merapikan rambut gadis itu.
"Cantik," gumamnya, lelaki itu menggeleng pelen mengembalikan pikirannya. Dia bukan pedofil, masih banyak perempuan kalau ingin memuaskan nafsunya.
__ADS_1
Azmi memberikan Dea jaket dan topi. Ia langsung memasangkannya pada gadis itu.
"Ikut Om, kita jalan-jalan." Ajaknya, menuntun Dea keluar melalui pintu rahasia. Ia tidak menyakiti gadis itu sedikitpun.
Azmi ingin menguras habis kekayaan Extnet. Dengan menculik putri Tian dia bisa mengalihkan fokus mereka. Ia tidak berniat menyakitinya, selama tiga tahun di penjara sudah cukup membuatnya sadar melihat saat adiknya tersiksa. Dia tidak ingin menyakiti perempuan lagi.
Sekarang adiknya sedang terbaring sakit, sudah satu bulan terakhir ini keadaannya belum membaik.
"Om gak akan nyakitin Dea kan?" Tanya Deandra takut, mobil yang dia naiki beda lagi.
"Enggak, Om tidak akan menyakitimu. Om mau mengajakmu bertemu seseorang." Azmi membawa Deandra ke rumah yang selama ini tidak diketahui keluarganya. Juga tidak ada yang tau kalau Fany, adiknya sedang sakit keras.
"Dia siapa?" Tanya Dea pada perempuan yang terbaring lemah di atas tempat tidur. Tubuhnya sangat kurus.
"Sakit apa?"
"Koma," jawab Azmi singkat.
"Kenapa gak Om rawat di rumah sakit. Di sana peralatannya lengkap," jelas Deandra. Walau tubuh yang terbaring itu juga terhubung dengan banyak selang. Tapi dia yakin kalau di rumah sakit lebih baik perawatannya.
"Kalau di rumah sakit Om susah mengawasinya," Azmi hanya menjawab seadanya pertanyaan seputar Fany. Dia memiliki dokter sendiri untuk merawat adiknya.
__ADS_1
"Kenapa Om menculik Dea?" tanya gadis remaja itu tidak mengerti. Kenapa orang dewasa ini susah-susah menculiknya, tapi tidak melukai atau meminta tebusan pada orang tuanya.
"Hanya ingin mengajakmu jalan-jalan," jawab Azmi tersenyum. Tentu saja gadis secerdas Dea tidak akan mudah percaya dengan semua itu.
"Tapi Dea mau pulang," rengek gadis yang masih menggunakan seragam biru putih itu.
"Waktunya bukan sekarang," Azmi menarik tangan Dea. Membawanya keluar dari kamar sang adik. Ia mengajak Dea ke taman
belakang, rumah itu terletak di dalam hutan.
Di halaman belakang rumah itu terdapat danau buatan yang indah. Salah satu sudutnya, terdapat area berisi pohon-pohon yang rindang nan hijau.
"Wooww di sini sangat sejuk dan bebas dari polusi!!" Seru Dea menarik nafas panjang.
"Ya, di sini udaranya sangat sehat. Dea mau tinggal di sini?"
Gadis itu menggeleng pelan, "Daddy pasti bingung nyariin aku," gumamnya.
"Nanti Om yang ngabarin Daddy kamu. Kalau kamu mau menginap di sini," ucap Azmi.
"Om kenal sama Daddy Tian?"
__ADS_1
"Tentu saja, ayo kita makan siang dulu baru main setelah istirahat." Ajak Azmi, ia meminta pelayan untuk menyiapkan makan siang.