
"Maaf, gak bisa langsung hilang Honey. Boleh peluk, aku kedinginan." Pinta Tian, Ressa tidak menjawab membiarkan saja Tian memeluknya. Tangan yang melingkar di perutnya itu terasa hangat.
Ressa membalikkan badan mendapati wajah Tian sudah pucat, matanya terpejam dengan tubuh gemetar.
"Astaga Tian, sudah tau sakit siapa yang suruh kamu mandi!" Omel Ressa. Itulah perempuan walaupun marah tapi masih saja peduli.
"Biar bekasnya hilang, Honey." Suara lemah itu keluar dari mulut Tian sambil menyunggingkan senyuman kecil.
"Lepas dulu pelukannya, aku ambilin kompres."
"Jangan, jangan di lepas. Gak usah di kompres, cukup dipeluk aja. Nanti sembuh sendiri." Ujar Tian sengaja mendusel-duselkan wajahnya di antara dua squishy. "Mimi squishy," ucapnya manja mencari kesempatan dalam kesempitan.
Ressa berdecak, sakit saja masih bisa modus. Terpaksa Ressa mengalah membuka kancing blousenya seperti memberikan ASI pada bayi. Sampai kapan sih dia bisa menghindari suaminya ini. Tian dengan cepat melahapnya membuat Ressa cenat-cenut.
"Enak Sayang," dua kata yang keluar dari mulut Tian. Ressa tak berekspresi, mengunci mulutnya rapat-rapat agar tidak menimbulkan suara yang bisa membuat Tian semakin gila.
"Hm, maaf." Tian merapikan blouse Ressa, istrinya tidak senang di sentuh. Ia hanya memeluk kembali.
"Lepas dulu sebentar aku ambilin obat, kamu gak akan sembuh cuma dengan mainin squishy, Sayang." Ressa melunak, mau bagaimanapun tidak akan bisa dipungkiri dia sangat mencintai suaminya ini.
Tian tersenyum mendengar panggilan yang diucapkan Ressa barusan. "Jika kehadiranku kamu anggap sebagai musibah bagimu, maka aku akan berdoa pada Tuhan agar menguatkanmu menerima musibah ini. I love you, Sayang."
__ADS_1
Sebuah kecupan mendarat di kening Ressa. Ressa melengos setelah Tian melepaskan pelukannya. Sungguh sebuah derita yang akan tiada akhir hidup bersama dengan lelaki yang bisa membuatnya bertekuk lutut kapanpun.
***
"Dea mau ikut Om, Sayang." Ajak Denis, gadis itu menggeleng malas.
"Ada apa, hm?" Denis mendekati Dea, lalu memindahkan gadis itu ke pangkuannya. "Mau cerita sama Om sambil makan cokelat?" Tanyanya sambil mengeluarkan cokelat dari saku jasnya.
"Kenapa istri Daddy harus Tante Ressa? Kata orang ibu tiri itu jahat, Dea gak mau Tante Ressa jadi jahat." Curhat gadis itu sambil menangis, Denis memandang Aruna yang duduk di sofa seberangnya sambil terkekeh kecil.
"Kata siapa ibu tiri itu jahat, gak semua ibu tiri jahat, Sayang. Apalagi Tante Ressa, pasti sayang sama Dea."
Aruna meringis mendengar jawaban itu, anak-anak memang lebih percaya pada sebuah tindakan daripada ucapan.
"Dea mau bukti kalau Tante Ressa gak jahat? Kita bisa ke sana sekarang."
"Buat apa? Daddy lebih sayang Tante Ressa daripada aku. Buktinya Daddy gak mau ikut aku pulang."
"Tante Ressa lagi sakit jadi Daddy gak bisa ikut Dea pulang. Ayo kita ke rumah Daddy, Tante Ressa pasti sedih karena Dea marah-marah tadi." Bujuk Denis lembut.
"Mau di gendong," katanya manja.
__ADS_1
"Oke," Denis membawa Dea dalam gendongan. "Sama kayak Mommy-nya, manja." Bisiknya di telinga Aruna yang ikut berjalan di sampingnya.
Aruna menjawab dengan kekehan, semoga saja Dea tidak kaget saat dia memberitahu ingin menikah dengan Denis nanti.
Saat mereka ingin masuk mobil Amrin datang, "Ayah, ibu sudah pulang." Beritahu Aruna, dia pikir sang ayah mampir karena ingin menjemput ibunya.
"Oh ya, baiklah Ayah langsung pulang saja. Kalian mau ke mana?"
"Ke rumah Ressa Yah, Dea mau kembali ke sana."
"Hati-hati. Jangan membuat keributan lagi, adikmu sedang sakit." Amrin mengingatkan, membiarkan saja putri dan cucunya kembali ke rumah Ressa. Dia pulang ke rumah, tidak jadi menemani Dea.
Tidak sampai sepuluh menit mereka sudah sampai di rumah Tian. Denis memencet bel beberapa kali, tidak ada yang membuka pintu.
"Apa yang mereka lakukan di dalam, jadi lama sekali membuka pintu." Denis berdecak, dalam pikirannya kejadian tadi malam akan terulang kembali.
...💥💥💥...
Hai baca juga cerita aku yang lain ya, semoga suka. Semua sudah tamat. Jangan lupa like, komen dan votenya. Terimakasih sudah mampir 😊
__ADS_1