
"Beri aku waktu memikirkan semuanya Sa, agar apa yang aku putuskan terbaik untuk kita semua. Aku akan bicara dengan Aru dan meminta maaf padanya karena sudah menelantarkan anakku." Tian memeluk Ressa dari belakang, membenamkan wajah di ceruk leher sang istri.
Dia sangat takut kehilangan Ressa dan anaknya. Tapi jika memaksa mereka bertahan di sisinya itu sangat menyakitkan. Apakah ia harus melepaskan. Sesuatu yang di genggam sangat erat bisa jadi remuk dalam genggaman itu.
"Apapun keputusanmu aku dukung, Tian. Walau aku harus mengalah demi kakakku itu." Ressa mengelus lembut kepala Tian.
Tian memejamkan mata, menghela napas panjang. "Tapi aku gak bisa kehilangan kamu, Ressa. Bisakah kamu berjanji untuk tidak meninggalkan aku, apapun yang terjadi nanti. Jangan bunuh hatiku lagi, Sa."
"Tian, ada hal di dunia ini yang bisa kita miliki dan tidak. Semua sudah dituliskan, jika kamu ditakdirkan hanya sebentar untukku, kita tidak bisa berbuat apa-apa."
"Sudah, jangan lanjutkan, Sayang. Aku ingin menghabiskan hari ini bersamamu. Tidak membahas apapun lagi selain tentang kita."
Ressa menangguk menyetujui ide Tian. Dia tidak tau apakah esok hari masih bisa memeluk suaminya ini.
__ADS_1
Sepanjang hari sepasang pengantin baru itu tidak beranjak dari kamar. Mereka menghabiskan waktu untuk bercanda dan tertawa bersama, tanpa memikirkan hal yang membuat keintiman mereka terganggu.
"Aku mau kita honeymoon sebelum bertemu Aru." Pinta Tian sebelum mereka memutuskan untuk tidur, karena sudah lelah seharian bermain gulat.
"Kamu atur aja, aku ngikut." Ujar Ressa menurut sambil memejamkan mata.
"Dedek gak papa kan, Sayang." Tian mengelus kepala Ressa dengan penuh cinta.
"Nanti kita periksa, aku bukan dokter kandungan." Jawab Ressa malas, dia sudah lelah dan sangat mengantuk. Siapa juga yang membuat tubuhnya remuk begini.
"Bukan cuma perutku yang sakit, Tian. Semua badanku rasanya remuk. Jangan ganggu, aku mau tidur."
"Sekali lagi," goda Tian nakal.
__ADS_1
"Kamu mau bunuh anak kita, Tian. Dokterkan bilang kalau kandungannya masih muda rentan keguguran. Atau memang itu yang kamu mau biar bisa menikah sama Aru," kesal Ressa.
"Eee, kenapa jadi bawa-bawa Aru. Sudah ayo kita tidur." Ajak Tian, bercanda sama orang mengantuk bisa berujung pertengkaran sengit lagi. Niatnya cuma ingin bersenang-senang, bukan untuk membunuh anaknya. Ressa tidak menjawab, napasnya sudah teratur.
"Yah, sudah tidur dia." Tian tersenyum kecil mengecup kening Ressa sebagai ucapan selamat malam. "Semoga apapun takdir yang tertulis untuk kita, tidak ada perpisahan di dalamnya, Sayang."
Setelah memastikan istrinya tertidur, Tian bangun. Ia meminta Denis mengirimkan alamat tempat tinggal Aruna. Sebelum ia dan Ressa bertemu Aruna, dia ingin lebih dulu bicara pada perempuan itu.
Ressa membuka mata, mendengar suara mobil Tian keluar dari garasi rumah. Bagaimana ia bisa tetap mempercayai suaminya itu. Sedang ia tidak tau kemana Tian setiap malam pergi. Apa mungkin yang seharian ini Tian ungkapan hanyalah sebuah kalimat pemanis saja. Apa Tian sudah bertemu Aruna.
Perempuan itu tersenyum miris mengelus perutnya yang baru mengandung janin berumur lima minggu. "Aku tidak akan menahanmu, Tian. Jika hadirnya aku menjadi penghalang kebebasanmu, maka aku yang akan mengalah membesarkan anak kita sendirian."
Notifikasi pesan mengalihkan perhatian Ressa. Ia membuka pesan yang dikirimkan Aruna. Terlihat foto Tian sedang memeluk Deandra. "Akhirnya Dea bertemu ayahnya." Tertulis dipesan itu.
__ADS_1
"Andai kamu izin pergi menemui Aru dan Dea aku pasti mengizinkan, Tian." Ressa memutuskan untuk tidur, hatinya lelah memikirkan Tian yang tidak bisa ditebak jalan pikirannya.