Aksara Cinta

Aksara Cinta
208. Ditinggal


__ADS_3

"Sayang, aku besok harus ke London." Beritahu Tian mendadak, sebenarnya dia juga tidak rela berpisah dengan istrinya ini.


"Mas, kenapa baru ngasih tau." Rengek Ressa, dia memang tau dulu Tian sering bolak-balik mengurus Extnet Indonesia dan London. Tapi bukan saat dia hamil seperti ini juga, bawaannya pengen dekat-dekat terus dengan suaminya itu.


"Semua dadakan Sayang, kami juga baru membicarakannya tadi sore, demi keberlangsungan Extnet Indonesia." Tian semakin mengeratkan pelukannya. Tau kalau istrinya ini sedang manja-manjanya.


"Berapa lama?" Tanya Ressa cemberut.


"Dua minggu," Tian mengamati wajah sendu Ressa. Dia tidak mungkin membawa Ressa yang sedang hamil besar dalam perjalanan jauh.


"Itu lama Mas, kalau aku kangen gimana?"


"Mas usahakan video call kamu setiap hari ya Sayang, kalau gak sibuk. Karena banyak yang harus aku selesaikan di sana. Kalau bisa aku selesaikan cepat agar bisa cepat pulang."


"Mau gimana lagi? Aku gak ngijinin pun kamu akan tetap berangkatkan," ucap Ressa ketus.


"Honey," Tian mendusel-dusel pipi Ressa. "Ini buat Extnet yang sudah kami perjuangkan dari nol Sayang. Extnet yang sudah membantu ribuan karyawan untuk mendapatkan pekerjaan. Kalau Extnet berakhir sekarang, kemana ribuan karyawan itu akan pergi." Tian berusaha memberikan penjelasan dengan lembut.


"Pergilah," ucap Ressa sambil terisak. Dia tidak bisa menahan Tian untuk dirinya, sedang ada banyak orang yang bergantung hidup pada perusahaan itu.


"Jangan sedih begini Sayang, cuma dua minggu. Kalau aku mengajakmu itu resikonya sangat besar. Aku gak bisa ninggalin kamu kalau kayak gini."


Ressa mengangguk tidak mau bicara lagi.


"Malam ini milikmu," Tian menangkup kedua pipi Ressa. Menghapus sisa air mata yang tertinggal di sana. "Aku akan menemanimu, bermanja-manjalah sepuasnya." Katanya kemudian memindahkan sang istri untuk duduk di pangkuan.


Perempuan itu membenamkan wajah di ceruk leher sang suami, masih dengan isak tangis yang bisa Tian dengar. Lelaki itu hanya mengusap-usapnya punggung Ressa untuk menenangkan.


"Mau suasana baru Sayang, kita menginap di hotel malam ini." Bujuk Tian, Ressa menggeleng pelan.

__ADS_1


"Kalau kamu menangis gini waktu manja-manjanya jadi berkurang, Honey." Tian membaringkan istrinya pelan, "sudah ya nangisnya."


"Honey," Tian tidak tau lagi harus membujuk istrinya ini bagaimana. "Aku gak bisa ninggalin kamu kalau kayak gini."


"Ya sudah kamu ikut." Putus Tian, semoga keputusannya ini tidak membahayakan calon anaknya.


"Aku gak papa, tinggal aja." Perempuan hamil itu membenamkan wajah di bawah bantal.


"Diajak gak mau, ditinggal nangis." Tian memindahkan bantal yang menutup wajah Ressa, memeluknya dari belakang.


"Sayang, udah yuk nangisnya aku masih ada di sini."


Ressa membalikkan tubuhnya, Tian benar kalau terlalu lama menangis yang ada waktunya manja-manja akan berkurang.


"Gitu dong kesayangan Daddy, kalau kebanyakan nangis nanti kamar kita banjir." Gurau Tian, membersihkan sisa air mata di pipi Ressa. Setelahnya ia mengelus-elus perut sang istri. "Daddy pergi sebentar aja Sayang."


"Janji jangan nambah waktu di sana?"


*


"Daddy mau pergi ke mana?" Seru Dea ketika melihat Tian sudah berpakaian rapi dan siap dengan kopernya. Ia memang setiap pagi mendatangi kamar orang tuanya itu untuk menyapa sang adik yang masih dalam perut bubanya.


"Daddy mau ke London, ada yang harus Daddy kerjakan di sana. Titip Buba ya Sayang." Tian berjongkok menggenggam tangan putrinya, tadi malam dia tidak sempat ijin dengan Deandra karena sibuk membujuk Ressa yang terus menangis.


"Kenapa Daddy baru bilang?" Ucap Dea jengkel.


"Maaf Sayang, dadakan. Dea ngerti ya. Daddy harus pergi sekarang." Tian mengecup punggung tangan Dea sambil tersenyum kemudian beralih ke pipi.


Sementara Ressa tidak berkomentar duduk di tempat tidur. Deandra melirik Bubanya yang terlihat sendu.

__ADS_1


"Daddy berangkat berapa lama?" Tanya Dea yang terpaksa menyetujui daddy-nya pergi.


"Dua minggu, bantu hibur Buba Sayang. Temani Buba tidur juga ya." Pinta Tian, putrinya itu sudah bisa diandalkan untuk menjaga sang istri.


"Hati-hati Daddy, aku akan jaga Buba." Deandra tersenyum mencium pipi Tian lalu mendekati ibu sambungnya yang betah membisu.


"Buba, jangan sedih. Kita sarapan dulu yuk, biar dedek sehat." Dea menarik lembut tangan Ressa agar mengikutinya.


Tian juga menggiring di belakang sambil menyeret koper. Dia berpamitan pada orang rumah dan ibu mertuanya.


"Senyum Sayang, biar Mas tenang ninggalin kamu." Bisik Tian, dia pasti sangat merindukan aroma tubuh istrinya ini.


Ressa menarik kedua sudut bibirnya secara paksa. Menyunggingkan senyuman palsu untuk sang suami.


"Mas berangkat Honey," Tian memeluk Ressa sekali lagi sebelum pergi. Hatinya sangat berat meninggalkan sang istri.


Perempuan hamil itu mengangguk seraya tersenyum setelah mencium punggung tangan Tian.


Selepas suaminya berangkat, Ressa menatap sarapan di meja dengan malas. Nafsu makannya sudah hilang.


"Buba, Daddy pergi cuma dua minggu." Ucap Dea seraya mengangkat dua jarinya untuk menarik perhatian Ressa. Tapi ibunya itu tetap bersikap datar.


"Jangan buat Daddy sedih karena Buba sakit saat ditiggal." Gadis remaja itu menyupi Ressa yang tidak memiliki semangat untuk makan.


"Buba gak lapar, Sayang." Tak Ressa halus.


"Buba mau makan apa? Dea belikan." Deandra terus membujuk istri sang daddy-nya itu untuk makan. Ressa menggeleng pelan.


Dea akhirnya berhenti membujuk Ressa, memakan sarapannya sendiri. Membiarkan perempuan dewasa itu meninggalkan meja makan tanpa menahannya.

__ADS_1


"Buba-mu pasti makan nanti kalau lapar Sayang. Biarkan Buba sendiri dulu," Rina menenangkan cucunya yang terlihat sangat khawatir.


Dea mengangguk lemas menatap punggung Ressa yang berangsur-angsur menghilang dari dapur. Rumah yang sekarang mereka tempati sangatlah besar. Sampai bisa bermain sepak bola di dalamnya. Jadi tidak kelihatan bubanya itu masuk ke kamar atau tidak.


__ADS_2