Aksara Cinta

Aksara Cinta
77. Aruna


__ADS_3

"Denis kemana Aru di apartemennya gak ada, gue kira di sini? Dia baru bertengkar dengan Frans." Tian mencari sahabat yang sudah di cintainya sejak lama itu. Mereka kuliah di tempat yang sama hanya beda jurusan di Imperial College London.


"Mungkin kabur ke club lagi." Jawab Denis tenang, ia tidak memusingkan Aruna yang baperan itu. Disentil sedikit menangis, hatinya terlalu rapuh.


"Lo bisa tenang, teman lo itu lagi galau. Temani gue ke sana."


"Malas, lo cari aja sendiri." Denis mengibas-ngibaskan tangannya mengusir Tian.


"Dasar pemalas," decak Tian terpaksa pergi sendiri ke club. Sampai di tempat itu ia mencari-cari gadis yang sudah dua tahun ini dikenalnya. Netranya menemukan Aruna yang sudah mabuk di meja bar sambil meracau tidak jelas memanggil nama pacarnya.


"Frans kamu jahat, kenapa kamu selingkuhin aku. Aku cinta sama kamu. Kenapa kamu tega, hiks." Gumam Aruna sambil terisak.


"Aru, Aruna. Hei sadar!" Tian menepuk pelan pipi gadis itu.


"Frans," Aruna menciumi pipi Tian.

__ADS_1


"Aku Tian, bukan Frans, Aru!" Susah payah Tian menyadarkan Aruna. "Ayo kita pulang," pemuda itu menopang Aruna yang tubuhnya jadi lebih berat karena sedang mabuk.


Baru masuk mobil, Aruna sudah menyosor bibir Tian secara paksa. Membuat pemuda itu menegang. Ada bagian lain yang menuntut ingin di lepaskan saat Aruna menciuminya semakin panas.


"Aru, hentikan. Nanti kamu marah padaku!" Sentak Tian dingin, lalu mengemudikan mobil dengan cepat ke apartemen Aruna. Apartemen mereka satu gedung hanya terletak di lantai berbeda.


Tian menidurkan tubuh Aruna di tempat tidur, tapi gadis yang sedang mabuk itu langsung menarik Tian dan mencumbuinya dengan panas.


"Aru, hentikan!" Teriak Tian, tapi Aruna tidak mempedulikan.


"Frans, jangan pergi aku akan memberikan semua yang kamu mau. Inikan yang kamu mau." Aruna meluncuti semua pakaian Tian dan memain-mainkan senjata pusaka pemuda itu. Tian mendadak membeku, tidak bisa menolak sentuhan tangan Aruna.


"Tian?" Tanya Aruna sendu, air mata masih berbekas di pipinya.


"Iya, aku Tian. Sadar Aru, pakai pakaianmu lagi." Susah payah Tian menahan diri, ia tidak ingin menyakiti Aruna. Walau cintanya bertepuk sebelah tangan. Tian tidak ingin memanfaatkan keadaan untuk mendapatkan Aruna.

__ADS_1


Gadis itu menggeleng, membungkam bibir Tian. Akhirnya pertahanan Tian gagal juga. Dia membalik tubuh Aruna dan mengambil kendali atas perempuan itu.


"Jangan pernah menyesal setelah ini Aru, aku akan menyelesaikannya." Bisik Tian, melihat Aruna sudah kehilangan kendali dan menunggunya datang.


Pengalaman pertama itu membuat Tian candu. Ia tidak menyia-nyiakan kesempatan, Aruna juga tidak lelah bermain. Mereka menghabiskan sepanjang malam dengan panas.


"Setelah ini kamu akan jadi milikku Aru, aku tidak akan melepaskanmu lagi. Walau kamu tidak mencintaiku. Aku akan membuatmu jatuh cinta nanti." Tian mengecup seluruh wajah Aruna lalu menyelimutinya. Mereka tertidur sampai siang karena kelelahan bermain.


Pasangan muda-mudi itu terbangun saat mendengar bel berbunyi. Aruna dan Tian segera memakai pakaiannya. Aruna membuka pintu, dia belum sempat bertanya kenapa Tian bisa berada di kamarnya dan mereka dalam keadaan polos.


"Aru kamu kenapa?" Tanya Denis saat pintu terbuka, gadis itu terlihat sayu. Ia menatap tajam Tian yang berdiri di pintu kamar dengan pakaian berantakan.


Dengan seluruh rasa penasarannya Denis menerobos masuk, dan mengerti dengan semua yang terjadi saat melihat kondisi tempat tidur.


"Apa yang sudah kalian lakukan?" Tanya Denis marah.

__ADS_1


"Aku tidak bisa menghentikan Aru yang mabuk, Denis. Dia menganggapku Frans, aku akan bertanggung jawab dan menikahinya." Ujar Tian membela diri, sedang Aruna hanya terdiam. Tubuhnya masih sangat lelah, tidak ada kalimat yang bisa dia ucapkan.


"Bawa Aru istirahat, Tian. Kita akan bicarakan setelah kondisi Aru membaik." Putus Denis, dia yang salah karena tidak menemani Tian tadi malam. Kalau dia ada di sana, Tian tidak akan kehilangan kendali.


__ADS_2