Aksara Cinta

Aksara Cinta
186. Kerokan


__ADS_3

"Aru makan dulu, kamu seharian ini belum ada makan apapun." Bujuk Ressa, sudah satu minggu Aruna susah makan dan tidur. Perempuan itu terus menangisi putrinya yang belum juga ditemukan.


"Nggak lapar," sahut Aruna dengan suara parau.


"Sedikit saja, dua sendok." Bujuk Ressa lagi mendekatkan sesendok nasi ke mulut Aruna. Tapi Mommy Dea itu tidak mau membuka mulut.


Ressa menarik napas pelan, sudah jam delapan malam suaminya belum pulang. Akhir-akhir ini Tian disibukkan dengan Extnet yang sedang dalam masalah dan juga pencarian Dea. Pikiran suaminya itu terbagi.


"Aku lihat ibu dulu ya," Ressa merapikan rambut Aruna yang berantakan lagi. Jangankan untuk mengurus diri beranjak dari tempat tidur saja perempuan itu tidak mau.


Ressa seperti sedang bicara dengan patung hidup. Bernapas tapi tak mau menjawab. Istri Tian itu melihat ibunya yang terbaring sakit karena memikirkan sang cucu.


"Dea sudah ketemu?" Tanya perempuan tua yang terbaring di tempat tidur.


"Belum Bu," jawab Ressa pelan. Duduk di samping sang ibu sambil memijati tangannya.


"Kamu istirahat ya, Ibu gak papa ditinggal." Ucap Rina pelan, putrinya ini sangat nampak kelelahan.


Ressa menggangguk, dia tidak kembali ke kamar tapi ke ruang tengah menghidupkan televisi. Wanita itu sampai tidak tau kalau suaminya sudah pulang, karena keasikan melamun.


"Sayang," sapa Tian lagi. Mencium puncak kepala Ressa, berkali-kali ia panggil istrinya ini tidak menyahut.


"Aku ke kamar dulu," beritahu Denis pada Tian.

__ADS_1


Suami Ressa itu mengangguk kecil, berjongkok di hadapan sang istri membelai kedua pipinya.


"Kalau kesurupan waktu sendirian gini, siapa yang nolongin." Ucap Tian setengah bercanda mengecup kedua mata Ressa.


"Sayang, sudah pulang?" Tanya Ressa seperti orang bangun tidur yang tiba-tiba linglung.


"Sudah dari tadi Sayang, capek jaga ibu sama Aru ya. Ayo cerita di kamar," dalam lelahnya Tian masih bisa tersenyum di hadapan sang istri. Ia menuntun Ressa ke kamar, setelahnya Tian langsung mandi.


Selesai mandi Tian mendekati Ressa yang melamun lagi, membawanya dalam dekapan sambil menciumi di puncak kepala.


"Sudah makan malam, Sayang?"


"Sudah," Ressa membalas pelukan Tian. Melingkarkan tangan di pinggang lelakinya itu.


"Gimana keadaan perusahaan?" Tanya Ressa pelan. Ia tau suaminya ini juga lelah dengan masalah yang sedang mereka hadapi.


"Extnet sedang kritis Sayang, pihak kepolisian juga sedang mencari komplotan Azmi." Jelas Tian dengan helaan napas berat.


Ressa memejamkan mata menarik napas untuk melegakan rasa sesaknya. Dia bahkan tidak bisa menangis lagi. Setelahnya tidak ada yang mengeluarkan bersuara. Pasangan itu saling diam dengan pikiran masing-masing. Sampai tiba-tiba, "hoeek, hoeek." Ressa muntah air di baju Tian karena perutnya sangat mual, ia tidak dapat berlari ke kamar mandi lagi.


"Kamu masuk angin Sayang," Tian langsung menggendong Ressa ke kamar mandi memijati tengkuknya. Istrinya ini kelelahan mengurus Aruna dan ibunya yang sakit.


"Baju kamu kotor," lirih Ressa yang masih lemas. Hanya muntah air, seminggu ini dia memang kurang istirahat dan banyak pikiran.

__ADS_1


"Tinggal di cuci Sayang," Tian melepaskan kaosnya sambil bergumam dalam hati. "Dia yang sakit, tapi masih memikirkan bajunya yang kena muntah."


Ressa mengangguk pelan, "bisa kerokin aku."


Tian membulatkan mata, seumur hidup dia belum pernah melakukan itu. Mengukir tulang ikan menggunakan koin, mending menggunakan spidol merah sekalian biar lebih jelas warnanya.


"Aku coba, belum pernah sih sebelumnya." Tian menyengir menuntun Ressa kembali ke kamar setelah tidak muntah lagi.


Tian panas dingin memegang koin di tangannya. Ia bukan gerogi karena koin itu, tapi karena punggung polos Ressa.


"Ditarik miring ke bawah, Sayang. Kayak gambar daun waktu SD." Beritahu Ressa cara melakukannya.


"Ini koin Sayang, kulit kamu mengelupas nanti." Katanya seraya mencoba mengerokkan koin itu ke tangannya.


"Sayang, itu biar anginnya bisa keluar. Makanya pake handboby biar licin," jelas Ressa kesal. Dia sudah kedinginan karena punggungnya terbuka.


"Aku keluarin anginnya gini aja, gimana?" Tian membuat ukiran di punggung Ressa menggunakan bibirnya dan menggigit kecil di sana. Menciptakan sensasi panas di tubuh Ressa.


"Nih merah juga Sayang," ujar Tian polos. Dia tidak tega menggoreskan koin itu ke punggung Ressa.


"Tiaaan!! Cepat lakukan aku sudah kedinginan."


"Aku bisa menghangatkanmu dengan cara lain Sayang, pake koin ini menyakitimu." Kekeuh Tian, sejenak mereka lupa dengan segala permasalahan yang sedang menghampiri.

__ADS_1


"Sini koinnya, aku minta tolong ibu aja!" Kesal Ressa merebut koin di tangan Tian, tidak sadar melepas kain yang menutup tubuh depannya. Bola mata Tian membulat sempurna melihat squishy kesayangannya.


__ADS_2