Aksara Cinta

Aksara Cinta
158. Mommy Singa


__ADS_3

Tian membanting pintu ruangan, Ressa masih di rumah sakit dijaga Aruna. Lagi-lagi Erfan menghela napas panjang melihat aksi Tian, ia mengikuti sahabatnya itu.


Pria itu masih terlihat sangat marah, menyandarkan punggungnya di kursi sambil memejamkan mata.


"Balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah. Bahkan bisa menimbulkan masalah baru." Ucap Erfan duduk di kursi depan Tian.


"Gue belum puas kalau belum membalas rasa sakit Ressa," gumam Tian menanggapi ucapan Erfan walau matanya terpejam.


"Coba tanya Ressa, apa dia ingin lo membalaskannya dengan cara seperti itu. Dengan lo melukai Audrey apa sakit Ressa akan langsung hilang?" Erfan mengajak Tian berpikir secara rasional.


Huuhh. Tian menghirup udara yang banyak untuk melepaskan segala emosinya.


"Biar Jeri menjaga Audrey. Audrey melakukan semua itu karena merasa kalian campakkan, dia cemburu pada Ressa. Walau perbuatannya tidak bisa dibenarkan, tapi dia terluka. Dan lo salah satu penyebab lukanya," ujar Erfan memberitahu dengan pelan.


Ya, memang dialah salah satu penyebab Audrey patah hati. Kejadian yang menimpa Ressa itu artinya kesalahannya juga. Karena marah padanya Audrey jadi melukai Ressa.


***


"Bagaimana hari ini Sayang?" Tian tersenyum memberikan kecupan di kening Ressa. Setelah pulang dari kantor ia mampir sebentar di rumah untuk mandi dan berganti pakaian, baru ke rumah sakit.

__ADS_1


Aruna yang seharian ini menjaga Ressa, baru saja pulang diantarkan Denis.


"Sudah lebih baik, kapan aku boleh pulang? Bosan cuma tidur-tiduran di sini. Aku gak sakit, cuma pipinya aja yang luka."


"Harus kering dulu lukanya baru pulang, aku gak mau semakin lama puasa karena spot kesukaanku ini gak sembuh-sembuh." Tian ikut duduk di brankar, perempuan itu tidak bisa lagi memasang wajah cemberut.


"Aisshh bosan jadi orang sakit gini," rengek Ressa.


"Kalau kamu ngeluh gini aku bisa bunuh orang yang bikin kamu sakit loh." Ucap Tian yang sontak membuat Ressa langsung berhenti bicara.


"Hm, ampuhkan ancamanku," Tian tersenyum geli naik ke atas brankar lalu berbaring di pangkuan Ressa.


"Sabar ya Sayang, paling dua hari lagi sudah bisa pulang. Di rumah juga nanti sendirian kan kalau aku kerja." Tian menoel gemas bibir Ressa, "ini ngangenin banget."


"Patung hidupku kenapa diam?" Goda Tian, sebab Ressa tidak menanggapi ucapannya.


"Capek ngomong," sahut Ressa jutek.


"Mandi dulu ya, pipinya masih sakit jadi gak boleh marah-marah. Kalau lama sembuhnya aku yang tersiksa." Canda Tian tanpa beranjak dari pangkuan Ressa.

__ADS_1


"Aku disuruh mandi tapi kamu gak bangun-bangun." Katanya seraya menyapa hidung Tian dengan jari kepiting.


"Duuhh, jari kamu ini nakal ya. Coba gak sayang sudah kupotong!" Sarkas Tian menggigit jari yang digunakan Ressa untuk mencubitnya tadi.


Ressa cepat menarik jemarinya, tubuhnya seperti terkena setrum karena kelakuan Tian.


"Pelit amat, ya udah main squishy aja." Goda Tian mengerling jahil. Ressa menutup mata Tian yang nakal.


"Sayang, masa disuruh puasa semuanya. Kan cuma pipi yang sakit," rengek Tian manja.


"Dasar tidak tau tempat," gumam Ressa dalam hati. Ingin marah-marah tapi kasihan lukanya. Jadi terpaksa diam tanpa kata.


"Sayang," panggil Tian manja sengaja mendusel-dusel di perut Ressa. "Semoga dedek mau tinggal di sini lagi ya. Daddy mau gendong baby biar gak di suruh gendong mommy singa terus."


Ressa membulatkan mata mendengar panggilan baru yang diucapkan Tian untuknya. Kapan dia minta gendong.


"Mommy juga pengen tidur meluk baby biar gak ada yang gangguin mommy tidur." Balas Ressa jengkel, tapi sayang wajahnya tidak bisa menampilkan ekspresi itu.


"Honey, gak bisa gitu dong. Itu namanya penyiksaan," ringis Tian sambil memain-mainkan baju Ressa seperti anak kecil.

__ADS_1


__ADS_2