
Jeri mengantar Audrey ke apartemen lebih dulu sebelum membawa ibunya ke rumah sakit. Sepanjang jalan sang ibu hanya menanyakan perihal Tian dan istrinya. Jeri melirik Audrey yang melamun di kursi penumpang belakang. Kenapa tidak tepat begini, harusnya ia memberitahu keberadaan Tian lebih dulu baru membawa Audrey menemui ibunya.
"Ibu tunggu sebentar ya aku antar Audrey ke atas," ijin Jeri ingin mengantar Audrey sampai ke depan pintu.
"Dia bisa jalan sendirikan ngapain harus diantar, Jeri." Sahut sang ibu ketus karena akan terlambat bertemu keponakannya kalau Jeri mengurusi calon istrinya itu terlebih dulu.
"Ibu benar, aku bisa sendiri Jeri gak akan tersesat. Cepat antar Ibu." Suruh Audrey sambil tersenyum ramah menyalami ibu Jeri.
Jeri mendesah pelan terpaksa mengalah pada sang ibu padahal Audrey terlihat banyak pikiran.
Audrey melambaikan tangan melepaskan kepergian mobil Jeri. Hatinya terasa sesak, mungkin ini balasan untuknya. Tian memang tidak menghukumnya, tapi Tuhan yang menghukumnya.
Perempuan itu masuk ke apartemen dengan berjalan gontai. Ia belum membereskan kamar sebelah yang ada bekas darah Ressa. Audrey terduduk di sana menatap darah itu.
"Kamu menang Ressa, sekarang tidak ada yang menginginkanku. Aku sendirian sekarang," gumam Audrey tersenyum, tapi air matanya berjatuhan. Perempuan itu membereskan seprai dan sarung bantal yang bernoda merah memasukkannya dalam keranjang cucian. Nanti akan dia bakar.
__ADS_1
Ia kembali ke kamar mengambil cutter di laci dan membuangnya. Tangannya mengambil album foto yang berisi kenangan dengan Tian.
"Sekarang kamu sangat membenciku, Tian. Padahal aku sangat menyayangimu, memang caraku ini salah. Aku memang bukan perempuan baik yang pantas dibanggakan. Ayah dan bunda juga membenciku, mungkin selanjutnya Jeri yang akan pergi meninggalkanku. Karena Ibu Jeri seperti tidak menyukaiku." Curhat Audrey sambil memeluk foto itu sampai tertidur dengan air mata menggantung.
***
"Kenapa kita ke rumah sakit Jeri?" Tanya sang ibu penasaran. Bukan menuju komplek perumahan malah mendatangi tempat orang ramai datang berobat.
"Mereka ada di sini Bu." Jawab Jeri membawa ibunya masuk keruangan Ressa.
"Kamu sehat Sayang?" tanyanya membelai pipi Tian dengan berurai air mata.
"Aku sehat Bibi," Tian tersenyum mengecup kening perempuan paruh baya itu. Tangannya menyeka air mata di pipi. "Tidak boleh menangis," katanya sambil menggeleng pelan.
Perempuan paruh baya itu mengangguk, melirik ke arah brankar. "Dia istrimu? Tanyanya lagi, Tian mengiyakan dengan anggukan, "kenapa dengan pipinya?"
__ADS_1
Ibu Jeri mendekati Ressa, perempuan yang sedang berbaring itu bangun.
"Ada yang melukainya, Bibi."
"Siapa yang berani melukainya?" Tanya perempuan paruh baya itu geram setelah mengamati luka yang cukup panjang di pipi Ressa.
"Audrey," lirih Tian yang membuat Jeri mendesah berat. Restunya akan terhalang setelah ini.
Perempuan itu beralih dari Ressa menatap Jeri tajam, "kamu tidak mau jelaskan sesuatu Jeri?" Teriaknya marah. "Apa dia perempuan yang kamu kenalkan pada ibu tadi?"
Jeri mengangguk pelan, berkilah juga tidak bisa karena Tian sangat jelas menyebutkan nama Audrey.
"Ibu tidak akan merestui kamu menikahinya, ibu bisa mencarikan perempuan yang lebih baik darinya!!"
Tian dan Ressa saling pandang, jadi Jeri sudah membawa Audrey bertemu ibunya. Dan dia salah bicara.
__ADS_1
Jeri hanya diam, percuma membantah sekarang.