
"Honey, bangun yuk. Badan kamu bisa sakit tiduran seharian." Tian berusaha membangunkan Ressa yang sampai lewat tengah hari belum mau beranjak dari tempat tidur.
"Udah dong ngambeknya, Sayang."
Istri muda merajuk, balik ke rumah istri tua. Kalau dua-duanya merajuk, ana kawin tiga. Tian menyanyi dalam hati sambil tertawa kecil. Demi menemani Ressa dia tidak ke kantor hari ini.
Tian membangunkan paksa Ressa mendudukkannya di pangkuan sambil mengusap-usap di perut. "Dedek, bilangin mama merajuknya jangan lama-lama. Jangan bikin papa bingung."
"Sini ngomong, mau apa Sayang." Tian merapikan rambut Ressa yang berantakan. Dia seperti membujuk anak kecil yang sedang merajuk. Lengkap sudah, ibu hamil muda dibikin sakit hati ya begini jadinya.
Pria itu bangun, menggendong tubuh Ressa yang sebenarnya berat. Membawanya berjalan-jalan di dalam rumah, tidak mungkinkan dia menggendong Ressa keliling komplek.
__ADS_1
Apalagi cara yang harus digunakannya, kalau diam dan tidak mau disentuh begini semakin susah. Tian dibuat galau oleh ibu hamil yang seperti mayat hidup ini.
"Honey, kalau kamu terus diam begini, bagaimana aku." Tian membenamkan kepalanya di ceruk leher Ressa karena lelah. "Aku tidak tau harus apa, Sayang."
Tian membaringkan kembali tubuh Ressa di tempat tidur. Mungkin cuma cara ini yang bisa membuat Ressa lupa dengan pikirannya. Dia harus mengalihkan overthinking istrinya ini agar berhenti merajuk.
Ia melepaskan semua pakaiannya di depan Ressa, membuat perempuan yang sengaja memilih diam itu menahan napas dan menutup mata.
"Sayang jangan tutup mata, bilang kalau kamu mau." Goda Tian sambil tersenyum, dia sengaja duduk di sisi tempat tidur mengambil tangan Ressa agar menyentuh miliknya. Kalau dia tidak bisa membuat Ressa tergoda paling tidak perempuan itu marah-marah lagi padanya.
Oh Tuhan, apa ia harus memasukkan benda itu padanya. Membayangkan pergulatan panas Tian dan Aruna membuat Ressa bergidik ngeri. Tapi dia tetap harus melayani suaminya kan.
__ADS_1
Ressa menahan air matanya yang ingin sekali tumpah. "Bisa Ressa, kamu bisa mematikan hatimu. Setelah ini jangan pakai perasaan lagi agar kamu tidak terluka. Lambat laun kamu pasti akan tersisih, apalagi hanya istri kedua yang disimpan." Ujarnya terus bergumam dalam hati untuk menguatkan.
"Baiklah, dedek kuat ya Sayang. Maafkan mama," batin Ressa lalu menuruti kemauan Tian, mengurut benda yang ada di sana dengan lembut. Ekspresi wajahnya masih datar.
Tian tersenyum membawa Ressa dalam pangkuan. "Terimakasih Honey," katanya sambil melepaskan pakaian di tubuh Ressa.
Perempuan itu hanya diam menerima semua perlakuan Tian. Walaupun Tian memperlakukannya sangat lembut, tetap saja hatinya teramat sakit seperti sengaja dicabik-cabik lalu ditaburi garam.
"Sayang," Tian menghentikan aksinya menyadari Ressa yang menangis. Ia menyelimuti tubuh istrinya itu lalu membawanya dalam pelukan. "Aku gak tau lagi harus bagaimana membuatmu berhenti marah." Ucapnya frustasi, bisakah dia keluar dari semua masalah pelik ini sekarang juga. Tian tidak bisa melihat Ressa yang terluka seperti ini.
"Katakan Sayang, apa aku harus menceraikan Aru sekarang?" Pikiran Tian mendadak buntu, hanya itu satu-satunya cara untuk membuat Ressa kembali seperti dulu.
__ADS_1
"Aku cuma lagi pengen diam, Tian. Kamu tidak perlu melakukan apapun." Suara emas yang Tian tunggu akhirnya terdengar juga. Ressa tidak ingin terlihat egois membuat Tian menceraikan istri pertama di hari pertama pernikahan.
"Baiklah aku tidak akan mengganggumu, tapi jangan buat aku khawatir. Anak kita perlu asupan nutrisi, Sayang." Tian memasangkan kembali seluruh pakaian Ressa. Ia harus super sabar menghadapi istri mudanya yang sedang hamil muda ini.