
Ressa tidak sekedar mengancam. Perempuan hamil itu benar-benar mengunci pintu setelah makan malam. Tian dibuat nelangsa, dia sudah berulang kali membujuk istrinya itu. Tapi tidak berhasil. Hah, derita yang dibuat sendiri.
"Honey, buka pintunya. Aku sakit, meriang nih." Ujar Tian memelas berharap Ressa iba dan membuka pintu. Setelah itu dia akan menerobos masuk.
"Di lemari sebelah ada selimut, Sayang. Obat juga ada dalam kotak di lemari dekat televisi." Sahut Ressa sengaja dimanja-manjakan agar Tian semakin tersiksa.
"Gak enak Honey, mau peluk dedek biar cepat sembuh." Kenapa kalau lagi gini suara istrinya itu sangat manis, kesal Tian pada dirinya sendiri.
"Dedek bisa ketularan sakit Sayang kalau kamu peluk. Sudah cepat tidur sana, nanti sakitnya tambah parah." Ressa tertawa gelak di dalam kamar, pasti suaminya itu sangat kesal.
Jurus apalagi yang harus ia gunakan agar bisa meluluhkan hati istrinya ini. Tian kehabisan akal, akhirnya tidur di kamar sebelah. Tidak ada guling bergerak yang bisa dipeluknya.
Setelah hampir satu jam tidak ada suara Tian merayu-rayu lagi. Ressa mencari suaminya itu di kamar sebelah. Ia naik ke atas tempat tidur dengan pelan dan meringsek masuk dalam pelukan Tian. Untung sudah tidur, gumamnya.
"Hm, ada yang gak bisa tidur tanpa dipeluk nih," Tian tersenyum penuh kemenangan. Langsung memeluk Ressa possesif. Dia hanya pura-pura tidur saat istrinya itu membuka pintu kamar.
"Kamu belum tidur?" Ressa menganga, dia kena jebakan batman.
"Belum Honey, ayo kita pindah kamar." Tian langsung menggendong tubuh Ressa ala bridal style.
"Aku mau turun Tian, turunin. Aku takut jatuh!" Ressa terpekik karena terkejut sudah berada dalam gendongan Tian.
__ADS_1
"Jangan banyak bergerak, Ressa. Kasihan banget anakku punya ibu bar-bar gini." Kekeh Tian mendorong pintu dengan kakinya lalu menurunkan Ressa hati-hati di tempat tidur.
"Tian! Kamu menjelekkan aku di depan anakmu, hah." Saking kesalnya Ressa menjewer telinga sang suami.
"Aduuh, istri durhaka. Sakit tau, tangan kamu itu kayak tangan kepiting, Sayang." Tian mengelus-elus telinganya yang terasa kebas.
"Kamu juga suami durhaka!" Ujar Ressa tidak mau kalah, ia langsung menarik selimut.
"Ngambek lagi," Tian menggaruk kepalanya sambil cengengesan, padahal dia sendiri yang membuat ulah. "Cup... cup... Sayang, kita main yuk. Aku punya gaya baru nih."
Emang dasar Tian semprul, otaknya tidak bisa jauh-jauh dari hal yang berbau mesum. Ressa sampai bingung, saat pembagian otak. Otak suaminya ini tercecer di mana.
"Berharap kamu lembut sama aku itu kayak lagi nungguin bulan bisa ngomong, gak akan mungkin. Bawaannya marah-marah terus kalau dekat aku, kenapa sih." Tian mengelus belakang kepala Ressa dengan penuh kasih sayang.
"Kamunya aja yang suka ngeselin, mancing keributan terus. Kalau mau mancing itu di empang bukan mancing emosi aku."
Tian terkekeh geli, belum punya anak saja hari-harinya jadi rame. Pasti ada saja celotehan istrinya ini yang membuatnya tertawa. Itulah kenapa ia sangat suka membuat Ressa marah-marah.
"Kamu mau kita adain resepsi, Sayang. Biar aku siapin, sebelum dedek semakin besar."
"Enggak deh, gini aja. Yang pentingkan sudah dapat buku nikah."
__ADS_1
"Tapi aku mau semua orang tau, kalau kamu itu milik aku."
"Jadi kamu nanya pendapat aku apa sedang memberikan informasi kalau ingin mengadakan resepsi?" Ressa menaikkan sebelah alis, bukan dia yang emosional. Suaminya saja yang senang memancing emosi.
"Tuhkan, apa-apa jawabnya judes banget." Tian terkekeh geli mengunyel-unyel pipi Ressa.
"Kamu suka bikin aku emosi, Tian."
Tian menggeleng pelan, "My Tian or Sayang, biar romantis," katanya mesra.
Ressa menjawab dengan dengusan.
"Ya sudah kita gak perlu ngadain resepsi, yang penting kamu dan bayi kita sehat." Putus Tian, senyamannya Ressa sajalah.
"Gimana dengan bayi yang Audrey kandung?" Tanya Ressa tiba-tiba.
Ya Tuhan, perang bakal berlanjut sepertinya, Tian mendesah berat. Apapun yang dia katakan pasti istrinya ini punya pemikiran sendiri.
"Gak ada bayi di sana Sayang, kita tidur. Aku capek." Ujar Tian, ingin menghindari perdebatan yang takkan ada akhirnya.
"Jangan menghindar Tian!" Desis Ressa garang.
__ADS_1