
Hah. Ressa mengetuk-mengetuk kepalanya dengan jari telunjuk. Ia benar-benar masuk perangkap Tian sekarang.
Argh. Kenapa Tian yang harus jadi bosnya lagi dari sekian banyak pengusaha di bumi pertiwi ini.
Ressa menyelesaikan pekerjaannya, biar nanti dia pikirkan lagi nasib selanjutnya. Ia bersikap biasa saat memasuki ruangan Tian. Berusaha bekerja dengan profesional, walau hatinya sangat ingin memaki sang bos cassanova itu.
"Lagi pusing, lo gak ceria seperti biasanya. Apa bos baru galak?" Tanya Agam saat mereka makan siang bersama-sama di kantin.
"Tapi kayaknya enggak deh, sama gue biasa aja. Tegas tapi gak terlalu galak," sambungnya. Mencari-cari penyebab murungnya Ressa.
"Mungkin bos gak suka sama gue aja." Ressa menjawab rasa penasaran Agam dan yang lainnya.
Zeni tertawa gelak, "baguslah. Mana mungkin bos setampan itu suka sama lo. Kita tukar posisi aja, lo jadi sekretaris Pak Direktur, biar gue jadi sekretaris Pak Presdir." Ujarnya dengan percaya diri.
"Saran bagus, coba lo urus ke bagian personalia. Gue bersyukur banget kalau bisa gitu."
Ressa tersenyum dia punya ide bagus. Zeni bisa digunakannya sebagai alat untuk menjauh dari Tian.
"Lo kira semudah itu, no... no... no..." Amel ikut menanggapi sambil geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Mereka pikir ini sinetron bisa seenaknya dewe," Budi ikut-ikutan berkomentar.
"Ya bisa aja, apalagi kalau Pak Bos sendiri yang minta, ya kan." Zeni tersenyum miring.
"Gue dukung lo Zen, semangat buat dapetin Pak Bos." Ressa menepuk bahu Zeni girang, walau ada rasa di hatinya yang sedikit tersentil.
Sepulang kerja Ressa kembali ke apartemen. Pagi tadi sudah membawa beberapa potong pakaian. Ia butuh menenangkan diri dan menjernihkan pikiran.
Selesai mandi Ressa membaringkan tubuh di atas kasur. Baru ingin memejamkan mata, ponselnya berbunyi. Ayahnya mengirim pesan agar dia pulang.
Mau tidak mau Ressa pulang ke rumah. Jadi orang dewasa itu rumit. Ingin menikah tapi tidak ada calonnya. Pas ada, tidak sesuai keinginan. Sedang orang tua sudah terus mendesak. Huh.
Sampai rumah Ressa langsung masuk ke kamar. Pikirannya sedang benar-benar lelah. Selain ibu yang selalu mengganggu sistem kerja otaknya, sekarang Tian juga ikut-ikutan mempengaruhi pikirannya.
"Kerjaan di kantor lagi banyak ya?" Amrin duduk di sisi tempat tidur memberikan usapan di kepala Ressa. Sangat jelas raut lelah terpampang di wajah putrinya ini.
"Iya, lagi pergantian bos jadi lumayan banyak kerjaan Yah." Ressa bangun lalu menyandarkan kepala di bahu sang ayah. Sikap hangat Amrin mampu melepas segala penat yang ia rasakan.
"Ayah malu ya punya anak belum nikah-nikah?" Tanya Ressa bersikap biasa saja, tanpa menampilkan wajah terluka.
__ADS_1
"Kenapa harus malu. Kecuali kamu hamil di luar nikah atau merebut suami orang, baru Ayah malu." Amrin menepuk-nepuk bahu Ressa dengan penuh kasih sayang.
"Jodoh itu rahasia Allah, gak bisa dipaksakan. Semua punya waktunya masing-masing. Seperti matahari dan bulan, semua bersinar pada waktunya."
"Kalau aku menikah dengan lelaki yang suka main perempuan bagaimana menurut Ayah?"
Lelaki paruh baya itu menyelami netra putrinya yang sendu, "apa kamu seputus asa itu menunggu jodoh dari Allah, Nak?"
"Aku gak tau, Ayah. Aku lelah selalu didesak ibu. Aku juga punya perasaan, Ayah. Setiap mendengar tuduhan ibu rasanya sangat sakit." Ressa mengungkapkan segala keresahannya pada sang ayah.
"Lelaki yang baik akan menghormati perempuannya. Dia akan menjaga hati untuk orang yang dia sayangi. Tidak akan bermain dengan banyak wanita hanya demi memuaskan nafsu semata."
Bagaimana Tian bisa menjaga hatinya sedang lelaki itu selalu menikmati malam panjang bersama para wanita.
"Jangan menikah karena merasa terdesak. Karena kamu yang akan menjalani bahtera rumah tangga itu bukan ibumu atau orang lain," nasehat Amrin.
"Kalau aku tidak menikah dan ayah tidak punya cucu dariku, bagaimana?" Ressa mendongakkan kepala menatap netra teduh sang Ayah sambil menunggu jawaban.
Amrin tersenyum merapikan anak rambut yang menutupi kening Ressa. "Biar takdir Allah yang bekerja, Nak. Ayah akan selalu mendoakan kebaikan untuk setiap langkahmu."
__ADS_1
"Terimakasih, Ayah."
Setidaknya masih ada sang ayah yang mau mendengarkan segala keluh kesahnya. Sebelum kepalanya benar-benar meledak karena overload.