
"Kenapa gak berhenti menangisnya Honey," Tian mengecup kedua kelopak mata Ressa.
"Luka kamu basah nanti, berhenti Sayang. Ayah ada di sini, gak kenapa-kenapa." Lagi-lagi Tian menahan air mata Ressa dengan tissue agar tidak mengenai luka seraya menenangkan.
"Perasaanku gak enak," ucap Ressa pelan.
"Apa Ressa hamil, tiba-tiba moodnya berubah dengan cepat begini." Batin Tian, tangannya masih bergerak mengelus-elus punggung istrinya itu.
"Apa yang kamu pikirin Sayang, apa yang mengganjal di sini?" Tian menempelkan telapak tangannya yang lain di dada Ressa.
Perempuan itu menjawab dengan gelengan. Sang suami hanya bisa menghela napas pelan. Susah kalau ditanya jawabnya geleng-geleng kepala.
"Kita sarapan dulu biar otaknya gak komplain karena kelaparan," Tian tersenyum mengajak istrinya bercanda.
"Otak bisa komplain?" Tanya Ressa lugu, mencoba mengabaikan perasaannya. Mungkin dia sedang mendekati periode menstruasi jadi suasana hatinya tidak baik begini.
"Bisa, nih contohnya. Gak ada angin, gak ada hujan, gak ada petir tiba-tiba nangis sesenggukan. Mana air matanya sampai satu gayung, kalau air matanya habis gimana." Tian menggigit gemas ujung hidung Ressa yang mulai reda tangisannya.
__ADS_1
"Tadi dikumpulin airnya?"
"Gak usah digemas-gemasin gitu juga suaranya Sayang. Aku bisa sarapan kamu nih pagi ini. Sengaja godain aku ya?"
"Aku ini nanya, gak ada godain kamu." Karena tidak memungkinkan untuk cemberut Ressa mencubit hidung Tian.
Sang suami tersenyum penuh misteri, tiba-tiba mengulum benda kenyal yang beberapa hari ini tidak bisa ia rasakan kenakalannya.
"Kangen banget sama ini," rengek Tian menoel-noel bibir Ressa dengan jemarinya. Ia hanya bisa menyesapnya sedikit, sungguh sangat mengurangi cita rasa kelezatan dari bagian tubuh yang terkenal tidak bertulang itu.
"Tapi aku gak kangen, gimana dong?" Ucap Ressa manja, ia sudah berhenti menangis.
"Aku mau digendong," Ressa sengaja memanja-manjakan suaranya.
"Hah!" Tian membulatkan mata, ada apa dengan istrinya ini. Ia reflek menempelkan telinga di perut Ressa. "Apa di sini ada dedek, jadi mommy aneh hari ini."
"Sayaaaaang, jangan ngawur ih. Ayo sarapan!!" Katanya menarik sang suami yang mulai demam baby.
__ADS_1
Tian mengikuti Ressa ke meja makan dengan lemas. Istrinya ini menghentikan kesenangannya saja, dia sedang asik mencari baby di perut itu.
"Honey, aku lagi cari baby kenapa digangguin." Tian mendudukkan pantatnya dengan lesu, ia sangat rindu ingin punya baby. Andai ia menjaga Ressa dengan baik mungkin sekarang masih bisa menciumi perut kembung sang istri.
"Ini dimakan sarapannya Sayang, perut aku ini isinya nasi belum ada baby." Ressa duduk di samping Tian setelah mengambilkan sarapan. Sang suami malah menempelkan kepala di bahunya.
"Kangen baby, Sayang. Aku nyesel gak bisa jagain kamu saat hamil."
Tangan Ressa terulur mengelus-elus pipi Tian. "Kenapa sekarang daddy yang sedih?" Tanyanya bingung, tadi Tian yang menghiburnya agar berhenti menangis.
"Kangen," ulang Tian.
"Sekarangkan kita punya Dea, Sayang." Ucap Ressa lembut membawa kepala Tian dalam dekapannya.
"Dari dulu aku mau anak dari kamu," ujar Tian sendu.
"Sayang, jangan bicara begitu. Kalau Dea dengar dia akan tersinggung. Jangan begini lagi ya, ayo sarapan dulu. Aku mau menemani ayah setelah ini." Ressa mengakhiri ucapannya dengan memberikan satu kecupan di pipi sang suami.
__ADS_1
"Suapin," pinta Tian sengaja dimanja-manjakan. Ressa menurut, daripada acara makan tertunda lagi lebih baik menurut saja.