
Otak Ressa berpikir keras atas ucapan Tian. Dia sekarang berada diambang keputusasaan akan keinginan ibunya yang terus memaksanya menikah. Akalnya menjadi lumpuh.
"Aku mau," ucap Ressa sambil memejamkan mata.
"Kamu serius? Aku gak mau kamu terpaksa dan menyesal." Tian menatap lekat netra Ressa lalu mengecup pada kedua bola mata itu.
"Aku serius!"
"Apa kamu seputus asa ini karena dipaksa menikah." Tian tadi hanya menggoda tidak benar-benar serius dengan ucapannya. Dia tidak ingin menghancurkan hidup Ressa.
Ressa terdiam, darimana Tian tau kalau dia selalu dipaksa menikah. Apa saat mabuk dia banyak bicara.
"Aku gak bisa Ressa, jangan serahkan dirimu pada singa lapar sepertiku." Tian mengecup kening Ressa lalu mengurai pelukan. Susah payah dia menahan hasratnya yang menggebu-gebu saat berada di dekat Ressa.
"Aku gak mau kamu rusak karenaku, ayo aku antar kamu pulang. Aku akan datang melamarmu besok, kalau kamu mau menikah denganku."
"Aku gak mau pulang!" Ressa memeluk Tian lagi mencari kenyamanan di dada bidang itu.
__ADS_1
"Jangan nakal Ressa!" Sentak Tian, tangan perempuan itu tidak bisa diam menelusup ke dalam kaosnya.
"Aku sudah berusaha menahan diri, tapi kamu yang menyerahkan diri pada singa lapar. Aku tidak akan membiarkanmu nganggur malam ini."
Tian membopong tubuh Ressa ke kamar, melepas tali kimono perempuan itu. Tubuh indah terpampang jelas di depan matanya.
"Aku sudah siap menjadi santapanmu," ujar Ressa mantap.
"Jangan pernah menyesal, kamu yang menyerahkan dirimu sendiri." Ressa tersenyum lalu mengangguk tanpa ragu.
Pergumulan panjang itu berakhir dengan bobolnya pertahanan Ressa. ******* dan erangan perempuan itu membuat Tian semakin bergairah. Sepanjang malam yang pernah ia lewati bersama perempuan-perempuan. Malam inilah yang paling istimewa baginya.
"Aku akan datang memintamu pada ayah dan ibumu besok. Kita akan mengulanginya nanti, kamu suka?"
Wajah Ressa merona merah, ia mengangguk malu-malu. Rasa yang selama ini tidak pernah dia rasakan. Ia seakan dibawa Tian terbang ke langit.
"Tidur, Honey." Tian tersenyum cerah, memejamkan mata sambil mendekap perempuan yang memenuhi relung pikirannya tiga tahun terakhir ini.
__ADS_1
Tian terjaga lebih dulu, Ressa masih betah tidur dalam pelukannya. Mimpi apa dia semalam sampai Ressa menyerahkan diri padanya secepat ini. Dia tidak terpikir melakukan hal ini pada Ressa sebelum menikahinya.
"Morning Honey," sapa Tian dengan senyuman saat Ressa membuka mata. Ressa membalas dengan tersenyum juga.
"Aku gak punya baju buat ke kantor hari ini. Mobilku juga masih di club."
"Kamu gak usah kerja, biar aku aja yang kerja." Tian membelai dengan sayang rambut Ressa.
"Aku mau kerja, bosan di rumah." Kekeuh Ressa bangkit dari ranjang sambil meringis, area sensitifnya terasa nyeri.
Tian tersenyum, karena kegagahan adik kecilnya sudah membuat perempuan itu sudah berjalan.
"Mau aku bantu mandi?" Tawar Tian sambil mengerling jahil. Ressa mendengus mengambil kimono lalu beranjak ke kamar mandi dengan berjalan pelan.
Setelah dibawa berendam nyerinya terasa berkurang. Ressa memejamkan, mata menyadari apa yang sudah dilakukannya. Dengan begini ibu tidak akan memintanya menikah dengan lelaki tidak jelas itu. Ia akan membuat laki-laki itu mundur, apalagi ada Tian. Bosnya itu tidak akan tinggal diam jika ada yang ingin menikahinya.
Biarlah setelah ini ia menjalani neraka pernikahan dengan Tian. Daripada neraka yang dibuat oleh ibunya.
__ADS_1