
Tian memegangi kepalanya yang terasa lebih berat. Menyingkirkan handuk kecil yang ada di keningnya.
"Sayang, kenapa menangis?" Ia bangun mendekati Ressa, mata perempuan itu masih berair. Bodohnya Tian bertanya seperti itu, jelas-jelas istrinya menangis sebab dirinya.
"Pulang yuk Sayang. Kita istirahat di rumah." Tian duduk di samping Ressa, menariknya dalam pelukan. "Seberapa banyakpun aku mengucapkan maaf itu pasti tidak akan bisa menebus semua salahku. Tidak dapat mengembalikan anak kita. Aku rela dibenci seluruh dunia asal kamu tidak ada di dalamnya. Aku mencintaimu Ressa Azkia, istriku tersayang."
Tian menempelkan pipinya pada Ressa, hatinya ikutan seperti dicabik-cabik melihat Ressa yang menangis dalam diam.
"Ayo pulang," Tian merangkul Ressa menuntunnya ke mobil, syukurlah tidak ada penolakan. Dia akan belajar sabar lagi menemani patung hidupnya ini. "Maaf gak bisa gendong, badanku lemas." Ucapnya saat memasangkan sabuk pengaman.
Tian membawa Ressa pulang ke rumah. Alangkah terkejutnya dia saat sampai malah sudah ditunggu ibu mertuanya dan Aruna. Apalagi yang terjadi setelah ini, badannya menginginkan istirahat.
"Jadi kamu sudah merebut suami kakakmu, hah. Dasar anak tidak tau diri, tidak tau malu sekali merebut suami orang!!" Teriak Rina marah.
"Bu, jangan marah-marah. Malu di dengar orang." Tegur Aruna mereka masih berada di teras. Ibunya berteriak seperti memakai toa mesjid, kalau ada tetangga lewat sangat memalukan. Selain itu, kondisi Ressa juga masih belum stabil. Ibu bisa memperparah keadaannya.
"Kamu juga, dasar lelaki hidung belang!!" Rina menatap rendah Tian.
__ADS_1
Tian menanggapi dengan senyuman miring, membawa Ressa masuk ke rumah. Ia tidak mau Ressa mendengarkan perkataan pedas sang ibu mertuanya itu.
"Sudahlah Bu, semua sudah terjadi gak baik menyalahkan orang lain. Semua bukan salah Tian. Ayo pulang, ibu di sini hanya membuat kekacauan dan bikin malu."
"Nggak, ibu mau ngasih pelajaran anak nakal itu." Rina menyusul masuk ke rumah, menarik Ressa dengan kasar dan menampar keras di pipi.
Ressa meringis kesakitan. Gerakan cepat itu membuat Tian tidak dapat berbuat apa-apa setelah sadar dia langsung membawa Ressa dalam pelukan.
"Saya peringatkan anda sekali lagi, jangan pernah menyentuh Ressa. Aru, bawa ibumu pulang!!" Teriak Tian murka.
Tian berdecih, "aku tau siapa yang menghasut Dea agar Mommy-nya menikah denganku. Itu semua anda lakukan untuk menyakiti Ressa. Anda sudah lama tau kalau aku ayah Dea, sekarang belum puas menyakitinya." Ucap Tian dingin.
Ia sudah muak melihat tingkah rubah ibu mertuanya ini, memanfaatkannya hanya untuk membuat Ressa hancur. Kalau bukan karena Dea dia tidak akan menikahi Aruna dan masuk dalam permainan perempuan tua di depannya ini.
Aruna hanya diam, ibunya memang tau siapa ayah Dea sejak dulu. Dia pernah menunjukkan fotonya pada ibu. Tapi Aruna tidak tau kalau ibu menjadikan dirinya sebagai pion untuk balas dendam dan menyakiti Ressa.
"Baguslah kalau kamu sudah tau. Bukan aku yang menyakiti Ressa, dia sendiri yang bodoh. Aku sudah melarangnya menikah denganmu dan memilihkan lelaki yang baik. Tapi malah bersikeras ingin menikah denganmu."
__ADS_1
"Ibu, kalau ayah tau ibu sengaja melakukan ini untuk membuat Ressa menderita ayah pasti akan meninggalkan ibu. Sudah ayo kita pulang, semua sudah selesai."
"Dia bukan anakku Aru, aku muak mengakuinya sebagai anak. Dia sama seperti ibunya, perebut suami orang!!"
Ressa terisak dalam pelukan Tian, kalimat terakhir yang Rina ucapkan itu sangat menyakitkan.
"Siapa yang perebut suami orang?" Tanya Amrin dingin dari depan pintu, "aku menikah denganmu itu karena ibu kandungnya Ressa. Sekarang juga aku akan menc—"
"Ayah jangan!" Teriak Ressa, melepaskan pelukan Tian menghambur kepelukan sang ayah. "Jangan katakan apapun yang akan menimbulkan perpisahan dikeluarga kalian. Biar aku saja yang pergi."
"Maafkan Ayah, Sayang. Karena ayah kamu harus menderita seperti sekarang. Aru bilang kamu baru pulang dari rumah sakit."
"Jangan minta maaf, Ressa yang nakal. Aku baik-baik aja Ayah, sudah sehat." Istri Tian itu semakin terisak dalam pelukan Amrin.
Aruna menarik ibunya pulang, agar tidak ada keributan lagi. Cukup pagi tadi dia membuat drama yang tidak masuk akal. Sekarang jangan ada drama lagi.
"Daddy, Tante Ressa juga ada di sini!"
__ADS_1