
"Jangan menghindar Tian!" Desis Ressa garang dengan kedua bola mata yang hampir menyembul keluar.
"Beneran Sayang, gak ada bayi lagi di perut Audrey. Dia sudah menggugurkannya tanpa sepengetahuanku." Jelas Tian akhirnya, padahal ia sedang malas membahas perihal lain selain seputar ranjang panas mereka.
"Kamu mau bertanggung jawab?"
Tian mengangguk malas. "Iya, aku sudah menawarkan untuk menikahinya. Tapi Audrey menolak malah menggugurkannya tanpa aku tau." Lirihnya, takut istri bar-barnya ini mengamuk lagi.
"Sebelum mengajak aku menikah jadi kamu sudah mengajak Audrey menikah?" Tanya Ressa lagi, dan lagi-lagi Tian mengiyakan dengan anggukan.
"Maafin aku Sa, aku cuma mau mempertanggung jawabkan apa yang sudah aku perbuat," lirih Tian berharap Ressa mau mengerti posisinya sebagai lelaki.
__ADS_1
Ressa mengangkat sebelah alis lalu tertawa sinis. "Ngapain minta maaf, aku tau posisiku Tian. Pada akhirnya aku nanti akan tersingkir di sisi kamu karena perempuan lain. Aku sudah menyiapkan diri untuk itu."
"Sayang, tidak akan ada yang bisa menyingkirkan kamu di sini," Tian mengambil tangan Ressa, meletakkan telapak tangan itu ke dadanya. "Aku akan tetap jadi milik kamu selamanya."
Perempuan hamil itu menggeleng pelan, "andai kehidupan sesederhana itu Tian. Saat Audrey tau kamu menikahi aku, pasti dia akan merebut kamu seperti di sinetron-sinetron. Belum lagi partner ranjang kamu yang lain." Ucap Ressa sambil tertawa geli, membayangkan adegan sinetron yang sangat konyol.
Tian merasakan hawa tidak nyaman dari tawa yang Ressa keluarkan. Dia bukan terhibur, malah merasakan ngeri. Tawa itu sarat dengan kekecewaan.
"Kamu kebanyakan nonton sinetron, Honey. Tidur ya, jangan pikirkan yang aneh-aneh. Semua itu tidak akan terjadi."
Lelaki itu menatap istrinya dengan lembut, menempelkan pipinya seperti biasa. "Aku ingin berubah, Sayang. Bisakah kamu bantu aku agar tidak mengingatkan semua dosa-dosaku itu lagi. Aku malu mengingat siapa diriku, bahkan aku sudah merusak kamu. Lihatlah aku, Tuhan masih menutup aib-aibku, para karyawan masih menatap hormat padaku padahal aku bukan orang yang baik. Bahkan, Tuhan terlalu baik memberikan kamu untukku. Jika Tuhan saja menutup aibku, berarti aku juga harus menutupnya kan?"
__ADS_1
Ressa mengangguk kecil, menyadari kesalahannya yang terlalu cemburu pada masalalu Tian. "Maafkan aku selalu mengungkitnya."
"Bukan salah kamu, wajar kalau kamu mempertanyakan semua tentangku. Aku ini laki-laki yang tidak sempurna, Sayang. Jauh sebelum ini aku hanyalah seorang pecundang pengecut yang hidup hanya untuk menghambur-hamburkan uang dan mencari kesenangan."
Istri Tian itu tertegun, apa salah dia selalu mengungkit masalalu suaminya. Ressa hanya terlalu takut kalau Tian kembali pada hobbynya.
"Seburuk apapun aku, aku tidak ingin melepaskanmu, walau kamu telah menyesal mendampingiku. Aku akan berusaha semampuku untuk berubah, Honey." Lanjut Tian seraya menopangkan dagunya di kepala Ressa.
"Aku hanya terlalu takut, Tian. Takut semua perlakuan yang aku dapat ini hanya sementara dan berakhir menjadi kenangan pahit. Aku takut kamu meninggalkanku, karena di luar sana banyak perempuan yang lebih sempurna daripada aku. Aku takut," ucap Ressa pelan.
Tian menangkup kedua pipi istrinya. Menatap dengan teduh. "Aku gak boleh janjikan Sayang, aku hanya bisa membuktikan kan? Aku akan membuktikan dan tidak akan mengecewakan kamu dan anak kita. Tidak ada yang perlu kamu takutkan lagi. Aku milikmu, selamanya."
__ADS_1
"Bisakah aku mempercayai ucapanmu, Tian. Aku bukan abg yang suka dikasih rayuan gombal kemudian ditinggal pas lagi sayang-sayangnya."
"Bantu aku membuktikannya ya." Tian mengecup kening Ressa lama, kemudian membawa istrinya itu tidur. Kalau terus dibiarkan, pembahasan bisa lari kemana-mana. Bisa-bisa mereka tidak tidur semalaman.