
"Sayang, apa Dea marah kalau Daddy gak menemani Dea tidur?" Tanya Tian hati-hati mendatangi kamar putrinya sendirian.
"Kenapa, Daddy mau tidur sama Buba?" Tanya Dea sedikit tersentil, karena harus dia yang selalu mengalah. Apalagi sejak mommy menikah, dia jarang ditemani.
"Daddy baru membaca satu hadist, yang bunyinya begini. Perintahkanlah anak-anakmu untuk shalat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah jika enggan melakukan shalat bila telah berusia sepuluh tahun, serta pisahkanlah tempat tidur di antara mereka. Dea mau bantu Daddy, agar bisa menjadi Daddy yang baik dan membawa kalian ke surga kelak." Ucap Tian dengan bahasa halus agar putrinya tidak merasa terabaikan.
"Daddy sadar, putri Daddy ini bukan anak kecil lagi. Kalau Daddy gak menemani Dea tidur, bukan berarti Daddy gak sayang sama Dea. Daddy sayang banget sama Dea." Tian mengusap-usap belakang kepala Deandra dan mengecupnya.
Dea mengangguk pelan, percuma membantah. Dia rindu lelaki dewasa yang tanpa syarat memanjakannya itu. "Ya sudah Dea tidur dulu, Daddy." Ucapnya sambil tersenyum membaringkan badan dan menarik selimut.
"Good night, Honey." Tian mengecup di kening lalu kembali ke kamar setelah mematikan lampu di kamar Dea.
Deandra tersenyum kecut setelahnya, mengambil ponsel yang Azmi berikan. Lelaki dewasa itu tidak pernah bisa dihubungi lagi. Diam-diam dia menangis dalam kamar sendirian. Kasih sayang yang diberikan orang tuanya memang tidaklah kurang. Tapi ia merasa ada yang tidak lengkap di hatinya.
"Dea sudah tidur Sayang?" Tanya Ressa yang baru ingin berbaring tapi perutnya lapar lagi.
"Belum," jawab Tian seadanya.
"Kenapa lagi?" Ressa membaringkan kepala Tian di pangkuan. Menyisir rambut sang suami dengan jari jemarinya.
"Apa yang kurang dari semua yang kita perjuangkan dan berikan untuk Dea Sayang. Aku sudah berusaha menjadi ayah yang baik. Tapi dia merasa kita ini tidak menyayanginya. Malah lebih percaya kalau Azmi yang menyayanginya."
"Beri Dea waktu untuk memulihkan hatinya Sayang. Jangan buat dia tertekan karena kamu memaksanya untuk melupakan Azmi yang sudah mengisi hatinya dengan buru-buru."
Tian menelungkupkan wajahnya di paha Ressa dan mengecup di sana. Kepalanya seperti ingin pecah, semua karena ulah Azmi.
Ressa ingin marah karena kenakalan suaminya ini. Tapi dia kasihan, sepulang dari rumah Ibu Jeri tadi pun Tian harus ke kantor walau hari libur.
"Sayaang," Tian mengangkat kepala sedikit. Ressa langsung mengangguk paham, suaminya sedang butuh dimanja.
"Terimakasih sudah jadi penghilang lelahku, Honey." Tian menempelkan pipinya pada sang istri setelah minta dimanja. Ressa tidak menyahut karena kelelahan tapi berlawanan dengan keinginan perutnya yang sangat lapar.
"Aku lapar Mas."
Tian melirik Ressa yang berbicara sambil memejamkan mata. "Apanya yang lapar Sayang, sini Mas kasih makan." Ia ikut merubah panggilannya agar semakin romantis, sambil tersenyum kecil menciumi mata Ressa yang terpejam.
__ADS_1
"Ini," Ressa menunjuk perutnya.
"Bukan yang ini Sayang?" Tian menepuk yang di bawah perut Ressa. Perempuan itu langsung menggeleng, karena darahnya berdesir panas kembali.
"Wooww, dia masih lapar Sayang. Mau sosis apa pisang, hm." Tian membiarkan saja istrinya itu terpejam tapi terus mengajaknya bicara.
"Nasi gor..argh!" Jerit Ressa saat sadar apa yang dilakukan suaminya.
"Setelah ini kita makan nasi goreng, Honey." Ucap Tian sambil tersenyum melihat istrinya yang tidak menolak. Menjatuhkan tubuh yang lemas itu ke atasnya. Setelah berhasil membuatnya tak berdaya.
"Masih lapar Sayang?" Tanya Tian. Padahal mereka tadi sudah makan malam.
Ressa mengangguk lemah, sisa-sisa tenaganya telah habis direbut Tian.
"Kita mandi dulu sebentar Honey. Aku bisa memakanmu lagi, kalau kamu menggemaskan seperti ini."
"Ngantuk, gak jadi makan." Ressa bergumam sangat pelan.
"Kita tetap makan Sayang," Tian membangunkan Ressa. Menggendongnya ke kamar mandi, tubuh berat itu tidaklah terasa ringan walau sudah dikasih jatah berkali-kali.
"Kamu berat Sayang." Tian mendudukkan Ressa di atas closet. Dia benar-benar memandikan istrinya itu, tidak mengganggunya lagi.
Setelah memakaikan baju Ressa, Tian mandi dengan cepat. Saat kembali ke kamar istrinya sudah tidur lagi.
"Astaga, kamu ngantuk atau cuma mau dimanja sih Sayang." Tian berdecak, bantal jadi basah semua karena rambut Ressa belum dikeringkan. "Ayo kita makan," katanya memaksa sang istri bangun.
Tian tidak mau istrinya jadi kurus karena kelaparan. Sampai di dapur tidak ada apa-apa, terpaksa ia memasakkan nasi goreng untuk Ressa. Istri Tian itu kembali membenamkan wajah di meja. Si suami jadi geleng-geleng kepala.
"Buba kenapa?" Tanya Dea yang ke dapur karena ingin mengambil air putih.
"Kelaparan Sayang, padahal tadi sudah makan bareng kita."
Dea mengernyitkan kening, "kelaparan tapi kenapa tidur Daddy."
"Buba kelelahan juga Sayang, habis olahraga sama Daddy." Sebut Tian kelepasan.
__ADS_1
"Olahraga sama Daddy?" Tanya Dea semakin menautkan alisnya, "rumah nenek gak ada alat fitnes seperti di rumah Om Jeri, Daddy."
"Ups," Tian lekas menutup mulutnya rapat. "Kan olahraga bisa di kamar Sayang, seperti push up, sit up, kayang." Jawab Tian asal, Dea mengangguk percaya saja.
"Dea mau makan, Daddy mau suapin kesayangan-kesayangan Daddy ini." Ujar Tian memasukkan nasi goreng ke piring setelah selesai memasak.
"Mau," seru Dea senang.
"Ayo duduk," Tian menarik kursi untuk putrinya lalu duduk di tengah. "Bubamu lagi manja Sayang, jangan cemburu ya."
Tian menegakkan tubuh Ressa, menepuk-nepuknya di pipi. "Sayang, ayo makan."
Ressa membuka makan sedikit, menyandarkan kepala di bahu suaminya. Tian menyuapi Dea lebih dulu. Sambil menepuk di kepala.
"Wah, wah. Lagi manja dua-duanya nih." Seloroh Denis yang mencium aroma masakan di dapur.
"Buka mulutnya Sayang," Tian tidak menanggapi ucapan Denis. Sibuk mengurus istrinya. Ressa membuka mulut sedikit, lelaki itu berdecak menyuap nasi goreng ke mulutnya lalu mengunyah dan mentransfernya pada Ressa lewat mulutnya.
Dea melotot melihat apa yang di lakukan sang daddy. "Begitukan cara orang dewasa menyuapi istri," gumamnya.
"Gila!!" Seru Denis menutup mata Dea dengan telapak tangannya.
"Lagi," gumam Ressa masih dengan mata terpejam. Tian mengulangnya lagi sampai habis setengah piring baru Ressa minta berhenti. Lelaki itu kembali menyandarkan Ressa ke bahunya lalu beralih pada sang putri.
"Maaf Sayang, Buba lagi aneh." Tian menyuapi Dea yang matanya sudah dilepaskan Denis.
"Buba kenapa Daddy?"
"Sepertinya ada adik kamu di sana Sayang," ucap Tian asal.
"Adik?" Tanya Dea, Tian mengangguk yakin. "Kenyang Daddy," ucapnya lesu. Sekarang saja kasih sayang untuknya terbagi apalagi nanti. Mommy sibuk melayani suami barunya.
"Dea mau tidur sama Daddy dan Mommy?" Tanya Denis yang peka kalau Dea kurang suka dengan apa yang diucapkan Tian tadi.
"Enggak, Dea tidur sendiri aja." Jawabnya sambil tersenyum dan kembali ke kamar dengan segelas air putih.
__ADS_1
"Dia gak suka kalau Ressa hamil," gumam Tian. pelan.
"Kita bujuk nanti, aku ke kamar dulu." Ujar Denis yang juga membawa air putih ke kamar. Istrinya itu sudah tertidur sangat pulas.