
Audrey menggeleng pelan, "aku takut. Kalau ibumu tau aku yang melukai istri Tian pasti tidak akan merestui kita. Aku tidak ingin bersaing dengan Ressa lagi untuk mendapatkan hati ibumu, aku jelas akan kalah."
Jeri tidak tau harus berucap apa, tidak berani berjanji membantu meluluhkan hati ibunya pada Audrey.
"Jeri, kalau memang ibumu tidak merestui kita. Tidak apa, lagian ayah juga tidak mau menikahkan aku kan. Pergilah, aku gak akan nekat melukai orang lain lagi." Ucap Audrey sambil tersenyum, cukup dia yang menerima hukuman ini tidak perlu menyeret Jeri.
"Pulanglah, nanti kalau ibumu tau kamu di sini akan semakin repot."
Lelaki itu tidak menjawab membawa Audrey dalam pelukan. "Ibu minta aku mutusin kamu dan dia mencarikan aku perempuan lain."
Audrey tersenyum miris, dugaannya benar. Ibu Jeri tidak suka padanya. Dia tidak perlu sakit hati, karena sejak awal hatinya memang sudah sakit.
"Ya sudah, terus kenapa kamu masih di sini. Nanti jadi anak durhaka. Kalau dikutuk jadi patung liberty gimana," gurau Audrey.
"Sayang, jangan bercanda. Aku lagi pusing," rengek Jeri.
"Ngapain pusing, tidak ada orang tua yang ingin menjerumuskan anaknya. Pilihan ibu pasti yang terbaik," Audrey menyakinkan diikuti senyuman semangat.
__ADS_1
"Kita nikah diam-diam, Sayang. Aku sudah janji mau menemani kamu selama."
"Aku gak mau nambah daftar dosaku lagi ya. Sekarang kamu pulang, kita cukup sampai di sini. Kamu tidak perlu pusing memikirkan aku lagi. Aku ini sudah besar, bisa makan dengan tangan sendiri. Bisa cari uang sendiri."
"Gak mau, aku sudah jatuh cinta sama kamu nih." Rengek Jeri manja, dia tidak ingin meninggalkan Audrey sendirian. Tapi bagaimana dengan ibunya, memikirkan itu membuat kepala Jeri hampir pecah.
"Itu bukan cinta, kamu cuma kasihan sama aku. Udah ah pulang sana," usir Audrey lembut.
"Malam ini aku mau tidur di sini." Putus Jeri membaringkan tubuhnya di tempat tidur.
"Enggak, kamu temani aku di sini!" Jeri menarik Audrey sampai terjatuh di atas tubuhnya.
"Akan sangat menyakitkan kalau dipaksakan bersama, Jeri. Pulanglah, jangan buat aku dalam masalah besar. Kalau aku menikah denganmu itu akan membuatku sering bertemu dengan Tian. Tian bisa membunuhku kalau muncul di hadapannya terus."
"Aaaarrrggghhh!!" Teriak Jeri frustasi. Audrey benar, Tian bisa kapan saja membunuh Audrey.
"Pulanglah, biar aku selesaikan hukumanku ini sendirian. Menikahlah dengan perempuan baik pilihan ibumu. Aku tidak akan mengusik keluargamu lagi."
__ADS_1
"Bagaimana dengan janjiku, aku ingin menjagamu selamanya?" Jeri memegang kedua pipi Audrey. Dia tau perempuannya ini sangat kuat, bahkan saat disakiti berulang kali.
"Aku tidak menuntut apapun dari janjimu, pergilah. Aku melepaskanmu dengan ikhlas, dan aku tidak akan menyakiti siapa pun lagi. Aku tidak ingin terus menyimpan dendam. Biarlah semua selesai sampai di sini."
Jeri memejamkan mata dan menulikan telinga, tidak ingin mendengarkan apapun yang Audrey katakan.
"Kamu adalah lelaki selain Tian yang sangat aku inginkan. Tapi takdir kita berkata lain, Sayang. Maafkan aku sudah melukai perempuan yang kamu cintai." Audrey mengecup seluruh wajah Jeri, ia ingin menangis tapi di tahannya.
Andai tau begini akhirnya, dia akan membesarkan anak Jeri dan menjadikannya sebagai pelipur lara.
"Aku sungguh-sungguh ingin menjagamu Audrey, siapa lagi yang jadi tempat bersandarmu kalau aku tidak ada. Kamu diusir karena aku."
Audrey menggeleng pelan, "aku bisa bertahan sendirian, Sayang. Pulanglah, turuti semua kemauan ibumu selagi masih ada. Jangan sampai menyesal karena manjadi anak nakal." Nasehatnya lalu bangun dari atas tubuh Tian.
Jeri mengangguk pelan, "aku pulang." Katanya mengecup kening Audrey. Setelahnya tidak mengatakan apapun meninggalkan apartemen perempuan itu.
Audrey tersenyum tipis, "kamu berjanji hanya karena merasa bersalah Jeri. Bukan karena benar-benar mencintaiku." Gumam Audrey melepas kepergian Jeri.
__ADS_1