Aksara Cinta

Aksara Cinta
42. Nasehat


__ADS_3

"Capek ikut Uncle kerja?" Tian terpaksa mengajak Erra lembur karena ada proyek yang harus diselesaikannya.


Gadis kecil itu menggeleng, "suka. Di sana banyak orang. Erra gak kesepian."


"Hm, nanti minta bikinin daddy dedek ya biar Erra gak kesepian di rumah."


"Kalau punya dedek, Erra gak disayang lagi dong." Ucap Erra cemberut.


"Kata siapa, Erra tetap disayang. Yang sayang nambah lagi." Tian mendudukkan bocah kecil itu di meja makan lalu menyuapinya. "Kalo tinggal sama Uncle kan sepi, cuma berdua."


"Tapi di tempat kerja Uncle rame, banyak orang."


Tian menggaruk tengkuk, berharap Erra minta diantar pulang. Tapi sepertinya semua itu hanya sekedar harapan. Menjaga anak kecil sungguh sangat melelahkan.


Selesai memberikan asupan gizi Erra, Tian menidurkan gadis kecil itu. Andai tidak ada Erra, dia pasti sudah mendatangi Ressa diam-diam. Hanya ingin memastikan anaknya baik-baik saja.

__ADS_1


Tian membaringkan tubuh di samping Erra yang sudah tertidur dengan nyenyak. Belum sempat memejamkan mata bel rumahnya berbunyi. Dengan malas ia bangkit membuka pintu.


"Erra sudah tidur?" Tanya Erfan nyelonong masuk ke kamar Tian.


"Sudah, lo telat sepuluh menit." Tian berdecak, kalau tau Erfan datang, dia tahan Erra agar tidak tidur biar pulang sama daddy-nya.


"Gimana?" Erfan mengusap rambut putrinya dengan sayang.


"Dia suka di kantor, banyak orang katanya rame." Tian membanting tubuhnya di sofa sambil mengamati interaksi ayah dan anak itu.


"Bukan Erra, tapi Ressa dan Audrey."


Erfan mengendikkan bahu lalu membaringkan tubuh di samping Erra dan memeluk erat sang putri.


"Apa gue bisa jadi ayah yang baik?" Tian tak mengalihkan tatapannya dari ayah dan anak itu. "Audrey menggugurkan kandungannya tanpa sepengetahuan gue. Gue merasa gagal jadi seorang lelaki. Ressa juga sepertinya benci banget sama gue."

__ADS_1


"Laki-laki itu kepala keluarga, dia yang menentukan mau dibawa kemana keluarganya nanti. Lo masih bisa memperbaiki semuanya. Selesaikan masalah lo sama Audrey lalu perjuangkan Ressa dan anak lo. Akhiri semua petualangan lo selama ini, bangun keluarga sesuai syariat Allah."


"Gue memulai dari sebuah kesalahan, Erfan. Gue malu, gue gak pantas. Menyebut nama Tuhan aja gue malu."


"Manusia memang tempatnya salah dan khilaf, tidak ada yang benar-benar suci. Tinggal kita, mau menjemput jalan hidayah itu atau tidak. Kalau malu, harusnya lo mendekati-Nya, bukan malah berlari semakin menjauh. Karena sejauh apapun lo berlari Allah pasti melihat."


Tian termenung, hatinya tak tergerak sedikitpun. Mungkin karena ia terlalu lama tersesat, sampai tidak tau caranya untuk kembali.


"Apa kalimat gue terlalu sulit untuk lo cerna?" Erfan berucap tanpa ekspresi.


"Mungkin karena hati gue yang terlalu lama mati." Ucap Tian seperti gumaman, "bawa Erra balik. Gue kewalahan jagain dia sendirian."


"Sebagai manusia normal gue gak setuju lo sama Ressa. Khawatir suatu saat nanti lo kembali dengan hobbi ini dan menyakiti Ressa. Tapi sebagai sahabat lo, tentu gue ingin lo berubah dan mendapatkan perempuan yang bisa menjadi tempat untuk lo pulang." Ujar Erfan panjang lebar, entah ucapannya ini bisa diserap otak Tian atau tidak.


"Apa gue sehina itu?"

__ADS_1


"Tidak ada yang bisa menghinakan orang lain kecuali Allah. Gue bukan panitia dosa yang tau seberapa banyak dosa lo. Ini murni karena jiwa pesimis seorang manusia, pasti ada pikiran seperti itu. Gue percaya lo bisa jadi ayah yang baik."


"Gue pulang, Hira nungguin di rumah." Erfan membawa putrinya dengan hati-hati dalam gendongan. Tian hanya mengantar sampai depan pintu.


__ADS_2