Aksara Cinta

Aksara Cinta
84. Deandra


__ADS_3

Di hotel semua orang bingung mencari mempelai pria. Aruna hanya mengendikkan bahu setiap ditanya. Dia bisa melihat bagaimana tatapan terluka adiknya itu saat Tian mengucapkan ijab kabul tadi. Ia tidak ingin Ressa berkorban lagi untuknya, biar kali ini dirinya yang berkorban.


"Mom, Daddy mana?" Tanya Deandra, sejak ayah dan ibunya sah menjadi suami istri dia tidak melihat sosok ayahnya itu lagi.


"Kita tidur berdua ya Sayang, daddy tadi pamit ada kerjaan." Jelas Aruna pelan, gadis kecil itu mengangguk mengerti.


"Kemana suamimu, Ru. Para tamu mencarinya?" Tanya Rina penuh selidik.


"Ada urusan Bu, aku menidurkan Dea dulu." Pamit Aruna, sengaja menghindar dari ibunya itu agar tidak banyak perdebatan. Ia membawa Dea masuk ke kamar hotel.


Tidak lama setelahnya ada yang mengetuk pintu kamar. Aruna membuka pintu, ternyata suaminya yang datang.


"Dea sudah tidur?" Tanya Tian, dia sudah menemui para tamu di ballroom agar tidak ada yang kebingungan mencarinya.

__ADS_1


"Belum Mas, nungguin kamu."


Hati Tian mendadak menghangat, Ressa tidak pernah memanggilnya semanis itu. Astaga apa yang sedang ada dipikirkannya. Baru saja dia membandingkan Ressa dengan Aruna.


"Aku tidurin Dea dulu ya," izin Tian. Aruna mengangguk menunggu di kamar. Kamar Dea terhubung dengan kamarnya.


"Belum tidur, Honey." Tian mengecup kening putrinya sambil tersenyum.


"Daddy dari mana baru keliatan?"


"Aku setiap malam berharap bisa memeluk daddy, akhirnya keinginan itu bisa terwujud sekarang. Jangan tinggalin Dea lagi."


Tian menahan tangan itu di pipinya sambil tersenyum. "Maafin Daddy yang gak pernah ada di samping Dea. Mulai hari ini kita akan bersama, Honey. Sekarang istirahat, masih banyak waktu untuk kita bisa berbagi cerita lagi."

__ADS_1


Tian membawa tubuh mungil itu dalam pelukan,  sampai putrinya  tertidur. Sampai kapan dia main kucing-kucingan begini. Ia harus mencari rumah yang berdekatan biar mudah mengkondisikan Ressa dan Deandra. Dengan gerakan pelan Tian turun dari tempat tidur.


Ia keluar dari kamar Deandra mendekati Aruna, yang masih menunggunya dengan berpakaian rapi. Jadi tiga orangkah yang harus dia tidurkan malam ini, belum lagi kalau anaknya dengan Ressa sudah lahir. Tian menggeleng pelan dengan kehidupan yang baru dia jalani ini.


"Maaf, jadi mengorbankanmu, Aru." Tian duduk di samping Aruna, mudah baginya memperlakukan lembut perempuan tanpa perasaan cinta. Seperti dulu yang sering dia lakukan bergonta-ganti teman tidur.


"Jangan minta maaf, gimana Ressa? Masih marah."


Tian menggeleng, "kami sudah rujuk kembali." Beritahunya, dia tidak ingin ada salah paham yang akan membuat kepalanya semakin pusing nanti.


"Syukurlah, sana pulang. Pasti gak izin sama Ressa."


"Ressa sudah tidur," Tian naik ke tempat tidur membawa Aruna dalam pelukan.

__ADS_1


"Jangan menyiksa dirimu. Aku ikhlas, kita sudah sepakatkan untuk semua ini." Aruna menyandarkan kepalanya dengan nyaman dalam dada bidang Tian. Dia harus bisa menjaga hati agar tidak ada pikiran untuk merebut Tian dari Ressa. Walau lelakinya ini bisa membuatnya jatuh cinta dengan cepat sekarang.


"Ini kewajibanku, aku tetap akan melakukannya." Tian tersenyum mengingat malam panas yang pernah mereka lakukan di London belasan tahun yang lalu sampai menghadirkan Deandra ke dunia. Ia berusaha menghalau bayangan Ressa yang tidak suka melihatnya bersama perempuan lain.


__ADS_2