Aksara Cinta

Aksara Cinta
179. Kebahagiaan


__ADS_3

"Sudah cinta belum sama aku?" Tanya Denis yang menimbulkan rona merah di wajah Aruna. Tidak ada yang mengganggu mereka malam ini, sehingga perjuangan Denis menembus Aruna berjalan lancar. Deandra tidur bersama neneknya.


"Gimana setelah memeriksa keperjakaanku, hm?" Lagi-lagi Denis menggoda istrinya yang malu-malu kucing bersembunyi di balik selimut.


"Kalau ditanya itu jawab Sayang, atau mau aku buat kamu bersuara dengan cara lain." Denis mengerlingkan mata nakal.


"Maaass malu," rengek Aruna menutup wajah dengan kedua tangan karena selimutnya ditarik paksa Denis.


"Cuma itu yang ditutupi?" Gelak tawa Denis menggema, menoel-noel benda kenyal yang sudah puas ia manjakan.


"Mas, malu ih. Balikin selimutnya!" seru Aruna merengek-rengek.


"Kenapa malu Sayang?" Denis membawa Aruna ke atas tubuhnya lalu menyelimuti. "Bukannya ini yang kamu mau dari dulu."


"Jangan diingatin, aku malu," perempuan itu membenamkan wajahnya di bahu Denis.

__ADS_1


"Kalau yang malam ini boleh aku ingat?" Denis membelai belakang Aruna yang tidak terhalang apapun.


"Tentu saja, aku tidak akan melupakan apa yang kita lalui malam ini." Ucap Aruna yang sudah memejamkan mata namun masih bisa merespon pertanyaan Denis.


"Thanks my destiny, aku mencintaimu sejak dulu." Ucap Denis sungguh-sungguh, apa yang ditakdirkan untuknya memang tidak akan terlewat darinya. Karena daun yang jatuh sekalipun semua atas ijin Allah. Apalagi takdir hidup manusia.


"Terimakasih karena tidak membunuh cintamu untukku, hingga akhirnya Tuhan mentakdirkan kita bersama." Aruna mengangkat wajah lalu tersenyum menempelkan bibirnya pada Denis. Tentu saja tempelan itu menghasilkan keringat yang bercucuran kembali.


Malam ini berkali-kali Denis membuat Aruna berteriak lepas kemudian lemas. Untung dia sudah mengatur kamar yang tidak terlalu besar itu kedap suara. Jadi tidak perlu khawatir ada yang mendengar suara-suara gaib sepanjang malam. Menjelang subuh mereka baru tertidur pulas.


*


"Daddy Tian dan Buba aja, Daddy Denis pasti masih capekkan." Jawab Deandra bijak.


"Kalau Dea mau Daddy Denis yang antar, Daddy selalu siap kok." Denis tersenyum mengecup puncak kepala putri sambungnya.

__ADS_1


Wajah Dea memancarkan kebahagiaan karena memiliki dua orang ayah yang sangat menyayanginya. Juga dua orang ibu, tidak seperti cerita di sinetron mendapatkan ayah dan ibu tiri yang jahat. Walau waktu awal mengetahui, ini semua sangat menyakitkan untuk ia terima.


"Daddy Tian aja," putus Dea. Denis mengangguk setuju.


Sarapan pagi itu dibarengi obrolan hangat, Rina tersenyum bahagia. Kedua putrinya sangat beruntung mendapatkan suami yang sangat penyayang. Kalau mendiang suami menyaksikan ini pasti juga akan sangat bahagia. Tidak terasa air matanya terjatuh saat mengingat sang suami.


"Nenek kenapa?" Tanya Deandra yang paling dulu mengetahui neneknya menangis. Perempuan paruh baya itu menggeleng pelan, semua mata tertuju pada Rina saat mendengar ucapan Dea.


"Ibu kenapa?" Ressa mengambil tissue menyeka air mata ibunya. "Kangen ayah?" Tanyanya lagi saat sang ibu tidak menjawab.


"Iya, ayah pasti sangat bahagia melihat kalian akur dan saling menyayangi seperti ini." Ucap Rina yang semakin menangis sendu.


"Ibu juga bahagiakan?" Tanya Ressa.


"Tentu saja Ibu sangat bahagia." Ressa tersenyum membawa sang ibu dalam pelukan.

__ADS_1


"Kalau ayah di sana sudah bahagia, sekarang kami di disi akan selalu berusaha untuk membuat Ibu bahagia." Ucap Ressa tulus, walau Rina bukan ibu kandungnya. Ia sangat menyayangi ibunya ini, tak pernah ada kebencian yang ia simpan untuk sang ibu.


Rina tidak dapat berkata apa-apa lagi, ia sangat beruntung memiliki putri seperti Ressa. Tian tersenyum bangga pada istrinya yang begitu penyayang dan pemaaf.


__ADS_2