
"Ayah sudah ngasih tau kita mau akad nikah dimana?" Tanya Tian, setelah menemani Audrey makan siang ia kembali ke ruangan memanggil Ressa.
Ressa menggeleng pelan sambil menundukkan kepala.
"Kamu cemburu sama Audrey?" Tebak Tian, Ressa tidak mau menatap matanya. Sejak masuk ruangannya juga tidak berbicara apapun.
"Kita gak usah nikah aja," ucap Ressa. Netranya terus menghindari tatapan Tian.
"Kenapa tiba-tiba berubah pikiran lagi, hm?" Tian bangkit berjalan ke belakang Ressa, memeluknya dari belakang.
"Aku belum bisa Tian, belum siap patah hati. Melihat kamu bersama perempuan lain rasanya sangat menyakitkan. Aku gak akan minta pertanggung jawaban apapun dari kamu, karena semua itu keinginanku. Kita lupain semua yang sudah terjadi diantara kita."
"Kasih aku waktu, aku sudah bilang sama Audrey untuk mengakhiri semuanya."
Ressa menggeleng, "gak perlu. Kalian lanjutin aja apa yang ada diantara kalian. Lupain pernikahan mendadak ini, aku akan bilang sama ayah nanti."
"Kamu gak mau bantu aku lepas dari dunia yang kelam ini. Aku butuh kamu Ressa, hanya kamu."
"Aku gak bisa sama kamu, Tian."
__ADS_1
Tian menghela napas berat, melepaskan pelukannya. Dia kecewa dengan kelabilan Ressa.
"Ya sudah kalau itu mau kamu, aku gak bisa maksa. Kamu bisa lanjut kerja," ucapnya dingin.
Ressa mengangguk, keluar dari ruangan Tian. Ia dapat merasakan perubahan ekspresi Tian yang jadi dingin.
***
"Ngapain kamu masih pulang ke rumah ini, gak malu!" Cerca Rina, Ressa memijat pelipisnya yang berdenyut. Selepas pembicaraan singkat dengan Tian tadi siang. Dia memberi tahu ayahnya kalau tidak jadi menikah.
"Jangan terlalu keras dengan anak sendiri, nanti menyesal." Amrin mengingatkan.
Ada rasanya nyeri yang menyentil ulu hati Ressa, namun dia masih berusaha tersenyum. "Maafin aku Bu, aku cuma mau ambil baju dan perlengkapan aja." Katanya kemudian berlalu ke kamar memasukkan barang-barangnya dalam koper.
Ia ingin menangis, tapi tidak boleh terlihat lemah di hadapan ayah dan ibu.
"Lelaki pagi tadi benar-benar ingin menikahimu apa hanya menyelamatkan dari ibumu," tanya Amrin tiba-tiba muncul di kamar Ressa.
"Entahlah Yah, rumit. Untuk sementara waktu aku tinggal di apatemen dulu. Maafin aku kalau sudah mengecewakan ayah dan ibu."
__ADS_1
Amrin merentangkan tangan, Ressa menghambur ke pelukan sang ayah. "Ayah ada di sini, kalau beban di pundakmu terasa berat bagi sama Ayah."
"Makasih Ayah," Ressa tidak dapat mengucapkan apa-apa lagi. Dia hanya ingin dimengerti saat ini, terlalu lelah kalau harus menjelaskan semuanya.
"Telepon Ayah kalau butuh teman cerita," Amrin mengusap sayang kepala putrinya. Ressa mengangguk, ia segera pergi dari rumah. Bagaimana ceritanya dia terasingkan dari rumahnya sendiri. Hah, sangat lucu. Dia yang banting tulang untuk membeli rumah ini. Tapi ya sudahlah. Kalau terus dipikirkan bisa membuatnya gila.
Sebelum ke apartemen Ressa mengunjungi rumah Hira, sahabatnya. Dia hanya perlu teman bicara agar otaknya tidak berpikir nekat dan aneh-aneh seperti malam kemaren.
Menyesal? Sedikit. Untuk kadar keimanan seperti dirinya. Ia tidak terlalu muluk-muluk minta sama Tuhan untuk diberikan hidup yang sempurna. Sadar kalau dirinya penuh dosa dan hina. Ia akan menjalani apapun yang Tuhan takdirkan
Sampai di kediaman sang sahabat, Ressa mengucapkan salam yang langsung di sambut Hira.
"Erra sudah tidur?" Tanyanya sambil celingak-celinguk mencari gadis kecil itu.
"Ada di ruang tengah, lagi manja-manja sama Tian. Ayo masuk, mereka ngobrol santai aja kok." Ajak Hira.
"Tian ada di sini juga?" Tanya Ressa untuk memastikan kembali. Cukup di kantor ia bertemu lelaki itu.
"Iya, mau ketemu?" Hira mengangkat sebelah alisnya menggoda.
__ADS_1
"Gue gak jadi mampir, kapan-kapan aja." Ujar Ressa langsung melimpir keluar dari rumah Hira. Ibu satu anak itu terbengong-bengong melihat tingkah aneh sahabatnya.