
"Mommy, ada kakak di taman." Pekik Erra melihat Dea duduk sendirian di kursi. Gadis kecil itu menarik tangan mommy-nya mendatangi Deandra.
"Dea, kenapa sendirian di sini?" Tanya Hira. Putrinya itu merengek ingin bermain di taman pagi-pagi, terpaksa ia membawanya.
"Mau main di sini aja Tante," jawab Dea sambil tersenyum.
"Siapa yang marah-marah, Daddy atau Mommy jadi Dea kabur ke sini?" Tanya Hira to the point. Dia tidak percaya dengan ucapan gadis itu.
"Gak ada yang marah Tante," kekeuh Dea.
"Tante bisa bedain mana mata yang habis nangis mana yang enggak." Hira mengelus pipi Deandra lembut. Putri Tian itu tidak menjawab, hanya tersenyum.
"Kakak temani Dea main di kantor Daddy," paksa Erra menarik tangan Dea.
"Kakak mau di sini aja nunggu Daddy Tian jemput," bohong Dea. Kalau dia ikut pasti sahabat daddy-nya itu akan memberitahu keberadaannya. Dia masih belum siap bertemu sang daddy dan dimarahi lagi.
"Jangan takut, Tante gak akan bilang sama Daddy dan Mommy-mu kalau kamu ada sama Tante." Ujar Hira yang tau kalau Dea pasti menghindari suaminya. Tidak mungkin Dea menunggu sang ayah menjemput di taman, karena sekarang masih jam sekolah.
"Ayo ikut, Erra akan marahin Uncle Tian kalau berani marahin kakak." Putri Erfan itu kembali memaksa Dea untuk ikut dengannya.
Dea tersenyum geli mendengarkan anak kecil itu berceloteh. Jadi tidak sabar menunggu adiknya lahir.
"Ayo," Hira meminta Dea mengikuti Erra. Deandra terpaksa ikut karena merasa tidak enak menolak.
"Assalamualaikum," Erra menyapa daddy-nya yang sibuk memeriksa berkas-berkas di meja. Kaki mungil itu melangkah mendekati sofa sambil menggandeng tangan Dea tanpa melepaskan sejak di taman tadi.
Erfan menjawab salam dengan kening berkerut. Dari mana anak dan istrinya ini jadi sampai membawa putri Tian yang masih berseragam sekolah ke kantor.
"Darimana Sayang, gak jadi ke taman?" Tanya Erfan pada putrinya tanpa beranjak dari meja kerjanya. Hanya Hira yang mendekat ke sana.
"Jadi Daddy, makanya ketemu kakak di sana." Jawab Dea riang, sudah lama dia tidak punya teman bermain.
"Ada apa?" Erfan menatap Hira penuh tanda tanya. Istrinya itu menggeleng pelan.
"Dea sudah sarapan?" Tanya Erfan.
"Belum Om," jawab Dea dengan senyuman cerah. Erra sangat beruntung memiliki daddy yang sangat penyayang. Saat seusia Erra dia tidak mengenal ayahnya. Bahkan setiap hari ia dititipkan pada babysitter ketika ibunya bekerja. Sekarang, saat sudah mendapatkan kasih sayang ayah, ia melakukan kesalahan besar.
__ADS_1
"Biar aku kabari Tian untuk menjemput putrinya," ucap Erfan pelan pada istrinya.
"Jangan, mereka sepertinya bertengkar." Hira memperhatikan Dea yang tersenyum dipaksakan menemani Erra bermain. Sampai netranya menangkap gadis itu tidak melepaskan genggaman tangan kirinya.
Bertepatan saat makanan yang dipesannya datang. Hira menyuruh Dea makan. Gadis itu meletakkan kalung di atas meja.
Hira berjalan mendekati dua orang anak kecil itu. "Kalungnya cantik, boleh Tante lihat?"
"Boleh Tante," jawab Dea yang selalu menyunggingkan senyumannya.
"Dari siapa ini?" Tanya Hira basa-basi, mengambil kalung berliontin love itu.
"Ada fotonya di liontin Tante," jawab Dea seadanya. Tidak ingin memancing masalah di tempat ini karena menyebutkan nama Azmi. Dia tau perusahaan yang dilumpuhkan Om kesayangannya itu perusahaan yang dijalankan Daddy Erra dan daddynya.
Hira meneguk ludah kasar saat melihat foto di liontin itu, pasti karena ini Dea bertengkar dengan Tian.
"Makan yang banyak ya Sayang," Hira mengembalikan kalung itu ke meja dan mengelus kepala Dea dengan lembut.
"Makasih Tante," Dea tersenyum menyuapi Erra yang juga ingin makan. Hira mengangguk mendekati suaminya kembali.
"Azmi di penjara bagaimana memberikan kalung itu Sayang?" Tanya Erfan masih kurang yakin itu penyebab pertengkaran ayah dan anak itu.
Hira menggeleng tidak mengerti, tiba-tiba ponsel Erfan berbunyi, Tian yang menelponnya.
"Fan, aku gak bisa ke kantor sekarang. Dea pergi dari rumah." Ucap Tian terburu-buru dari seberang telepon setelah mengucap salam.
"Kenapa?" Tanya Erfan singkat sambil menatap istrinya agar Dea tidak curiga kalau dia yang sedang dibicarakan.
"Tadi malam Azmi menyelinap masuk ke kamar Dea. Aku memarahinya, pamitnya sama ibu sekolah. Tapi di sekolah tidak ada, aku masih mencarinya."
"Hm," Erfan hanya berdehem menjawabnya kemudian mematikan telepon.
Di seberang sana Tian berdecak karena tidak biasanya Erfan mematikan teleponnya sepihak.
"Kenapa Sayang?" Tanya Ressa, mereka masih berada dalam mobil di depan pintu gerbang sekolah Dea.
"Gak tau, Erfan matiin telepon gitu aja." Kesal Tian, mencoba menelpon lagi tapi malah di reject Erfan. Beberapa menit kemudian masuk notifikasi pesan. Erfan mengirim foto Dea sedang menyuapi Erra makan.
__ADS_1
"Jangan dijemput sekarang!" Isi pesannya, Tian menghela napas lega menyandarkan kepala di jok mobil sambil memejamkan mata.
"Dea ada di kantor Erfan Sayang. Kita pulang dulu, biar sementara Dea menenangkan diri di sana. Nanti aku akan meminta maaf padanya," ucap Tian. Dia juga perlu menenangkan diri.
Ressa ikutan menarik napas lega, mengucapkan syukur sebanyak-banyaknya. Mereka akhirnya pulang ke rumah.
Sementara di rumah Rina, Denis yang baru sampai langsung menatap bingung keadaan dapur yang berantakan.
"Ibu, apa yang sudah terjadi. Siapa yang mengamuk di rumah?" Tanya Denis khawatir melihat, makanan di meja itupun sepertinya belum tersentuh.
"Oh itu piring jatuh, ibu gak sengaja ke senggol." Jawab Rina, mereka sepakat menyembunyikan semua ini dari Aruna. Awalnya dia juga tidak diberi tahu masalah ini. Tapi dia memaksa menantunya bercerita saat kepergoknya membicarakan masalah Dea.
"Beneran ibu yang jatuhin piring?" Tanya Aruna menyelidik.
"Iya beneran," jawab Rina mulai cemas kalau ketahuan.
"Ibu, ada apa?" Tanya Tian yang ikut masuk berakting di depan Aruna. Ia akan membicarakan masalah ini hanya berdua dengan Denis.
"Ibu tadi lagi nyiapin sarapan kalian, tapi piringnya jatuh." Rina mengulang jawaban yang sama seperti diberikannya pada Denis.
"Ya sudah ibu duduk aja, biar Tian beresin." Ujar Tian, memang dia yang harus membersihkan. Karena dia yang mengamuk pagi tadi, sejak mereka tinggal di sana tidak ada art lagi yang membantu.
"Kenapa sampai mengamuk?" Tanya Denis to the point mereka memeriksa sekeliling rumah setelah sarapan bersama.
"Azmi tadi malam menyelinap ke kamar Dea." Ujar Tian seraya memeriksa jendela kamar Dea dari luar. Tidak ada bekas di congkel atau apapun. Kemungkinan jendela lupa dikunci tadi malam, jadi memudahkan Azmi masuk.
Denis tersentak kaget, "apa yang dilakukannya?"
"Taulah bagaimana putrimu itu, dia sudah terpesona dengan Azmi." Tian mendesah berat mengakui kenyataan bahwa putri kecilnya memang jatuh cinta pada pria dewasa yang brengsek itu.
"Kita pindah rumah, aku akan mencari rumah besar yang bisa kita tinggali bersama." Putus Denis, dia tidak bisa membiarkan Tian menjaga Deandra sendirian.
"Aku takut Denis, Dea bukan anak kecil lagi. Azmi sudah meracuni otaknya," lirih Tian dengan helaan napas berat.
"Tenanglah, kita akan menjaganya sama-sama. Jangan marah seperti ini lagi sampai membanting barang yang ada di sekitarmu. Itu akan membuat Dea semakin takut dan menjauh darimu."
"Aku bukan marah dengan Dea. Aku marah dengan diriku sendiri yang tidak bisa menjaga putriku dengan baik." Sahut Tian sendu, dia tidak menyalahkan Dea. Hanya tidak bisa mengontrol emosi saja pagi tadi.
__ADS_1