
Setelah tiga hari mengambil cuti dadakan Tian kembali ke kantor.
"Bagaimana pekerjakaanmu, Denis. Apakah menyenangkan?" Sapa Tian pada asistennya dengan senyuman licik.
"Sangat menyenangkan Pak," Denis tersenyum kecut.
"Jangan tersenyum sambil mengejekku begitu, Denis. Kamu tidak senang bosmu ini sudah mengakhiri masa lajangnya." Sergah Tian dengan tertawa kecil.
"Tentu saja senang bos," sanjung Denis. "Senang akhirnya penjahat kelamin berkurang satu orang di dunia ini." Lanjutnya dengan senyuman mengejek.
"Heh, aku bukan penjahat. Mana ada penjahat yang membayar lawan mainnya." Ujar Tian tidak terima.
"Lalu namanya apa?" Denis tertawa terpingkal-pingkal karena sudah berhasil memancing kemarahan pengantin baru itu.
"Kerja Denis, sebelum kupanggil algojo untuk membunuhmu." Geram Tian, nama ada asisten yang berani dengan bos sendiri kalau bukan Denis.
"Saya tidak makan gaji buta, Tuan." Sahut Denis lalu kabur dari sana sebelum benar-benar dipenggal Tian kepalanya.
__ADS_1
"Dasar asisten lucknut, ku kutuk kau jadi patung monas!" Teriak Tian kesal, pagi-pagi sudah dibuat naik darah. Sedang si pelaku cekikikan di ruangannya.
*
"Apa semudah itu orang asing dapat akses masuk ke ruanganku Denis!" Seru Tian tidak suka melihat Audrey yang ada di ruangannya. Dia sudah berbaik hati pada perempuan itu.
Kepalanya yang panas baru selesai meeting, membuat darahnya semakin mendidih. Apalagi kalau sampai Ressa tau dia bertemu Audrey, bisa gawat.
Denis hanya bisa menatap sang bos bingung. Biasanya Audrey bebas keluar masuk ke ruangannya. Apa secepat itu berubah jadi orang asing setelah menikah.
"Hei kenapa marah-marah, aku lagi ngidam pengen ketemu kamu. Apa lagi ada masalah perusahaan?" Audrey mendekati kursi Tian lalu memeluknya untuk menenangkan lelaki itu. Denis keluar ruangan memberikan waktu pada bosnya itu.
"Kangen banget," Audrey duduk di pangkuan Tian. Lelaki itu hanya diam saja, ingin melihat sejauh mana Audrey mampu berakting. "Kamu gak ada datang nyari aku lagi."
"Kan kamu yang bilang butuh waktu." Tian sudah bisa bersikap tenang, meninggalkan emosinya yang tadi menggebu-gebu.
Audrey menarik tangan Tian agar membelai perutnya. "Aku sudah pikirkan semuanya, aku mau nikah sama kamu."
__ADS_1
Tian diam saja, tidak menuruti kemauan Audrey. Membuat perempuan itu cemberut, "ayo kita nikah?" Ajaknya.
"Terlambat Audrey, setelah anak aku sudah gak ada di sini baru kamu mau menikah sama aku, hm." Ucap Tian dingin lalu menurunkan Audrey dari pangkuannya.
"Anak kamu masih ada di sini, Tian!" Audrey memekik histeris dengan mata berkaca-kaca karena tidak terima dengan tuduhan lelaki yang dicintainya.
"Kalau kamu pura-pura menangis untuk membodohi orang lain silahkan. Tapi aku tidak akan terpengaruh dengan apapun yang keluar dari mulut dan matamu." Tian menunjuk arah pintu keluar.
"Jangan pernah muncul di hadapanku lagi kalau masih ingin menghirup dunia ini lebih lama." Ucap Tian kemudian memanggil asistennya agar membawa Audrey pergi.
"Aku gak mau pergi, Tian. Kamu nuduh aku tanpa bukti. Di sini masih ada anak kamu!" Teriak Audrey.
"Denis, bawa keluar!" Titah Tian dingin.
Denis baru masuk ruangan dan belum mengerti dengan keributan yang terjadi. Dia menarik tangan Audrey agar mengikutinya.
"Lepas Denis, kamu cuma asisten di sini. Jangan sentuh aku!" Audrey semakin mengamuk histeris, untung ruangan itu kedap suara. Jadi tidak akan terdengar karyawan lain.
__ADS_1
Tian berdiri mendekati Audrey, lalu menyentuh dagu perempuan itu dengan lembut. "Kamu mau bukti, hm?"
"Tentu aku perlu bukti Tian, kamu sudah menuduhku sembarangan." Ujar Audrey menghapus air matanya. Ia sudah berhenti menangis melihat Tian mau mendekatinya.