Aksara Cinta

Aksara Cinta
209. Mimpi


__ADS_3

"Buba," sepulang sekolah Deandra langsung mendatangi kamar Ressa.


Sejak sang ayah pergi, ibu hamil itu jadi pendiam. Berbicara hanya seperlunya dan makan seadanya kalau memang benar-benar lapar. Tapi Dea selalu menemaninya sepulang sekolah, tidak membiarkan sang ibu sendirian terus mengajaknya bicara walah hanya dijawab singkat.


"Buba sudah sarapan?" Tanya Dea mendekati Ressa yang sedang memainkan ponsel menunggu-nunggu sang daddy menghubungi.


"Sudah Sayang," jawab wanita itu sambil tersenyum.


"Alhamdulillah. Buba kita jalan-jalan, mau? Pasti Buba bosan di kamar terus," ajak Deandra bergelayut manja di tangan wanita hamil itu.


"Buba malas jalan Sayang, bawa dedek berat." Ressa mengusap-usap tangan Deandra.


"Temani Dea berenang mau ya? Please Buba," mohon Deandra dengan memelas manja.


"Ayo," Ressa menuruti saja keinginan putrinya itu. Walau ia sangat malas bergerak, rasanya selalu rindu dengan sang suami. Selama satu minggu lebih ini Tian hanya beberapa kali menelponnya. Suaminya itu benar-benar disibukkan dengan urusannya.


Dea tersenyum lega karena buba-nya itu sudah mau keluar dari tempat pertapaan. Gadis berlarian riang berganti baju ke kamarnya.


"Buba, ayo berenang. Berenang banyak manfaatnya buat ibu hamil." Teriak Dea mengajak Ressa yang duduk santai di samping kolam renang.


"Enggak, Buba gak mau mandi basah." Tolak Ressa.


"Emang selama ini Buba mandi kering, hm." Goda Deandra sambil memain-mainkan air pada Ressa.


"Dea, jangan nakal Sayang. Buba nanti basah!" Seru Ressa berlari menjauh dari kolam renang menghindari kenakalan putrinya itu.


"Dea berhenti Sayang, Buba-mu bisa jatuh kalau berlari seperti itu." Tegur Aruna pada putrinya, ia membawakan cemilan dan minuman untuk dua orang itu.


"Ressa jangan lari-lari!" Aruna beralih menegur adiknya, perempuan hamil itu menyengir mendekati Aruna.


"Putrimu nakal, aku basah jadinya." Adu Ressa seraya duduk di samping Aruna menyerobot minuman dingin di atas meja.


Aruna menghela napas lega, ekspresi wajah yang selama hampir du minggu ini mendung akhirnya cerah kembali.


"Kamu juga suka meladeninya Sa, jadi dia semakin manja padamu."


"Ih, kok aku yang jadinya salah sih," ujar Ressa cemberut.


"Terus siapa yang pantas aku salahkan, hm." Goda Aruna sambil tertawa kecil.


"Buba peluk!!" Seru Deandra mendatangi Ressa dengan tubuh yang basah. Perempuan hamil itu membulatkan mata.

__ADS_1


"No.. No.. Honey, Buba gak mau ikutan basah!" Tolak Ressa berlindung di belakang Aruna. Gadis remaja itu tertawa gelak terus menggoda Ressa. Dia hanya ingin membuat buba-nya itu tidak hanya melamun menunggu sang daddy pulang.


"Dea, ganti baju gih. Jangan godain Buba-mu terus." Aruna menegur putrinya yang mulai jahil.


"Baiklah, tunggu Dea kembali." Katanya dengan senyuman cerah. Aruna tersenyum kecil pada putrinya yang semakin dewasa itu. Tanpa tau kalau Deandra sudah mengenal hal-hal dewasa sebelum waktunya.


***


"Dikabarkan penerbangan Emirates EK 30 yang membawa penumpang dari Bandar Udara Internasional London Heathrow (LHR) menuju Bandar Udara Internasional Dubai (DXB) mengalami hilang kontak pada pukul 18.05 waktu setempat. Sekarang masih dalam proses pencarian."


Ressa mematung melihat berita yang sekilas lewat di akun media sosial.


"Tidak mungkin," gumamnya menggeleng pelan. Itu pesawat yang ditumpangi suaminya setelah tadi siang berkabar akan segera pulang.


Tian pasti akan pulang dengan selamat. Suaminya pasti akan pulang dengan selamat. Ressa terus meyakinkan dirinya kalau sang suami baik-baik saja.


"Sayang, jangan tinggalin aku." Gumam Ressa dalam tidurnya.


"Tiaaaannn!!!" Teriak Ressa nyaring. Bertepatan matanya terbuka, keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya.


"Buba, ada apa?" Deandra langsung bangun mengambilkan air putih untuk ibunya.


"Daddy sudah sampai mana Sayang?" Tanya Ressa pelan, mengabaikan kerisauan di hatinya.


"Buba mimpi apa?" Tanya Dea cemas.


"Buba mimpi pesawat yang membawa Daddy hilang," ucap Ressa pelan membawa Deandra dalam pelukannya.


"Daddy pasti baik-baik aja, Buba." Dea menenangkan ibunya yang menangis. Walau dia juga ingin menangis karena takut apa yang ibunya itu bilang benar-benar kejadian.


"Buba demam?" Teriak Deandra panik saat menyadari tubuh dalam pelukannya itu bergetar. Gadis remaja itu membaringkan Ressa pelan, ia keluar kamar untuk membangunkan Daddy dan Mommy-nya yang ada di kamar seberang.


"Daddy, Mommy bangun please. Buba sakit!" Dea menggedor pintu sambil berteriak karena saking takutnya. Yang bangun lebih dulu malah sang nenek.


"Dea kenapa teriak malam-malam Sayang?" Tanya Rina yang terbangun mendengar suara teriakan keras cucunya.


"Buba sakit Nek, aku bangunin Mommy dulu."


"Biar nenek lihat Buba-mu duluan, Sayang." Rina bergegas mendatangi kamar putrinya.


"Daddy, Mommy!!" Teriak Dea lagi dengan suara yang lebih keras.

__ADS_1


Sedang di dalam kamar pasangan itu sedang mengarungi samudera kenikmatan. Tidak bisa mendengar teriakan dari luar lagi karena terserbu suara teriakan Aruna dan Denis yang saling bersahutan.


"Kenapa rasanya selalu membuatku gila Sayang." Denis menggendong Aruna ke kamar mandi. Mereka mandi bersama di dalam bathtub dengan senyuman cerah.


Dea yang tidak tau Mommy dan Daddynya sedang melakukan apa. Mengira mereka tertidur pulas. Dia kembali ke kamar mengambil ponsel lalu menelpon sang mommy tapi tidak ada jawaban. Ia mencoba menelpon Daddy-nya yang langsung di jawab.


"Ada apa Sayang?"


Yang Dea dengar bukan suara mengantuk, jadi kemana mommy-nya tadi. Kening Deandra sampai bertautan.


"Daddy habis ngapain sih, Dea gedor pintu dari tadi gak dengar ya?" Sarkas gadis itu kesal. Tangannya sampai merah dan pedas karena menggedor pintu.


"Maaf Sayang, Daddy tadi di kamar mandi." Jawab Denis tersenyum geli sambil melirik istrinya yang sedang mengeringkan rambut.


"Lalu Mommy kemana, ditelpon juga gak di jawab?" Tanya Dea penuh selidik.


"Mandi juga Sayang," jawab Denis polos. Tanpa tau putrinya sudah menggeram kesal.


"Bagus!! Besok nanti semua kamar yang kedap suara Dea pasang Bel!!" Sarkasnya jengkel, hatinya yabg tadi sangat takut sekarang jadi emosi.


"Sayang, Sayang ada apa. Kita satu rumah kenapa marah-marah di telpon." Tanya Denis mulai paham kalau putrinya sedang marah.


"Gimana Dea gak marah, pintu kamar Daddy aja gak dibuka dari tadi!!"


Denis langsung beranjak membuka pintu, wajah putrinya itu sudah tidak enak dipandang.


"Hei ada apa Sayang?" Denis menarik Deandra untuk masuk.


"Buba sakit, kalian malah enak-enakan di kamar!!'


"Sakit? Buba sakit apa Sayang?" Aruna melepaskan hair dryer di tangannya.


Sedang Denis segera membawa Dea ke gendongan. "Maaf," gumamnya, mereka ke segera pergi ke kamar Ressa.


"Ressa kenapa Bu?" Tanya Aruna cemas.


"Demamnya lumayan tinggi Ru, sekarang menggigil." Jawab Rina seraya mengompres putrinya.


"Kalian tenang dulu, aku panggilkan dokter." Ujar Denis menurunkan Dea lalu menelpon dokter untuk datang ke rumahnya. Ressa masih menggumamkan nama Tian dengan mata terpejam.


"Buba sempat ngomong apa Sayang, kenapa terus memanggil Daddy-mu?" Tanya Aruna seraya memeluk Deandra.

__ADS_1


"Buba bilang mimpi pesawat yang Daddy tumpangi hilang," ucap Dea sendu. Tiga orang dewasa itu langsung menegang seketika. Firasat seorang istri biasanya lebih peka akan hal buruk yang terjadi pada suaminya. Apalagi Ressa sedang hamil.


__ADS_2