
Jeri mendatangi rumah orang tua Audrey, mereka mau meminta ijin untuk menikahi. Sampai di sana, kedatangan mereka tidak diterima dengan baik. Bahkan mereka tidak diajak masuk ke rumah.
"Mau apa datang ke rumahku lagi?" Tanya Ayah Audrey tidak ramah. Sang anak hanya menundukkan kepala, tidak berani menatap ayahnya yang masih marah.
"Saya mau meminta ijin untuk menikahi Audrey, Om. Semoga Om berkenan menjadi wali Audrey." Jawab Jeri dengan tenang, mereka berbicara di depan teras sambil berdiri. Sungguh meminang putri orang yang paling tidak sopan.
"Akan ku wakilkannya kepada wali hakim. Aku tidak ingin mengurusnya lagi," ucap ayah Audrey dingin.
"Ayah, jangan begitu. Audrey masih putri kita." Sela sang istri, Bunda Audrey.
"Dia sudah bukan putriku lagi!!" Sarkas sang ayah, menyuruh istrinya masuk dan menutup pintu dengan kasar.
Audrey tersenyum tipis, dia sudah menduga ini akan terjadi. Ayahnya tipe orang yang keras walau sebenarnya sangat penyayang.
"Ayo kita pulang," ajak Audrey. Mengambil tangan Jeri, menggandengnya sampai ke mobil. Jeri menepuk-nepuk tangan mungil itu, pasti sangat sakit diperlakukan tidak baik oleh ayah kandung sendiri.
"Ada aku Sayang," Jeri memeluk Audrey. Hatinya saja terasa ngilu melihat penolakan calon mertuanya itu.
"Aku gak papa, ayo kita kembali ke apartemen." Audrey meyakinkan Jeri.
Jeri mengangguk, mengurai pelukannya. Dia lah yang sudah menjebak Audrey sampai jadi sehancur sekarang ini.
__ADS_1
"Ketemu ibuku dulu, mau?" Ajak Jeri, "setelah ini kita siapkan pernikahan kita."
"Cukup akad nikah aja, aku gak mau ada resepsi." Pinta Audrey, dia malu kalau keluarganya tidak mau datang nanti. Pasti akan jadi pemberitaan heboh. Terlebih dia masih dikenal sebagai model.
"Senyamannya kamu aja Sayang," Jeri mengusap kepala Audrey.
Hal yang sangat dia ingin hindari ternyata membuatnya terjebak. Dulu ia tidak pernah terpikir ingin menikahi Audrey. Menjadikan perempuan ini hanya sebagai pelampiasannya karena sangat membenci Tian.
Namun setelah melihat Audrey yang hancur membuat hatinya bergejolak. Entah itu apa, mungkin cintanya sudah mulai tubuh namun tak pernah ia sadari karena tertutup oleh keangkuhan.
"Ibu kamu gak galakkan, aku takut."
Jeri terkekeh kecil, menjalankan mobilnya. "Gak semua calon mertua itu galak Audrey."
"Masih kepikiran Ayah?" Tanya Jeri, Audrey mengangguk pelan.
"Harusnya aku menemui orang tuamu sejak pertama kali mengetahui kehamilanmu. Bukan malah menyuruhmu mengatakan itu anak Tian," sesal Jeri menggenggam tangan Audrey lalu mengecupnya.
"Saat itu yang kupikirkan hanya dendam. Yang ada di otakku hanya cara-cara melumpuhkan Tian. Padahal dia tidak pernah mengusikku."
"Kenapa kamu sangat membencinya Jeri?" Tanya Audrey serius.
__ADS_1
"Karena dialah pewaris keluarga Adley sesungguhnya," jawab Jeri pelan.
Audrey memiringkan posisi duduk, ingin mendengarkan penjelasan yang lebih lengkap. Dia baru tau kalau Jeri dan Tian bersaudara.
"Jangan kaget seperti itu, Tian memang kakak sepupuku." Kekeh Jeri sebelum Audrey mengajukan pertanyaannya.
"Aku memang serakah ingin mengambil semua yang Tian miliki termasuk istrinya." Jeri tersenyum melepaskan genggaman tangannya mengelus pipi Audrey, "kamu juga salah satunya. Karena aku tau diantara banyak perempuan yang dijadikan partner ranjang Tian, kamulah yang paling disayanginya."
Jeri menjeda ucapannya, dia seperti remaja yang baru pernah merasakan cinta. "Aku ingin meninggalkanmu, tapi saat melihatmu terluka aku tidak bisa, Audrey. Saat itulah aku bertekat untuk menjaga dan mencintaimu sepenuh hatiku. Aku tidak peduli kamu masih mencintai orang yang paling aku benci itu."
"Terimakasih sudah mau menerima bekasan musuhmu ini," Audrey tersenyum tipis.
Lelaki itu menggeleng pelan, "orang yang mencintai tidak pernah mempermasalahkan masalalu kan. Aku juga memiliki masalalu Sayang, sangat egois kalau aku menginginkan perempuan yang belum pernah disentuh siapapun. Mungkin kalau begitu aku harus menikah dengan bayi perempuan yang baru lahir." Gurau Jeri untuk melepaskan ketegangan Audrey. Perempuan itu tertawa kecil.
"Hei, aku serius kenapa malah bercanda!" Serunya mencubit tangan Jeri.
"Kamu tegang banget, kayak duduk di samping monster aja."
"Aku takut!" Ujar Audrey cemas.
"Apa yang kamu takutkan, Sayang." Jeri memarkirkan mobil di depan rumahnya, menggenggam tangan Audrey erat.
__ADS_1
"Kalau ibumu tidak suka padaku gimana?" Tanya Audrey sendu, "apa aku harus pergi darimu."
"Kita coba dulu Sayang, jangan khawatir berlebihan seperti itu." Jeri mengajak Audrey untuk keluar dari mobil.