Aksara Cinta

Aksara Cinta
196. Barbeque


__ADS_3

"Bu kita barbequean di samping kolam renang gimana?" usul Jeri saat kembali ke ruang tengah.


"Ide bagus, dah sana kalian temani Dea berenang. Biar Ibu yang siapkan."


Ibu Jeri meminta pelayannya menyiapkan meja di samping kolam renang untuk mereka barbequean sambil menonton cucunya berenang.


"Ayo Dea kejar Daddy!!" Teriak Denis dari dalam air. Dea menggeleng dia lebih memilih duduk di pangkuan Tian, karena sudah puas berenang bersama sang daddy dan om-nya.


"Baju kamu kentat banget Sayang," Tian melonggarkan baju renang Dea yang menempel karena basah.


"Namanya juga baju renang Daddy, mau longgar pake jubah Buba." Jawab Dea dengan tawa kecil.


Jeri benar putrinya bukan anak kecil lagi yang bisa di pangku dan cium sesuka hati. Pantas saja ada orang tua yang tega menodai putrinya. Karena bukan perkara tidak memiliki rasa sayang. Tapi nafsu dan respon tubuh yang kadang sulit dihentikan.


"Gak boleh nolak," Denis menarik gadis itu lalu membawanya berenang ke tengah sambil tertawa.


"Daddy curang!!" Teriak Dea ikut tertawa.


Tian jadi semakin risau atas apa yang Jeri ucapkan tadi.


"Ada apa?" Tanya Ressa yang dapat merasakan kegelisahan suaminya.


"Aku mau cerita tapi kamu janji jangan marah," ucap Tian pelan.


"Emang ada apa?" Ressa mengernyit mendengar kalimat yang Tian ucapkan.

__ADS_1


"Aku takut," lirih Tian. "Dea bukan anak kecil lagi Sayang. Pantas saja Azmi tergila-gila padanya."


"Kita tidak bisa membawanya tidur bersama lagi," lanjut Tian. Ressa bisa mengerti, Tian tidak pernah menemani Dea dari kecil. Jadi ingin memperlakukannya seperti anak kecil. Tapi ternyata putrinya itu lebih cepat dewasa sebelum waktunya.


"Bagaimana aku memberitahunya agar tidak merasa diabaikan."


"Kita kasih tau pelan-pelan Sayang," Ressa menenangkan suaminya. Tian menarik Ressa dalam pelukan. "Kamu gak harus meluk aku juga, jadinya kan basah." Rengek istri Tian itu. Sang suami mengerling jahil turun ke kolam renang, lalu menarik Ressa.


"Sayang basah!" Pekik Ressa yang mengundang perhatian. Lalu mereka tertawa melihat keusilan Tian mengerjai istrinya. Tian tidak mempedulikan teriakan itu. Meminta Ressa naik ke punggungnya lalu membawa berenang mendatangi Dea.


"Daddy, kenapa Buba diajak berenang dengan pakaian seperti itu. Kan berat, buba bisa tenggelam!" Teriak Dea panik.


"Buba ada di atas Daddy Sayang, gak akan tenggelam." Tian menurunkan istrinya, "nanti belikan pakaian yang longgar buat Dea, Sayang." Bisik Tian di telinga Ressa, istrinya itu mengangguk mengerti.


"Bubamu kedinginan Sayang, ayo kita naik." Ajak Tian yang di setujui Dea, Jeri sudah berganti pakaian lebih dulu bergabung bersama para wanita di atas sana.


"Bibi, aku pinjam baju buat Ressa!" Teriak Tian.


"Pinjam sih pinjam, tapi aku gak ada pakaian dalam juga. Ngapain sih pake nyeburin aku segala." Omel Ressa kesal, Tian terkekeh geli.


"Gak usah pake gak papa Sayang, biar lebih menggoda." Ujar Tian usil, membawa istrinya ke kamar mandi.


"Sayang, Dea mandi sama siapa?" Tanya Ressa yang membuat Tian panik.


"Astaga, Denis." Tian bergegas kembali ke kolam renang. Otaknya masih parno dengan ucapan Jeri tadi. Sesampainya di halaman kolam renang, ternyata Dea masih berdiri di sana sambil mencicipi daging barbeque.

__ADS_1


"Sayang, ayo mandi sama Buba dulu. Nanti sakit, kedinginan." Ujar Tian menjemput putrinya. Membawa ke kamar mandi, Ressa sudah menunggu di sana.


"Mandi sama Buba ya Sayang."


"Daddy, Dea sudah besar bisa mandi sendiri. Biar Buba yang mandi duluan," usul Dea yang di setujui Tian. Selesai mandi mereka kembali menyusul yang lain untuk makan bersama.


"Sudah puas berenangnya Sayang?" Jeri merangkul keponakannya mendekati Aruna yang sedang membolak-balik daging.


"Hari ini sudah puas, tapi nanti mau lagi." Jawab Dea dengan cengiran.


"Nanti Om temani, tapi minta belikan Daddy baju renang yang longgar ya Sayang. Mulai sekarang Dea gak boleh pake pakaian kentat dan rok pendek lagi." Beritahu Jeri dengan lembut.


"Kenapa?" Tanya Dea. Tiba-tiba orang-orang dewasa itu bersikap lebih protektif padanya.


"Coba tanya Buba kenapa Dea gak boleh pake pakaian kentat." Jeri melempar pertanyaa pada Ressa. Si empunya langsung melotot karena disuruh menjawab.


"Biar auratnya terlindungi Sayang, karena menutup aurat itu wajib bagi muslimah." Jawab Ressa pelan takut yang lain tersinggung, karena cuma dia yang berhijab di sana. Dia pun baru belajar, jadi tidak berani bicara banyak.


"Apa Dea harus berhijab juga?" Tanya Dea pada Ressa. Perempuan itu menatap sang suami meminta pertolongan. Kenapa dia jadi seperti tersangka begini, semua mata tertuju padanya.


"Kalau Dea tidak keberatan, karena setiap helai rambut Dea yang terlihat oleh lelaki bukan mahram itu Daddy yang menanggung dosanya." Jawab Tian setaunya saja, dia bukan ahlinya masalah agama.


"Boleh Dea coba pelan-pelan dulu?"


"Of course Honey," Tian tersenyum bangga pada putrinya. Semoga ketakutannya tidak pernah terjadi dan Allah mengampuni segala dosa-dosanya dimasalalu.

__ADS_1


__ADS_2